Kerusuhan Sambas tahun 1999 memaksa Kurniati dan keluarganya hijrah ke Pontianak. Berbekal kemampuan menenun, ia bertahan hidup dan menjadi sukses. Pun di era digital, saat usianya menua, ia tak hilang kemampuan beradaptasi.
RUMAH Kurniati di Gang Sambas Jaya itu posisinya cukup strategis. Tak jauh dari gerbang gang yang menghadap Jalan Khatulistiwa, akses utama dari Pontianak ke kota-kota lain di Kalimantan Barat. Letaknya di Kelurahan Batu Layang, Pontianak Utara. Hanya sepelemparan batu dari Tugu Khatulistiwa. Dari rumah ini Kurniati dan ibu-ibu di Gang Sambas menghasilkan ribuan karya. Dari sini pula virus menenun itu muncul dan menyebar.
Saat Pontianak Post berkunjung, sang empunya rumah, sedang fokus menenun di belakang rumahnya. Ia dibantu dua perempuan lain.
Pola tenunnya adalah corak insang, motif khas Melayu Pontianak. "Motif ini tergantung pesanan. Saya punya buku katalog motif tenun dari seluruh Nusantara. Kadang saya juga gambar sendiri," ujar perempuan 45 tahun ini.
Kediamannya sendiri ia dedikasikan untuk kampung tenun yang ia rintis sejak dua dekade terakhir. Bagian belakang rumahnya dijadikan bengkel tenun. Ada lima alat pemintal di sini. Sedangkan di halaman rumahnya berdiri galeri tenun, bantuan dari Pertamina. Tak hanya kain tenun yang dipajang di situ, tetapi juga kerajinan lain dan camilan bikinan penduduk kampung.
Kurniati semringah. Pasca-pandemi usaha tenun songket yang ia geluti kembali normal. "Alhamdulillah sekarang sudah lancar.
Bahkan bisa dibilang kami panen. Karena songket-songket yang tiga tahun tak laku habis diborong," ujarnya sembari memintal benang.
Nama Sambas pada gang itu lantaran hampir semua warga di sini adalah eks-pengungsi konflik antar-etnis di Kabupaten Sambas tahun 1999. Kurniati ingat betul. Kala itu ia masih gadis berusia 20 tahun. Saat tragedi itu pecah, ia dan keluarganya menjadi bagian dari puluhan ribu orang yang tinggal di kantong-kantong pengungsian di Pontianak. Lantaran tak betah, ia dan keluarganya pun mengontrak rumah.
Demi membiayai sewa rumah dan makan sehari-hari, berbekal kemampuannya menenun, ia pun memulai usaha ini. "Saya dari kecil sudah menenun, karena keluarga di Sambas juga memang kerjanya menenun. Sampai sekarang kami masih berhubungan baik dengan penenun asli sana," sebut perempuan kelahiran 1978 ini.
Modal awalnya Rp60.000. Itupun dari tabungan terakhir keluarganya. Uang tersebut ia belikan alat pemintal sederhana. Dasar punya bakat, ia kemudian mampu menghasilkan kain-kain songket berkualitas. Segera ia mempunyai pelanggan tetap.
Ternyata permintaan terhadap songket Sambas sangat tinggi. Kurniati mulai menarik minat kaum perempuan di Gang Sambas Jaya untuk belajar menenun. Kini ada 35 penenun di tempat ini.
Sebagian dari mereka ia modali dengan alat tenun. Kurniati menjadi penampung produknya. Ada pula yang menjadi karyawannya. Di pabrik mininya, ia punya enam alat tenun. Belum lagi yang dititipkan ke rumah karyawannya.
Hasilnya lumayan. "Omzet kotor saya pribadi satu bulan bisa Rp30-60 juta. Tergantung ramai atau tidaknya. Kadang-kadang kalau ada event besar bisa Rp150 juta," tukasnya.
Secara kuantitas, produksi songket di sini memang tak banyak. Lantaran pembuatan satu lembar kain membutuhkan waktu paling cepat seminggu. "Tapi karena buatan tangan, harganya tinggi. Dari sejutaan sampai belasan juta rupiah (per helai). Yang belasan juta itu pakai pewarna alam," imbuh ibu tiga anak ini.
Adaptasi digital
Pandemi Covid-19 telah mengubah cara Kurniati berbisnis. Wabah Corona seketika membuat jualan yang dipusatkan di outlet depan rumahnya sepi. Demi membiayai produksi dan gaji karyawan, ia harus menggadaikan harta bendanya. "Segala emas saya gadai. Mereka (karyawan) kan harus bergaji, walaupun saya tidak ada pemasukan," sebutnya.
Itu pun tidak cukup. Beruntung, dengan reputasi Kurniati, kampung tenun di sini mendapat perhatian dari sejumlah pihak.
Salah satunya PT Pertamina Patra Niaga. Kurniati dan kelompoknya mendapatkan bantuan pembiayaan, pembinaan dan pelatihan, hingga pemasaran dari perusahaan merah ini. Lewat CSR-nya, Pertamina bahkan turut membantu pembangunan galeri produk di halaman rumah Kurniati, gapura gang, sampai jembatan penghubung di kampung tersebut. “Bantuan yang diberikan Pertamina sangat membantu kami untuk bangkit, bahkan semakin maju,” ujar dia.
Lewat Pertamina pula, ia dan kawan-kawan mendapat ilmu memasarkan produk secara digital. Pembelinya kini tak hanya dari Pontianak dan Kalimantan Barat saja, melainkan mancanegara. Tercatat ia sudah menjual kain tenun hingga Malaysia, Jepang, Kanada, Korea, Hongkong, India, Qatar hingga Amerika Serikat. "Ternyata memasarkan lewat e-commerce dan media sosial ada manfaatnya. Pembeli saya bahkan ada yang dari luar negeri seperti. Walaupun tak sebesar jual langsung, tapi saat pandemi kemarin cukup membantu," sebutnya.
Kurniati berbagi tugas dengan anak-anaknya untuk pemasaran digital. Ia menangani akun Facebook.Sementara anak-anaknya bermain di Instagram dan sejumlah e-commerce. Ia juga menggunakan QRIS untuk pembeli yang langsung datang ke rumahnya.
Popularitas kerajinan tenun turut memunculkan kreativitas baru bagi masyarakat setempat. Salah satunya dengan membuat paket-paket wisata.
Apalagi UNESCO telah menetapkan songket Sambas sebagai warisan kebudayaan dunia, sehingga keingintahuan orang terhadap tenun Sambas kian besar.
Kini Gang Sambas melabeli diri sebagai Kampung Wisata Tenun Khatulistiwa juga menawarkan sejumlah paket wisata. Terlebih Gang Sambas Jaya letaknya cukup strategis. Jaraknya hanya lima menit dari Tugu Khatulistiwa, ikon Pontianak.
Bulan Juli lalu misalnya, Kurniati kedatangan rombongan turis dari negara Qatar. Untuk paket wisata menenun, setiap tamu membayar Rp125 ribu.
"Mereka diajari menenun. Lalu ada cinderamata syal tenun untuk tiap orang. Mereka juga dapat rebusan pangan lokal seperti ubi, kacang, pisang, dan jagung. Mudah-mudahan wisata di sini ramai terus," pungkasnya.
Kisah inspiratif Kurniati dan kampung tenunnya membuat penasaran Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati. Pada Sabtu, 2 September 2023 lalu ia datang langsung ke rumah Kurniati di Gang Sambas Jaya. Di sana, Nicke turut berbaur dengan warga setempat. Ia juga tampak antusias belajar menenun.
Semangat Kurniati dan ibu-ibu di kampung tenun itu membuatnya gembira. “Saya bangga sekali, karena pengrajin ini menyerap tenaga kerja banyak khususnya ibu-ibu,” ujar orang yang masuk dalam daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia tahun 2022 versi Forbes tersebut dilansir dari Energia TV.
Lebih-lebih, kata Nicke, kampung tenun ini bisa bertahan dan tetap tumbuh selama pandemi Covid-19.
“(Kurniati) tetap bisa mempertahankan bisnisnya ketika pandemi melambat. Pertamina kemudian membantu melakukan pembinaan hingga pemasaran dari kerajinan ini. Dan kini sudah bisa ke mancanegara. Luar biasa. Tentu kita bangga, dan berharap banyak Kurniati lain sebagai local hero," ungkapnya. Pertamina sendiri turut andil di kampung tenun ini. Manager Integrated Terminal BBM Pertamina Patra Niaga Pontianak, Yudistira Chandra Bagus mengatakan, Kampung Tenun Khatulistiwa Pontianak merupakan binaan pihaknya sejak beberapa tahun silam.
Yudistira menuturkan, bantuan yang Pertamina berikan berupa fasilitas fisik seperti galeri, gapura, dan jembatan. Selain itu diberikan pula bantuan pembiayaan serta sejumlah pelatihan, hingga bantuan pemasaran.
“Pelatihannya tidak hanya belajar menenun serta pemasaran, tetapi juga ada belajar Bahasa Inggris, kursus kecantikan, dan lain-lain. Kami juga membawa produk tenun ini ke berbagai pameran nasional," ungkapnya.
Kampung Tenun Khatulistiwa sendiri adalah satu dari puluhan ribu penerima program CSR Pertamina. Pada tahun 2022, program Pertamina telah menjangkau ke sekitar 45.000 masyarakat penerima manfaat.
Di antaranya, program kesehatan untuk 17.000 Ibu dan anak, dalam aspek kemandirian 14.000 UMKM perempuan penerima manfaat, dalam aspek pangan sosial 12.000 Kepala Keluarga penerima manfaat, serta dalam aspek penyerapan terdapat 4.000 tenaga kerja.
Sedangkan, aspek pemberdayaan terdapat 2.600 petani dan nelayan, dalam aspek pendidikan terdapat 1.500 pelajar penerima manfaat, dan dalam aspek pemberdayaan terdapat 500 disabilitas penerima manfaat. (Aristono)
Editor : izak-Indra Zakaria