Hidup di daerah yang kaya akan sumber daya alam tidak menjamin masyarakatnya hidup sejahtera. Ini tergambar pada kehidupan masyarakat Dusun Pemuatan Batu, Desa Nanga Kelampai, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang. Berikut laporannya.
ARIEF NUGROHO, Tumbang Titi
Pagi itu, Sabtu (24/7), warga Dusun Pemuatan Batu, Desa Nanga Kelampai sedang bersuka cita. Mereka berkumpul di halaman sekolah, bersiap menerima bantuan hewan kurban, seekor sapi, dari PT. Sultan Rafli Mandiri (PT. SRM), perusahaan tambang emas yang menguasai izin kelola hampir 100 hektare di wilayah itu.
Sejatinya, Desa Nanga Kelampai adalah daerah yang kaya akan kandungan logam mulia, berupa emas. Potensinya mencapai puluhan ton. Namun, kekayaan alam yang ada itu tidak bisa dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
Hari itu, Pontianak Post berkesempatan mengunjungi daerah itu. Lokasinya berada sekitar 400 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat, Pontianak. Untuk bisa tiba ke lokasi itu, mobil yang kami tumpangi harus melintasi jalan tanah yang berdebu, di antara perkebunan sawit yang luasnya hampir sejauh mata memandang.
Menjelang tengah hari, kami tiba di dusun tersebut. Sepintas, dusun yang kaya akan logam mulia itu tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah di pedalaman Kalimantan Barat pada umumnya.
Terisolir dan jauh dari jangkauan kota. Untuk ke ibu kota kabupaten saja, Ketapang, warga harus menempuh perjalanan sekitar empat jam. Tentu dengan melalui rute jalan yang berat. Melintas perkebunan sawit dan hutan.
Kehidupan Masyarakat Dusun Pemuatan Batu jauh dari kata sejahtera. Sebagian besar masyarakatnya mengandalkan pertanian dan perkebunan. Sebagian lagi menjadi buruh perusahaan perkebunan sawit maupun perusahaan tambang emas yang ada di desa mereka.
Meskipun hidup di atas lumbung emas, tidak serta merta hidup mereka sejahtera.
Dusun ini baru saja menikmati penerangan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada tahun 2018 lalu. Sebelumnya, mereka hidup dalam kegelapan. Hanya lampu pelita yang bisa menerangi malam-malam mereka.
“2018 lalu, kami baru ada listrik. Sebelumnya pakai pelita,” ujar Antonius, warga Dusun Pemuatan Batu, Desa Nanga Kempai.
Menurutnya, warga dusun pernah megajukan penerangan ke PLN setempat. Namun, karena jumlah konsumsi listrik belum mencukupi, maka harapan untuk mendapatkan penerangan pun kandas.
“Dulu kami minta bantuan ke perusahaan. Kami dikasih dua mesin genset. Tapi bagi kami cukup berat, karena kalau ada kerusakan, maka kami yang harus menanggung,” bebernya.
“Setelah ada perusahaan (PT. SRM), kami dibantu untuk mendapatkan listrik dari PLN,” sambungnya.
Tidak hanya penerangan, kata Antonius, perusahaan juga membantu memperbaiki sarana prasarana, seperti rumah ibadah, sekolah, jalan dan pembangunan jembatan.
“Saya seperti mimpi. Di dusun terpelosok seperti ini, kami memiliki jembatan yang bagus. Dulu untuk keluar masuk ke kampung, kami menggunakan jembatan kayu, yang hanya cukup untuk motor. Sekarang jembatannya sudah putus,” bebernya.
Kepala Desa Nanga Kelampai Radinus Tasius mengatakan, sejak lama, Desa Kelampai dikenal dengan logam mulia berupa emas. Bahkan, tidak sedikit dari warga desa dan pendatang berprofesi sebagai penambang liar. Jumlahnya mencapai ribuan orang.
“Saya dulu juga penambang. Ada juga yang dari Tasik Malaya (Jawa Barat). Mereka tinggal di hutan-hutan,” bebernya.
Menurut Tasius, setiap hari, ia atau warga bisa mendapatkan keuntungan minimal Rp1 juta dari menambang emas. Namun, sekarang sudah jauh berkurang. “Sekarang masih ada warga yang menambang, tapi jauh berkurang,” lanjutnya.
Sementara itu, CSR Officer PT Sultan Rafli Mandiri(PT. SRM), Asep P. Saputra mengatakan, bantuan satu ekor sapi kepada warga tersebut merupakan program Coporate Social Responsibility (CSR) yang bertepatan dengan momen Iduladha.
“Ini merupakan bagian dari CSR perusahaan untuk masyarakat. Hewan kurban itu beratnya sekitar 500 kilogram, dan setelah dilakukan penyembelihan daging sapi akan dibagikan kepada warga,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak 2018 PT SRM telah banyak menggelontorkan bantuan kepada warga Desa Nanga Kelampai, baik berupa perbaikan sarana prasarana seperti rumah ibadah, jalan dan jembatan. Bahkan penerangan listrik PLN.
“Kedepan, kami berencana membuat gorong-gorong, agar air mengalir lancar untuk menghindari terjadi banjir dan akan memperhatikan kesehatan ibu hamil dan lansia,” ujarnya.
Selain mengunjungi Dusun Pemuatan Batu, saya berkesempatan mengunjungi lokasi pengeboran emas PT. Sultan Rafli Mandiri, yang beberapa bulan lalu sempat berkonflik dengan masyarakat Desa Kelampai, karena sengketa lahan.
Waktu itu, warga mendatangi perusahaan. Massa langsung merangsek masuk secara paksa ke dalam perusahaan dengan merusak pintu gerbang. Mereka mencoba mematikan mesin tambang yang dioperasikan oleh perusahaan.
Selain itu, warga juga melakukan penyerangan terhadap karyawan perusahaan yang sebagian besar adalah warga negara asing (WNA) asal Tiongkok. Mereka terpaksa dievakuasi dari lokasi pertambangan emasi ke Ketapang.
Tidak mudah bisa masuk ke perusahaan, selain dipagari dengan kawat, perusahaan tersebut juga di jaga ketat oleh Satuan Brimob bersenjata lengkap. Setidaknya ada pos penjaga. Lokasi penambangan tersebut terdiri dari beberapa barak penampungan karyawan dan juga tepat produksi. Di antaranya terdiri dari 12 tong, yaitu depalan tong skala sedang dan empat tong skala besar. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria