Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Desa Ini Menuju Musnah, Terus Terkikis Abrasi dan Terancam Tenggelam

izak-Indra Zakaria • 2023-09-12 09:34:30
Sejumlah anak-anak berjalan melintasi jalan umum yang rusak akibat abrasi air laut di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakadai, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (7/9). (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)
Sejumlah anak-anak berjalan melintasi jalan umum yang rusak akibat abrasi air laut di Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakadai, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (7/9). (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Hampir setiap waktu daratan terkikis oleh abrasi. Gelombang pasang surut air laut menjadikan dataran menjadi genangan. Puluhan rumah dan bangunan hilang. Begitulah gambaran kondisi Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, yang terancam tenggelam.

Arief Nugroho, Kubu Raya

SIANG itu, Lana, bocah berusia 8 tahun itu terlihat asyik bermain di bibir pantai yang berjarak sekitar 10 meter dari rumahnya. Ia melompat ke sana-kemari, menikmati riak-riak ombak kecil, yang sejatinya dapat membesar dan melumat apapun di hadapannya. Sesekali ia duduk. Pandangan matanya jauh menantap laut.

Lana dan beberapa teman sebayanya memang terbiasa main di sekitar pantai, yang sebelumnya merupakan daratan yang berpenghuni.“Kami biasa main di sini, setiap pulang sekolah,” kata Lana kepada Pontianak Post, Kamis (7/9).  Lana merupakan murid kelas 2 Sekolah Dasar Negeri 12 Teluk Pakedai. Sekolah dasar itu merupakan satu-satunya sekolah dasar yang ada di Desa Kuala Karang.

Kondisinya tak kalah memprihatinkan pasca diterjang gelombang pasang air laut tahun lalu. Beberapa ruang terpaksa dikosongkan karena dalam kondisi rusak parah. Murid-murid pun belajar di ruangan yang tersisa.

Letak geografis Desa Kuala Karang yang berada persis di pesisir dan berhadapan langsung dengan Laut Natuna menjadikan daerah itu rentan diterpa gelombang pasang surut air laut. Terutama pada awal dan akhir tahun.

 Tidak banyak yang bisa dilakukan warga, selain pasrah dan bertahan. Ketika Pontianak Post mengunjungi desa itu, tampak puing-puing bangunan berserakan di sekitar pemukiman. Tidak hanya rumah penduduk yang rusak dan hilang, puskesmas pembantu (pustu), sarana kesehatan di desa itu pun tinggal puing.

Untuk tiba di Desa Kuala Karang dapat ditempuh menggunakan dua jalur, yakni jalur air dan jalur darat. Waktu tempuhnya sekitar tiga hingga empat jam.

Jalur air yakni dengan menggunakan transportasi kapal klotok atau speedboat. Sedangkan jalur darat, hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua. Maklum, akses menuju desa itu masih cukup sulit. Jalan yang kami dilalui pun berupa rabat beton dengan lebar 1,5 meter. Itu pun dengan kondisi berlubang-lubang.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang empat jam, kami pun tiba di sana. Sisa-sisa genangan pasang surut air laut masih membekas. Kami kemudian menyempatkan diri mengunjungi SDN 12 Teluk Pakedai, yang lokasinya hanya berjarak 25 meter dari bibir pantai.

“Dulu, di depan sana ada pemukiman. Tapi sekarang sudah menjadi lautan,” ujar Marjamah, salah satu guru di SD itu.

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir abrasi sudah terjadi di beberapa titik di Kuala Karang, termasuk di sekitar SDN 12 Teluk Pakedai.

Ia bahkan tidak pernah lupa apa yang terjadi pada sekolahnya itu. Banjir rob yang terjadi tahun lalu merendam hampir seluruh ruangan, termasuk ruang guru. Buku dan berkas-berkas penting hilang tak bersisa. Hanya sebagian buku di ruang perpusatakaan yang bisa diselamatkan.

Setiap banjir rob datang, ia bersama guru dan murid harus membersihkan lumpur dan pasir yang mengendap di lantai dan dinding sekolah.

“Sebenarnya sekolah ini sudah tidak layak karena selalu digenangi banjir rob dari laut sejak 2019,” kata Marjamah.

Ketika sudah masuk musim air pasang dan ombak besar yang biasanya terjadi sekitar Oktober hingga Desember, pihak sekolah terkadang membuat kebijakan melakukan proses belajar mengajar secara daring.

“Karena kalau tetap memaksakan diri untuk tetap belajar di sekolah, kami khawatir sewaktu-waktu bisa saja sekolah kami kembali diterjang ombak. Untuk memberi rasa aman, kami berlakukan proses belajar mengajar secara daring,” ungkapnya. Ia berharap, SDN 12 Teluk Pakedai bisa segera direlokasi ke daerah yang lebih aman dari abrasi. “Semoga sekolah ini bisa dipindahkan ke tempat yang aman. Kasihan anak didik kami,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Kuala Karang, Ibrahim Muhammad Yusuf mengatakan, ada lebih dari 110 rumah penduduk yang mengalami kerusakan akibat diterjang gelombang pasang air laut yang terjadi pada pengujung tahun lalu. Ia meyakini pasang surut air laut tahun ini akan memperparah kondisi Desa Kuala Karang, termasuk SDN 12 Teluk Pakedai.

“Ini sudah mulai. Jika tidak segera direlokasi, banjir rob tahun ini akan memperburuk kondisi sekolah,” katanya. Saat ini pihaknya terus berupaya mencari solusi untuk merelokasi puluhan rumah warga yang rusak akibat terjangan gelombang pasang air laut tersebut. Menurutnya, beberapa fasilitas umum juga mengalami kerusakan cukup berat. Selain pustu dan sekolah, rumah ibadah, dan jalan umum juga rusak. Bahkan, kantor desa juga ikut terdampak. 

Mengingat pustu sudah rusak parah, pelayanan kesehatan terpaksa menumpang di rumah warga desa setempat.

Ibrahim menyebut, salah satu kendala dalam merelokasi rumah warga yakni adanya persoalan status kawasan.  Pasalnya, lebih dari 80 persen wilayah Kuala Karang termasuk dalam kawasan hutan lindung.

“Tapi alhamdulillah, sekarang sebagian kawasan sudah dibebaskan. Termasuk tempat relokasi sekolah SDN 12 Teluk Pakadai,” pungkasnya. (*) 

Editor : izak-Indra Zakaria