Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Upaya Pertahankan Status Internasional Bandara Supadio, Pj Gubernur Siap Temui Menhub

izak-Indra Zakaria • 2023-09-23 12:32:04
Bandara Supadio.
Bandara Supadio.

 Wacana pergantian status Bandar Udara (bandara) Supadio dari internasional menjadi domestik turut ditanggapi Penjabat (Pj) Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Harisson.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar menurutnya akan berupaya mempertahankan status internasional bandara tersebut.

Pasalnya, jika berubah menjadi bandara domestik, justru akan merugikan perekonomian maupun pariwisata di provinsi ini.

Menurut Harisson, sejak tahun lalu, Gubernur Kalbar saat itu, Sutarmidji telah menyurati Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk membuka rute penerbangan internasional di Bandara Supadio, yaitu rute Pontianak-Kuching, Pontianak-Kuala Lumpur, dan sebaliknya.

“Tetapi sampai sekarang kami (pemprov) belum menerima respon dari Kementerian Perhubungan. Saya berharap, dan saya akan segera menemui Menteri Perhubungan untuk bertanya soal penerbangan internasional dari Pontianak ke luar negeri ini," ungkapnya kepada awak media, Kamis (21/9). Status Supadio sebagai bandara internasional menurutnya sangat penting. Salah satunya terkait dengan peningkatan investasi dari para investor luar negeri. 

"Jadi, kalau ada penerbangan internasional di Kota Pontianak, investor-investor dari luar negeri akan lebih tertarik datang ke Kota Pontianak untuk berinvestasi. Kalau mereka (investor) harus ke Jakarta dulu, atau ke kota mana dulu baru bisa ke Pontianak, itu menyulitkan," katanya.

Selain dari sisi ekonomi, perubahan status bandara tersebut, lanjut dia, juga akan merugikan sektor pariwisata. Harisson mencontohkan seperti Pesona Kulminasi Matahari yang ia hadiri kemarin.

Seharusnya event tersebut juga bisa menarik wisatawan mancanegara (wisman) untuk ikut menyaksikannya. Nah, jika ada penerbangan rute internasional, maka wisman dari berbagai negara akan lebih mudah untuk datang ke Kalbar, atau Kota Pontianak.

"Tinggal nanti Ibu Kadisporapar (provinsi) bekerja sama dengan Menteri Pariwisata bagaimana mempromosikan event-event pariwisata, sehingga turis dari luar negeri bisa mudah mengakses. Jadi dia (wisman) tidak harus lewat kota-kota lain untuk mengakses Kota Pontianak, harus langsung penerbangannya ke Kota Pontianak agar kita dapat menerima turis dari mancanegara yang banyak," jelasnya.

Untuk itu, Harisson berharap Kemenhub dapat mendukung Kalbar membuka jalur-jalur atau rute penerbangan internasional. Apalagi hal tersebut sebenarnya sudah berjalan sejak sebelum pandemi Covid-19.

"Waktu itu (pandemi) kita memang tutup (penerbangan internasional). Nah, sekarang ini kan Covid-19 sudah tidak lagi pandemi, sudah menjadi endemi, kita harapkan penerbangan internasional akan segera ada di Pontianak ini," ujarnya.

Mengenai kendala, atau persoalan yang membuat belum dibukanya rute penerbangan internasional di Supadio, Harisson mengaku belum tahu secara pasti. Sepengetahuannya, sejak Gubernur Sutarmidji masih menjabat, pemprov sudah berkirim surat sebanyak dua kali ke Kemenhub.

"Surat itu isinya agar ada persetujuan untuk penerbangan internasional. Waktu itu yang mengajukan itu Lion Air, Citilink, dengan Airasia," pungkasnya.

Terpisah, mantan Gubernur Kalbar periode 2018-2023 Sutarmidji juga turut menanggapi wacana tersebut. Secara pribadi ia menegaskan tidak setuju jika Bandara Supadio harus berubah status menjadi bandara domestik.

Apalagi Kalbar menurutnya merupakan provinsi penunjang dari keberadaan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim).

"Supadio harus tetap jadi bandara internasional seiring dengan keberadaan IKN di Kalimantan," ungkapnya.

Midji-sapaan karibnya juga mengatakan, sejak masih menjabat sebagai gubernur, dirinya sudah pernah menyurati Kemenhub yang meminta agar rute penerbangan internasional dari dan ke Kalbar kembali dibuka.

"Saya sudah pernah surati Kemenhub agar penerbangan dari Pontianak-Kuching dan sebaliknya segera dihidupkan. Jadi apa alasan Kemenhub mau menjadikan (Supadio) sebagai bandara domestik. Terus mengapa (bandara) dibangun bagus, ditambah runway. Ada wacana juga dijadikan embarkasi haji antara. Saya intinya tidak setuju, dan tetap ingin Supadio jadi bandara internasional, bahkan kalau perlu terus ditingkatkan lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan juga akan mengambil sikap. Ia segera menyurati Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN dan pihak terkait lainnya agar status Bandara Supadio saat ini tetap dipertahankan.  

"Jika memang diperlukan kami juga akan mendorong maskapai-maskapai penerbangan yang sebelumnya membuka rute penerbangan dari luar, terutama dari dan tujuan Malaysia, Kuching dan sekitarnya untuk dapat mengambil langkah strategis dan bisa membuka kembali jalur atau penerbangan ini," ucap Muda kepada Pontianak Post, Kamis (21/9) di Sungai Raya.

Seperti diketahui, sejumlah penerbangan dengan rute ke negara tetangga sebelumnya sudah pernah dibuka Bandara Internasional Supadio. Namun karena adanya pandemi Covid-19, rute penerbangan ke sejumlah negara tetangga tersebut sempat ditutup.

"Karena pandemi Covid-19 juga sudah berakhir sejak setahun lalu, semestinya rute penerbangan ke luar negeri seperti ke Malaysia, Kuching dan sekitarnya ini sudah bisa diaktifkan dan dibuka kembali, karena ini juga akan berdampak bagi ekonomi masyarakat dan daerah," ungkapnya.

Orang nomor satu di Pemerintahan Kubu Raya ini juga berharap kepada para kepala daerah kabupaten/kota di Kalimantan Barat juga bisa membantu melayangkan surat ke pemerintah pusat.

Hal ini sebagai salah satu bentuk aspirasi kebutuhan masyarakat dan para pelaku ekonomi baik perdagangan dan jasa hingga pariwisata di Kalbar.

"Di sisi lain, ini juga akan langsung berdampak ke upaya percepatan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat secara meluas di Kalbar sehingga secara agregat juga akan langsung berdampak.  Setidaknya kontribusi pertumbuhan ekonomi di 14 kabupaten/kota di Kalbar," ungkapnya.

Dengan tetap berstatus sebagai bandara internasional, lanjut Muda, secara tak langsung juga akan memberikan kontribusi dan terus membuka peluang investasi di semua kabupaten/kota se-Kalbar, termasuk di Kubu Raya.

"Jadi mari sama-sama kita berupaya agar status Bandara Supadio ini tetap dipertahankan. Jangan sampai justru terjadi penurunan status. Kami optimistis dengan kerja sama dan koordinasi yang solid, semoga saja tidak akan ada kebijakan penurunan status Bandara Supadio mengingat justru dengan dibangunnya IKN maka pintu masuk penerbangan dari dan ke Kalbar akan berdampak meningkat kebutuhannya di masa depan," papar Muda.

Di sisi lain, tambah Muda, seiring dengan tumbuh dan berkembangnya perekonomian dan pembangunan di Kubu Raya dan secara umum di Kalbar, peluang untuk  memiliki embarkasi haji sendiri di Kalbar juga lebih besar.

Hal itu mengingat jumlah jemaah haji yang cukup besar. Terlebih lagi sejauh ini para jemaah ibadah umrah dari Kalbar juga potensinya cukup besar.

"Kalimantan Barat sudah sangat layak untuk memiliki embarkasi haji, karena sudah memiliki bandara berskala internasional, dan jemaahnya juga cukup banyak. Saya rasa Kalbar sudah sangat siap untuk embarkasi sendiri," pungkas Muda. (bar/ash)

 

 
 
 

 

 
 
Editor : izak-Indra Zakaria