Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ini Dia, Orang Kalbar Jadi Orang Terkaya Indonesia dan 45 Dunia

izak-Indra Zakaria • 2023-12-31 10:29:51
Prajogo Pangestu, pria kelahiran asal Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.
Prajogo Pangestu, pria kelahiran asal Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

Nama Prajogo Pangestu, pria kelahiran asal Sungai Betung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat pada 13 Mei tahun 1944 silam, tiba-tiba menjadi pembicaraan hangat masyarakat Indonesia dan dunia. Bagaimana tidak, Founder dari Barito Pacific Group ini tiba-tiba, melejit menjadi orang terkaya Indonesia. Total hartanya diperkirakan mendekati angka Rp500 triliunan. Bagaimana perjuangan si pemilik nama Phang Djoem Phen ini ?

 

DENY HAMDANI, PONTIANAK.

Nah, salah satu sumber kekayaan Prajogo adalah emiten di pasar modal bernama PT Barito Renewable Energy Tbk alias (BREN). Selain itu, ada nama emiten PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk alias CUAN. Sebelumnya juga sudah ada emiten Barito Pacific Tbk alias BRPT.  

Ada juga PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan nama kode emiten TPIA. Kabar terbarunya lewat PT Barito Renewable Energy Tbk, Prajogo mendirikan anak usaha baru yakni PT Armada Maritim Persada (AMP). AMP adalah perusahaan yang bergerak di bidang angkutan laut perairan pelabuhan dalam negeri.

Nama-nama emiten yang familiar di tangan investor tersebut, memang menjadikan warga kelahiran Kalimantan Barat ini menjadi pertama masuk dalam daftar 500 orang terkaya di dunia pada awal Desember tahun 2023.

Melansir dari Bloomberg Billionaires Index, Minggu (10/12), nama Prajogo Pangestu menjadi daftar orang terkaya Indonesia di posisi pertama dan berada di posisi ke-45 orang terkaya di dunia.

Bloomberg juga mencatat bahwa total kekayaan bersih yang dikantongi Prajogo Pangestu mampu mencapai US$31,8 miliar atau setara dengan Rp495,22 triliun (kurs US$1 = Rp15.573). Pada pekan ini, Prajogo Pangestu menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia berkat saham BREN, yang masuk ke daftar top big caps di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data BEI , kapitalisasi pasar (market cap) saham BREN telah menembus lebih Rp1.077 triliun. Market cap BREN sebelumnya berhasil menyalip market cap bank swasta terbesar RI, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang berada di posisi kedua dengan nilai kapitalisasi pasar Rp1.068 triliun. PT Barito Renewables Energy Tbk adalah perusahaan holding yang berbasis di Indonesia, dan merupakan bagian dari Grup Barito Pacific.

Barito Renewables berfokus pada strategi jangka panjang untuk menyediakan energi lebih bersih dan emisi lebih rendah sekaligus mendukung target Indonesia transisi menuju Net Zero Emission (NZE).

Barito Renewables memulai operasional melalui salah satu entitas anak yaitu Star Energy Geothermal Group, produsen listrik tenaga panas bumi terkemuka. Saat ini Grup Perseroan mengoperasikan tiga aset panas bumi yang berlokasi di Jawa Barat, dengan total kapasitas terpasang sebesar 886 MW, mewakili sekitar 38 persen pangsa pasar di Indonesia.

Sejarah taifan Kalbar, Prajogo Pangestu awalnya adalah Pengusaha Perkayuan terbesar di Indonesia sebelum Krisis Ekonomi 1997 terjadi. Bisnisnya berawal pada akhir tahun 70-an di bawah perusahaan Djajanti Timber Group dan selanjutnya membentuk nama Barito Pacific. Sebelumnya nilai kekayaan Prajogo per Desember tahun 2022 dikabarkan tercatat sebesar US$4,9 miliar atau setara dengan Rp 76 triliun.

Laporan terbaru 2023 versi forbes bahkan kabarnya sudah menyentuh level angka 5,7 miliar USD. Sekarang total kekayaan bersih yang dikantongi Prajogo Pangestu diperkirakan mencapai US$31,8 miliar atau setara Rp495,22 triliun.

Sukses warga Kalbar menjadi orang terkaya di Indonesia tersebut, bukannya tanpa perjuangan. Pemilik nama asli  Phang Djoem Phen memulai pundi-pundi kekayaannya justru dari bawah. Memang waktu itu, Prajogo muda, kurang beruntung secara finansial dalam kehidupan sampai menjadikannya sebagai sopir angkot di kotanya, Kabupaten Sambas. Semasa kecilnya, Phang Djoem Phen menjalani hidup cukup keras. Sejak kecil, Taipan Kalbar ini harus bekerja demi membantu sang keluarga. Waktu itu ayahnya bahkan bekerja sebagai seorang penyadap getah karet.

Dan karena keterbatasan biaya juga, Prajogo Pangestu hanya mampu dapat menamatkanbangku sekolahnya hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski hidup di tengah keterbatasan, namun tidak membuat Phang Djoem Phen menyesali nasib hidupnya. Justru Prajogo muda sudah memulainya dengan bekerja keras memikirkan nasib keluarganya.

Dari sikap baik dan motivasi tingginya menghidupi keluarga lewat  cara halal, justru menjadikannya sebagai gerbang pembuka kesuksesan. Prajogo bahkan sampai merantau ke Jakarta mengejar impian kecilnya. Hanya tinggal di ibukota, Indonesia tidak serta merta membuatnya mendapat penghasilan.

Prayogo bahkan sempat kecewa hingga harus kembali ke kampung halamannya. Dari Data Indonesia, saat pulang ke kampung halamannya, Prajogo kembali membulatkan tekadnya mengais rezeki dari bawah. Dia menjadi sopir angkot. Sekitar tahun 1960, sambil menjalani pekerjaannya, Prayogo membuka awal mula kunci suksesnya.

Dia bertemu bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia bernama Bong Sun On atau Burhan Uray. Dari pertemuan dengan pengusaha kayu asal Malaysia tersebut, akhirnya jalan menuju sukses seperti terbuka. Prajogo pun waktu itu mulai meniti karir di PT Djajanti Group milik Sun On pada 1969. Berkat kerja keras dan tangan midasnya, tujuh tahun kemudian Prajogo mendapatkan jabatan sebagai general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara.

Kurang lebih setahun berkarir, dia pun memberanikan diri membuka usaha sendiri. Mulanya, dia membeli CV. Pacific Lumber Coy yang bermodalkan utang bank. Perusahaan ini sukses dan membawa ke lantai bursa pasar modal Indonesia pada tahun 1993, sebelum akhirnya berganti nama menjadi PT Barito Pacific pada tahun 2007.

Bisnis Prajogo Pangestu terus melesat hingga bekerja sama dengan berbagai pengusaha termasuk penguasa waktu itu. Karier, Prajogo Pangestu sendiri juga cukup menyebar dan pernah di berbagai posisi.

Dari menjadi Presiden Komisaris PT Tri Polyta Indonesia Tbk, Presiden Komisaris PT Chandra Asri Petrochemical Center, Wakil Presiden Komisaris PT Tanjungenim Lestari Pulp & Paper, Presiden Komisaris PT Barito Pacific Timber Tbk, hingga Komisaris PT Astra International, 1993-1998 pernah dijalaninya.

Namun, melesatnya perkembangan bisnis Prajogo Pangestu dilansir Forbes, setelah tahun 2007 Barito Pacific mengakuisisi 70 persen perusahaan petrokimia Chandra Asri. Perusahaan ini juga melantai di Bursa Efek Indonesia. Tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Waktu itu juga, Thai Oil mengakuisisi 15 persen saham Chandra Asri sekitar bulan Juli 2021. Kesuksesan bisnis petrokimia dalam negeri, selanjutnya bulan Maret 2022, keluarga Pangestu kembali mengambil alih produsen energi panas Star Energy. Caranya dengan mengakuisisi 33 persen saham dari BCPG Thailand seharga US$440 juta atau Rp6,8 triliun.

Perusahaan ini diincar Prajogo Pangestu sejak tahun 2009 silam. Setelah itu, Prajogo akhirnya melakukan akuisisi sehingga jumlah saham Star Energy menjadi 66,66 persen saham beredar. Hasilnya, selain bisnis bidang perkayuan, usaha Barito Group meluas di berbagai bidang.

Diketahui PT Barito Pacific Tbk dengan kodem emiten saham BRPT adalah perusahaan energi terintegrasi berbasis di Indonesia dengan berbagai aset di sektor energi dan industri. Melalui Star Energy, Barito Pacific mengoperasikan perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia yang juga merupakan perusahaan panas bumi terbesar ketiga di dunia.

Bekerja sama dengan Indonesia Power, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh PLN, Barito Pacific tengah mengembangkan proyek Jawa 9 & 10, yaitu pembangkit listrik tenaga uap dengan teknologi ultra supercritical berkapasitas 2 x 1.000 MW yang akan dipasang dengan teknologi pengurangan emisi yang belum pernah ada sebelumnya.

 

Pembangkit listrik ini akan membantu Indonesia memodernisasi kemampuan pembangkit listrik yang sudah lama sekaligus mengurangi biaya dengan menurunkan konsumsi bahan bakar hingga 20% per kwh; sehingga mengurangi emisi karbon secara pro-rata.

Barito Pacific juga merupakan pemegang saham pengendali dan mengkonsolidasikan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dengan nama kode emiten TPIA, merupakan satu-satunya perusahaan petrokimia terintegrasi dan terbesar di Indonesia. Untuk saham BRPT, Prajogo Pangestu diketahui memiliki sekitar 71.15 lembar saham beredar. Sisanya masyarakat (public) sebesar 28,65 persen dan saham treasury sekitar 0,2 persen.

Sementara di BREN, bahwa sebagai pengendali adalah PT BARITO PACIFIC TBK dengan kepemilikan 64,666 persen. Diikuti Green Era Energy PTE sekitar 23,603 persen dan Masyarakat Non Warkat 11,73 persen.

Selanjutnya, posisi kedua orang kaya di Indonesia adalah Low Tuck Kwong dengan harta kekayaan senilai US$26,9 miliar atau setara dengan Rp418,91 triliun. Jika dilihat secara internasional, kekayaan Low Tuck Kwong berada di posisi ke-56 pada pekan ini. Tahun 2022 silam sebelumnya, LTK sempat menjadi orang terkaya di Indonesia.

Nama berikutnya orang terkaya RI lain adalah Budi Hartono. Orang terkaya nomor tiga di Indonesia yang juga pemilik Grup Djarum dan BCA itu memiliki harta kekayaan mencapai US$21,2 miliar atau setara Rp330,14 triliun. Bloomberg mencatat, Budi Hartono menempati urutan ke-79 dari 500 orang terkaya di dunia.

Tak mau ketinggalan, Michael Hartono juga menjadi orang kaya keempat di Indonesia dengan total kekayaan bersih senilai US$20,1 miliar atau setara Rp313,01 triliun. Michael Hartono berada di 4 urutan setelah Budi Hartono, atau berada pada posisi ke-83 dari 500 orang terkaya di dunia.

Selanjutnya, ada Anthoni Salim dengan harta kekayaan senilai US$9,92 miliar atau setara Rp154,48 triliun pada pekan ini. Anthoni Salim berada jauh dari posisi 100 besar daftar orang terkaya di dunia, kekayaan bersih Anthoni berada di peringkat 213 orang terkaya di dunia.(**) 

Editor : izak-Indra Zakaria