Serma Abdul Hamid, penjabat (Pj) Danramil 1206/12 Kalis membenarkan bahwa memang terjadi goncangan besar di dua desa tersebut. Namun, untuk kepastian apa yang terjadi, pihaknya masih menunggu dari BMKG. "Dua desa yang mengalami goncangan desa Nanga manday dan Desa Jelemuk Kecamatan Bika, " katanya saat dihubungi via Whatsapp.
Sementara Paulinus Totong, kepala Kecamatan (Camat) Bika menyampaikan bahwa dirinya juga sudah mendapatkan info goncangan yang terjadi di dua desa tersebut. Saat terjadi goncangan, menurut dia, warga sempat keluar rumah, sebagaimana informasi dari kepala desanya.
"Kami sedang koordinasi dengan pihak BPBD dan BMKG. Kami belum tahu pastinya apa yang mau disebut dengan kejadian tersebut. Yang jelas memang ada getaran dan guncangan sekitar kurang lebih pukul 21.00 WIB tadi," ujarnya.
Pria disapa Totong ini mengatakan bahwa pihaknya sudah memberikan imbauan melalui kepala desa untuk tetap tenang dan tidak panik, sambil menunggu info dari pihak BMKG melalui BPBD.
"Kami juga sudah melakukan koordinasi lewat Whatsapp grup lintas sektoral Kecamatan Bika mulai dari pihak Polsek Bika melalui Kapolsek dan Bhabinkamtibmas dan Danramil serta Babinsa," jelasnya.
Saat in,i kata Totong, kondisi masyarakat aman dan stabil. Hanya saja pihaknya meminta untuk tetap selalu berkoordinasi dan selalu berjaga-jaga.
Sementara Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pangsuma Kapuas Hulu Ridwan Nugraha menyampaikan, pihaknya masih berupaya untuk melakukan analisa terhadap gempa yang mengguncang Desa Jelemuk dan Nanga Manday Kecamatan Bika, wilayah Kabupaten Kapuas Hulu.
"Guncangan yang terjadi itu gempa bersifat lokal, untuk mengetahui kekuatan guncangan tersebut kami masih berupaya mendekatkan titik-titik sensor gempa," katanya.
Dari laporan informasi yang diterima BMKG, guncangan terjadi sebanyak tiga kali, di mana yang pertama terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, kemudian yang kedua sekitar pukul 20.00 WIB selanjutnya terjadi lagi sekitar pukul 21.00 WIB, Selasa (19/03).
Menurut Ridwan, berdasarkan informasi yang didapatkan dari Stageof Balikpapan, Katingan Kalimantan Tengah dan Pgr 7 Jogja sebagai penanggung jawab wilayah Kalimantan Barat, untuk guncangan yang terjadi itu gempa yang bersifat lokal dan belum bisa dianalisa karena kurangnya titik-titik sensor gempa dan untuk menganalisa membutuhkan titik-titik sensor yang berdekatan.
"Jadi, kami belum bisa mengetahui kekuatan guncangan akibat gempa tersebut, namun kami masih terus berupaya berkoordinasi agar secepatnya bisa dilakukan analisa," kata Ridwan.
Ridwan juga mengatakan gempa itu disebabkan terjadinya pergeseran lempeng, sehingga kepala masyarakat diminta untuk selalu siaga untuk mengantisipasi gempa susulan.
"Kami juga sudah sampai kepada BPBD Kapuas Hulu serta sejumlah pihak terkait seperti kepolisian yang bertugas di Polsek Bika agar dapat menyampaikan imbauan kepada masyarakat secara berjenjang," ucapnya.
Meskipun demikian, Ridwan meminta masyarakat untuk tidak panik, akan tetapi selalu meningkatkan kesiapsiagaan.
"Dari informasi pihak kepolisian yang kami terima tadi, guncangan gempa cukup kuat sampai menggetarkan kaca rumah, jika dibilang berbahaya memang cukup berbahaya, apalagi jika menyebabkan bangunan rumah roboh, jadi kami minta warga tetap siaga," pungkas Ridwan.
Pada Juli 2023 lalu, ada salah satu wilayah di Kalbar yang juga diguncang gempa tektonik. Wilayah dimaksud yakni Air Besar di Kabupaten Landak. Hasil analisis BMKG ketika itu menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki parameter M=2.6.
Episenter gempa bumi sendiri terletak pada koordinat 0.62 LU dan 110.0 BT, atau tepatnya berlokasi 102 kilometer timur laut Pontianak pada kedalaman 8 km. Gempa bumi sendiri terjadi pada 6 Juli 2023, sekitar pukul 5:43:22 WITA.
Kepala Stasiun Geofisika Manado, Tony Agus Wijaya, ketika itu menyebutkan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi kedalaman dangkal akibat aktivitas sesar lokal.
Berdasarkan laporan masyarakat, gempa bumi ini dirasakan di Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat dengan intensitas II MMI atau Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan digantung bergoyang.
"Hingga saat ini tidak terdapat laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan gempa bumi tersebut," katanya dalam siaran releaseanya.
Sementara gempa bumi susulan (aftershock), hingga Kamis, 6 Juli 2023 pukul 11:56:48 WITA, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas.
Namun kepada masyarakat di wilayah Kecamatan Air Besar dan sekitar diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu-isu tak bertanggungjawab kebenarannya.
"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi dan telah terverifikasi," ucapnya. (fik)