Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Mengenang 80 Tahun Peristiwa Mandor Bersejarah, Kalbar Kehilangan Generasi Terbaik

Syahriani Siregar • 2024-07-01 11:30:00
Pengunjung Makam Juang Mandor melihat diorama yang berisi cerita mengenai pembantaian massal yang dilakukan pasukan Jepang terhadap para tokoh intelektual Kalbar pada 1944. (IST)
Pengunjung Makam Juang Mandor melihat diorama yang berisi cerita mengenai pembantaian massal yang dilakukan pasukan Jepang terhadap para tokoh intelektual Kalbar pada 1944. (IST)

 

Setiap 28 Juni, masyarakat Kalimantan Barat memperingati Hari Berkabung Daerah Kalbar, atau yang juga dikenal dengan Peristiwa Mandor Bersejarah. Pada 2024 ini, genap sudah 80 tahun terjadinya peristiwa bersejarah kekejaman penjajahan Jepang terhadap rakyat, dan para tokoh intelektual Kalbar yang terjadi pada tahun 1944.

Menurut catatan pemerhati sejarah Kalbar, Syafaruddin Usman, sejarah perjuangan rakyat Kalbar melawan penjajahan asing merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan nasional bangsa Indonesia dalam upaya merintis, merebut, dan mempersembahkan, serta mempertahankan, maupun mengisi kemerdekaan.

“Dengan demikian, semangat nilai juang (di Kalbar) sangat patut untuk dilestarikan, dan mendapatkan penghormatan serta penghargaan,” ungkapnya. Bang Din-sapaan karibnya menjelaskan, peristiwa Mandor yang terjadi pada  28 Juni  1944 sesungguhnya sudah dimulai sejak Jumat, 19 Desember 1941, pada pukul 10.00 pagi.Kesemua rangkaian itu menurutnya, telah mengakibatkan gugurnya beribu korban yang terdiri dari  berbagai elemen masyarakat majemuk Kalbar.

“Ini seluruhnya adalah bagian dari lembaran gemilang sejarah perjuangan pergerakan nasional kebangsaan di Kalbar, dan memberikan pengetahuan, dan pemahaman bahwa dalam perjuangan menentang fasis militer tentara pendudukan Dai Nippon Teikoku Jepang antara 1941-1945, tak sedikit rakyat Kalbar yang gugur sebagai pejuang syuhada kusuma bangsa,” paparnya.

Syafaruddin Usman menerangkan, di masa Perang Dunia  antara tahun 1942-1945, Kalbar telah kehilangan satu generasi terbaiknya. Itu semua terjadi akibat kekejaman, kebengisan, dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan secara keji, dan kejam. Mengacu pada publikasi pers militer Jepang, surat kabar Borneo Shinbun terbitan 1 Juli 1944, lanjut dia, mewartakan bahwa pada 28 Rokugatsu 2604 tahun 19 Showa atau 28 Juni 1944 merupakan puncak peristiwa pembantaian sadis bengis, dan keji. 

Sebuah pembunuhan besar-besaran terhadap tokoh terkemuka, pemuda, elit kesultanan dan kerajaan, cerdik cendekia, intelektual, dan berbagai elemen masyarakat lainnya.

Dari surat kabar Borneo Shinbun tersebut, ia menyebutkan sejumlah nama korban pembantaian Jepang saat itu, di antaranya, Syarif Muhammad Alkadrie (74 tahun) Sultan Pontianak, beserta Pangeran Adipati (26 tahun) putra Sultan Pontianak, dan Pangeran Agung (26 tahun) adik Pangeran Adipati.

Kemudian ada pula nama, J.E. Patiasina (51 tahun), Ng Nyiap Sun (40 tahun), Lumban Pea (43 tahun), R. Muslimun Nalaprana (42 tahun), Kei Liang Kei (54 tahun), Ng Nyiap Khan (35 tahun), Panangian Harahap gelar Mangaraja Gunung Tua (48 tahun), Raden Pandji Mohamad Zubier Notosoedjono (42 tahun), FJL Loway Faath (44 tahun), CW Octavianus Lucas (42 tahun), Ong Tjoe Kie (52 tahun), dan Uray Aliudin (33 tahun). 

Ada juga tokoh dari berbagai kerajaan di Kalbar, seperti Gusti Muhammad Saunan (44 tahun) Penembahan Ketapang, Muhammad Ibrahim Mulya Tsafiuddin (40 tahun) Sultan Sambas, Tengku Idris (50 tahun) Panembahan Sukadana, Gusti Mesir (43 tahun) Panembahan Simpang, Syarif Saleh Alaydrus (63 tahun) Panembahan Kubu, dan Gusti Abdul Hamid (42 tahun) Panembahan Ngabang.

Selain itu, korban lainnya yakni Ade Muhammad Arief (43 tahun) Panembahan Sanggau, Gusti Muhammad Keliep (40 tahun) Panembahan Sekadau, Gusti Muhammad Taufik Akamaddin (63 tahun) Panembahan Mempawah, A.T.P. Lantang (43 tahun), Gusti Djafar (42 tahun) Panembahan Tayan, dan Raden Abdul Bahry Daru Perdana (44 tahun) Panembahan Sintang.

Lalu, ada lagi tokoh lainnya seperti Sawon Wongso Utomo (45 tahun), dr. Soenaryo Martowardoyo (33 tahun), Muhammad Yatim (33 tahun), Raden Mas Soedijono (31 tahun), Bagindo Nazarudin (35 tahun), Soedarmadi (30 tahun), dan Tambunan (29 tahun).

Selanjutnya ada nama, Tji Boen Kie (42 tahun) Wartawan, Nasrun Sutan Pangeran gelar Sutan Rumah Tinggi (31 tahun), EF. Londok Kawengsian (44 tahun), W.E.F. Tewu (51 tahun), Wagimin Wongsosemito (27 tahun), Ng Lung Khoi (45 tahun), dan Theng Swa Teng (47 tahun). Serta dr. R.M. Achmad Diponegoro (40 tahun), dr. Ismail (34 tahun), Achmad Maidin (40 tahun), Nurlela Panangian Harahap (45 tahun), dan dr. Raden Rubini Natawisastra (39 tahun) Kepala Rumah Sakit Pontianak, beserta istri Amalia Rubini (37 tahun).  

“Dalam pada itu terdapat pula korban lainnya seperti Gusti Sulung Lelanang, Gusti Situt Machmud, Saliman Sastrolukito, Tio Pia Cheng, Lim Bak Yong, HM Rais HM Abdurahman, Ismail Osman, Ambo Pasir, Syarifah Maimunah Alkadrie Ratu Kesumayudha, dan ribuan tokoh lain,” terangnya.  

Maka dari itu, dikatakan Bang Din, dalam rangka penghormatan, dan penghargaan terhadap perjuangan rakyat Kalbar itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar, ketika itu Pemerintah Daerah Tingkat I Kalbar, telah membangun kembali Monumen Makam Juang Mandor.

Monumen tersebut diresmikan pada 28 Juni 1977 oleh gubernur kala itu, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalbar H Kadarusno.

Selanjutnya dalam rangka menghormati, dan melestarikan jiwa semangat nilai juang, dan perjuangan bangsa Indonesia, para tokoh, dan rakyat Kalbar dari berbagai elemen masyarakat melawan fasis militer pendudukan Jepang, telah ditetapkan Peristiwa Mandor 28 Juni 1944 sebagai Hari Berkabung Daerah.

Dan Makam Juang Mandor ditetapkan sebagai Monumen Daerah Provinsi Kalbar berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kalbar Nomor 5 Tahun 2007.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pejuang syuhada kusuma bangsanya, dan jangan sekali-kali melupakan atau meninggalkan sejarah (jas merah),” tutupnya.

 

Pahami Makna Hari Berkabung

Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar, Harisson mengungkapkan, Hari Berkabung Daerah Kalbar menjadi salah satu momen penting yang harus selalu diingat oleh masyarakat di provinsi ini.

Pada hari tersebut, masyarakat diimbau untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Para generasi muda diharapkan agar mengetahui sejarah para tokoh terdahulu di Kalbar dalam memperjuangkan kemerdekaan.

“Sebagai generasi penerus, untuk menghormati para pahlawan, sudah seharusnya kita berupaya mewujudkan apa yang dicita-citakan mereka, lewat pemikiran-pemikiran mereka, dalam mengisi pembangunan ini,” pesannya.

Harisson berharap para pemuda di Kalbar bisa benar-benar memahami makna ditetapkannya Hari Berkabung Daerah Kalbar.Dengan demikian, pemuda bisa mengisi kehidupan masa kini, dengan berbuat yang terbaik untuk kemajuan bersama dan berdampak terhadap orang banyak, sesuai bidang masing-masing.

“Kita bisa bersama-sama membangun Kalbar, baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lainnya. Itu juga bagian dari kita menghargai para pahlawan terdahulu,” ungkapnya. 

Gak perlu lagi gigi palsu! Gigi patah dan gak rata? Veneer adalah cara terbaik untuk sekarang ini. Tak hanya itu, Harisson juga mengajak seluruh masyarakat dari berbagai latar belakang ras, suku, agama, dan golongan (sara) yang ada di Kalbar untuk terus menjaga keharmonisan, dan membangun bersama. 

Sebab jika melihat para korban dari peristiwa Mandor, mereka adalah tokoh-tokoh multietnis, dan agama yang ada di provinsi ini. “Itu artinya persatuan dari berbagai latar belakang sara di Kalbar sudah terjalin baik sejak dulu, untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan. Dan itu yang membuat para penjajah takut, hingga terjadilah peristiwa Mandor,” pungkasnya. (bar)

 
 
 
Editor : Indra Zakaria