Anggota DPRD Kalimantan Barat dari daerah pemilihan (dapil) Kabupaten Sanggau-Sekadau, Fransiskus Ason ikut menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak terjadi belakangan di Kalimantan Barat.
Dia pun meminta ada kearifan Ketika menyangkut para petani yang membuka lahan masih dengan cara-cara tradisional (cara lama).
"Soal karhutla kita dukung komponen masyarakat tidak melakukan pembakaran pada musim pengering seperti sekarang ini. Namun walaupun terjadi pembukaan lahan dengan cara dibakar oleh para petani, sebaiknya lakukan pengawasan dan koordinasikan. Tidak boleh dibiarkan, tetapi dijaga sebaran apinya," katanya Senin(29/7) di Gedung DPRD Kalbar.
Politisi Golkar Kalbar ini menyebutkan bahwa Perda mengenai cara-cara Bertani masyarakat dengan metode tradisional, sudah mengatur bahwa lahan boleh dibakar maksimal hingga 2 hektar. Hanya saja lahan-lahan tersebut tidak boleh dibakar tanpa ada koordinasi dengan aparat desa atau dilaporkan. Sehingga lahan-lahan yang dibuka masyarakat petani dapat dijaga dan apinya tak menjalar lebih luas lagi.
"Ini salah satu kearifan local, walaupun membuka lahan dengan cara tradisional masih rentan memunculkan karhutla lebih luas. Ada baiknya memang pada musim pengering seperti sekarang, tak membuka lahan dengan cara dibakar," ujarnya.
Dia masalah Karhutla, hingga hotspot terbanyak terpantau di Kabupaten Sanggau, diapun meminta semua elemen masyarakat segera melakukan koordinasi kepada pemda, aparatur, termasuk keamanan setempat.
"Untuk mencegah titik api lebih banyak pertambahannya, memang harus ada langkah. Modifikasi cuaca bisa menjadi jalan keluar terbaik," usulnya.
Ason meminta soal karhutla tidak boleh melulu disalahkan para petani atau perusahaan yang memiliki izin konsesi perkebunan. Harus diselidiki dari mana asal api, Ketika lahan-lahan kering rentan terbakar. Seperti diketahui pada musim pengering seperti sekarang, api mudah muncul dan disebabkan dari hal-hal paling mudah. "Seperti puntung rokok dan lain-lain," pungkasnya.