PONTIANAK – Kalimantan Barat tengah menghadapi tantangan serius di sektor kesehatan mata. Gubernur Kalbar, Ria Norsan, mengungkapkan bahwa saat ini provinsi tersebut hanya memiliki 27 dokter spesialis mata. Angka ini sangat timpang dibandingkan jumlah populasi yang mencapai 6,7 juta jiwa, di mana idealnya dibutuhkan minimal 57 hingga 60 dokter spesialis.
Menanggapi krisis tersebut, Gubernur memberikan apresiasi tinggi atas peningkatan status Pontianak Eye Center (PEC) dari klinik menjadi rumah sakit khusus mata. Kehadiran RS Mata PEC diharapkan mampu menjadi solusi atas fenomena masyarakat Kalbar yang selama ini kerap memilih berobat ke Kuching, Malaysia, demi mendapatkan layanan medis yang cepat dan canggih.
"Jika di sini sudah tersedia fasilitas canggih dengan peralatan mutakhir, mengapa tidak di sini saja? Kita harus memberikan pelayanan yang cepat dan tepat agar warga tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri," tegas Ria Norsan saat peresmian gedung baru tersebut. Ia juga memuji kesiapan PEC dalam melayani pasien BPJS Kesehatan guna mengurangi kepadatan di RSUD dr. Soedarso.
Direktur Pontianak Eye Center, dr. M. Iqbal, memaparkan bahwa hingga pengujung 2025, pihaknya telah berhasil melakukan 30.000 operasi katarak. Namun, angka kebutaan di Indonesia yang mencapai 760.000 jiwa menuntut kerja lebih keras. PEC pun kini memperkenalkan inovasi layanan seperti Dry Eye Clinic dan Ortho-K untuk penderita rabun jauh usia muda.
Salah satu terobosan paling ambisius yang disiapkan adalah rencana peluncuran Bank Mata di Kalimantan Barat. Inovasi berbasis digital ini bertujuan memfasilitasi donor kornea agar kasus kebutaan akibat kerusakan kornea dapat ditangani secara mandiri di daerah melalui tindakan keratoplasti. "Ini mimpi kami agar penanganan kasus mata kompleks tidak lagi terbatas dan bisa kita selesaikan di Kalimantan Barat," pungkas Iqbal. (*)
Editor : Indra Zakaria