PONTIANAK – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat mengeluarkan peringatan dini terkait rendahnya curah hujan yang diprakirakan bertahan hingga empat hari ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah strategis seperti Pontianak, Singkawang, Sanggau, Sambas, dan Mempawah.
Prakirawan BMKG Kalbar dari Stasiun Meteorologi Kelas 1 Supadio, Iskandar, menjelaskan bahwa pada periode 8 hingga 14 Februari 2026, indeks kemudahan terbakar di Kalimantan Barat berada pada kategori "mudah" hingga "sangat mudah". Hingga saat ini, pantauan satelit telah mendeteksi setidaknya 46 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Kalbar.
"Kondisi cuaca pada Senin (9/2) diprakirakan akan dominan berawan. Meskipun ada potensi hujan dengan intensitas ringan di beberapa wilayah pada sore hari, secara keseluruhan curah hujan masih tergolong rendah," ujar Iskandar dalam keterangannya, Senin (9/2).
Berdasarkan data pengamatan cuaca pada 7-8 Februari 2026, hampir seluruh titik pantau di Kalimantan Barat melaporkan tidak adanya kejadian hujan. Suhu udara tertinggi tercatat mencapai 34,2°C di Kapuas Hulu, sementara suhu terendah berada di angka 20,8°C di Sambas. Selain panas yang cukup menyengat, BMKG juga menyoroti terbatasnya jarak pandang di wilayah Sintang yang sempat berada di bawah 1.000 meter akibat tertutup kabut.
Meskipun potensi hujan intensitas sedang diprakirakan baru akan muncul di sebagian wilayah pada tanggal 9 hingga 12 Februari serta 14 Februari mendatang, durasi hari tanpa hujan saat ini masuk dalam kategori sangat pendek (sekitar 1-5 hari). Hal ini memicu kewaspadaan ekstra, mengingat material di permukaan lahan menjadi lebih kering dan rentan terbakar.
Terkait dampak polusi udara, indeks kualitas udara partikulat (PM2,5) di Kalimantan Barat saat ini masih berada dalam kategori "baik" hingga "sedang". Namun, masyarakat tetap diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dalam skala apa pun dan tetap waspada terhadap potensi munculnya asap yang dapat mengganggu kesehatan serta keselamatan transportasi. (*)
Editor : Indra Zakaria