PROKAL.CO- Kondisi geografis Kalimantan Barat yang sangat bergantung pada jalur sungai kini tengah menghadapi tantangan serius. Fenomena alam berupa menyusutnya debit air sungai mengakibatkan distribusi energi ke wilayah perhuluan tersendat, yang memicu kekhawatiran masyarakat akibat langkanya bahan bakar minyak (BBM) di pasaran.
Menanggapi krisis tersebut, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengambil langkah tegas dengan berkomunikasi langsung serta melayangkan teguran keras kepada PT Pertamina (Persero). Langkah ini diambil setelah muncul laporan mengenai harga BBM di tingkat eceran yang melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp50 ribu per liter di beberapa titik terdampak.
Hambatan utama distribusi ini bermula dari pendangkalan alur sungai yang menyebabkan ponton pengangkut BBM berkapasitas besar tidak dapat merapat ke dermaga bongkar muat. Munculnya hamparan pasir di tengah sungai, seperti yang terjadi di wilayah Kabupaten Sanggau, menjadi penghalang fisik yang memaksa operasional distribusi terhenti sementara.
Gubernur menjelaskan bahwa stabilitas pasokan energi adalah prioritas mutlak bagi Pemerintah Provinsi. Ketergantungan wilayah hulu terhadap transportasi air memang menjadi titik lemah saat musim kemarau atau kondisi air surut ekstrem terjadi, sehingga diperlukan strategi cadangan yang lebih tangguh untuk menjamin kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Kabar baiknya, upaya koordinasi intensif tersebut mulai membuahkan hasil. Saat ini, dua ponton besar dilaporkan telah berhasil masuk dan melakukan proses bongkar muat. Untuk mempercepat penyaluran ke tangan konsumen, distribusi kini dialihkan menggunakan mobil tangki Pertamina melalui jalur darat guna memangkas waktu tunggu di SPBU.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat optimistis bahwa dalam pekan depan, kondisi distribusi minyak dan gas akan kembali pulih sepenuhnya. Pengawasan ketat akan terus dilakukan untuk memastikan harga di pasaran kembali normal sesuai ketentuan yang berlaku, sekaligus mengevaluasi sistem distribusi agar kendala serupa dapat diantisipasi lebih baik di masa depan. (*)
Editor : Indra Zakaria