PUTUSSIBAU – Program strategis nasional "Cetak Sawah Rakyat" (CSR) yang digagas Presiden Prabowo Subianto di Desa Sukamaju, Kecamatan Putussibau Selatan, kini berada di ujung tanduk. Alih-alih menjadi lumbung pangan, lahan seluas 200 hektare yang menelan anggaran APBN sebesar Rp6,6 miliar tersebut dinilai gagal total karena pengerjaannya yang amburadul.
Kepala Desa Sukamaju, Hasbi, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap realisasi proyek yang dikerjakan oleh Kodim 1206/PSB tersebut. Menurutnya, kondisi lahan saat ini jauh dari definisi "sawah siap pakai" seperti yang dijanjikan di awal.
"Faktanya di lapangan sawah ini hanya dibuka saja. Tanggul tidak ada, akar kayu juga masih banyak. Bagaimana kita mau menggunakan alat mesin pertanian (Alsintan) jika kondisinya begini? Ini sama saja seperti ladang tahunan," cetus Hasbi dengan nada getir saat ditemui baru-baru ini.
Hasbi memaparkan bahwa perjanjian awal dengan Dinas Pertanian Kapuas Hulu dan pihak kontraktor mencakup pembersihan lahan secara total (land clearing), pembangunan irigasi, serta pembuatan tanggul hingga lahan benar-benar siap tanam. Namun, pengerjaan justru dianggap selesai pada Januari 2026 lalu, padahal tenggat waktu dalam perjanjian masih tersedia hingga Maret 2026.
Kondisi lahan yang masih dipenuhi semak belukar dan sisa akar kayu membuat masyarakat enggan untuk menggarapnya. Hasbi mengaku malu harus mengajak warganya turun ke sawah yang pengerjaannya belum tuntas tersebut.
"Harusnya setelah cetak sawah ini langsung tanam. Tapi masyarakat punya tanda tanya besar, bagaimana cara menanamnya jika lahan masih berantakan? Saya katakan program cetak sawah di desa kami ini gagal," tegasnya.
Lebih lanjut, Hasbi menyoroti adanya jurang pemisah antara laporan yang diterima Pemerintah Pusat dengan realitas di pedalaman Kapuas Hulu. Ia khawatir Jakarta hanya menerima laporan "asal bapak senang" tanpa mengetahui kendala teknis yang menghambat ketahanan pangan di daerah.
"Di Pemerintah Pusat sana mereka tahunya cetak sawah ini jadi dan siap pakai, namun fakta di lapangan kan bertolak belakang," ungkapnya.
Hingga saat ini, aktivitas di lokasi proyek dilaporkan telah berhenti total. Tanpa adanya intervensi lanjutan untuk pembersihan akar dan pembangunan infrastruktur pengairan, anggaran miliaran rupiah tersebut terancam sia-sia, dan mimpi Desa Sukamaju untuk menjadi desa mandiri pangan pun sirna. (*)
Editor : Indra Zakaria