Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Aneh, Luasan Panen Padi di Kalbar Bertambah tapi Jumlah Gabah yang Masuk Penggilingan Turun

Redaksi Prokal • 2026-03-06 11:45:00

ilustrasi padi
ilustrasi padi

PONTIANAK – Sebuah fenomena tak biasa membayangi sektor pertanian Kalimantan Barat sepanjang tahun 2025. Berdasarkan catatan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat, luas lahan panen padi di Bumi Khatulistiwa sebenarnya mengalami ekspansi yang cukup menggembirakan, namun sayangnya hal tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah gabah yang masuk ke penggilingan.

Kepala BPS Kalimantan Barat, Muhammad Saichudin, mengungkapkan bahwa luas panen padi di provinsi ini menyentuh angka 263,55 ribu hektare, yang berarti tumbuh sekitar 6,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik hamparan sawah yang semakin meluas itu, total produksi padi justru terkoreksi turun tipis sebesar 0,91 persen menjadi 757,83 ribu ton gabah kering giling (GKG).

"Peningkatan luas panen memang terjadi, tetapi secara total produksi justru turun tipis. Ini menunjukkan bahwa faktor produktivitas per hektare menjadi tantangan yang sangat memengaruhi hasil akhir," jelas Saichudin dalam Berita Resmi Statistik, baru-baru ini.

Jika hasil panen tersebut dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi meja makan penduduk, maka total produksi beras Kalbar pada 2025 tercatat sebanyak 448,33 ribu ton. Penurunan ini pun terasa secara periodik, di mana puncak kejayaan panen terjadi pada bulan Maret, sementara titik nadir produksi berada pada bulan November yang hanya menghasilkan puluhan ribu ton gabah.

Secara peta wilayah, Kabupaten Sambas masih mengukuhkan posisinya sebagai lumbung pangan utama dengan kontribusi produksi tertinggi, disusul oleh Kabupaten Landak dan Kabupaten Ketapang. Menariknya, terjadi dinamika yang kontras antar daerah; di saat Kabupaten Landak dan Sanggau sukses mencatatkan lonjakan produksi yang signifikan di atas 25 persen, Kabupaten Mempawah justru harus menghadapi kemerosotan produksi yang cukup tajam hingga lebih dari 30 persen.

Melihat ke depan, BPS mulai memetakan potensi untuk kuartal pertama tahun 2026. Meskipun luas panen diperkirakan sedikit melandai, ada secercah optimisme bahwa produktivitas per hektare akan membaik, sehingga total produksi padi diproyeksikan bisa merangkak naik sekitar 1,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Saichudin menegaskan bahwa angka untuk tahun 2026 ini masih bersifat potensi karena didasarkan pada hasil pengamatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA). "Angka potensi ini masih sangat dinamis dan bisa berubah setelah realisasi luas panen serta hasil ubinan di lapangan benar-benar diperoleh," pungkasnya. (mse)

Editor : Indra Zakaria