PROKAL.CO- Duka mendalam menyelimuti Desa Bugang, Kecamatan Hulu Gurung, Kabupaten Kapuas Hulu, menyusul tragedi runtuhnya lubang tambang ilegal yang merenggut tujuh nyawa sekaligus. Insiden maut yang terjadi pada Minggu siang itu menyisakan pilu, terlebih setelah terungkap fakta bahwa empat dari tujuh korban tewas merupakan perempuan.
Sekretaris Camat Hulu Gurung, Zulfauzi, mengonfirmasi komposisi korban dalam peristiwa nahas tersebut. Ia menyebutkan bahwa mayoritas warga yang tertimbun adalah perempuan, sementara tiga lainnya laki-laki. Seluruh korban, yakni Jasno, Juraini, Yuni Safitri, H. Dermansyah, Rinawati, Kamarudin, dan Saidah, telah dikebumikan di tempat pemakaman umum yang sama di desa mereka.
Peristiwa ini bermula ketika sekelompok masyarakat tengah melakukan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di tepi Sungai Embau. Dengan menggunakan mesin jenis dompeng, sepuluh orang pekerja menggali lubang sedalam enam meter. Namun, maut menjemput saat dinding lubang tiba-tiba longsor. Massa tanah dan batu seketika menimbun para penambang, disusul luapan air sungai yang masuk ke dalam galian, menutup ruang bagi mereka untuk menyelamatkan diri.
Kapolsek Hulu Gurung, IPTU Haryono, menyatakan bahwa tiga pekerja lainnya berhasil selamat karena saat kejadian berada di bagian atas lokasi kerja. Proses evakuasi berlangsung dramatis selama kurang lebih dua jam oleh warga setempat yang berjibaku menyedot air dan lumpur demi mengeluarkan jenazah rekan serta kerabat mereka.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa sosialisasi mengenai bahaya PETI sebenarnya telah berulang kali dilakukan. Selain merusak ekosistem dan mencemarkan air, risiko keselamatan jiwa menjadi ancaman nyata yang sering kali terabaikan demi tuntutan ekonomi. IPTU Haryono memastikan bahwa Polres Kapuas Hulu akan memberikan atensi penuh dalam menangani kasus ini sesuai prosedur hukum guna mencegah terulangnya tragedi serupa.
Saat ini, personel Sat Reskrim Polres Kapuas Hulu telah mengamankan tempat kejadian perkara dan melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan kerja tersebut. Tragedi ini menjadi pengingat keras akan tingginya harga yang harus dibayar di balik kilau emas yang digali dari perut bumi secara ilegal. (*)
Editor : Indra Zakaria