Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Maut di Balik Kilau Emas: Kisah Tragis 7 Warga Desa Bugang yang Terkubur di Perbukitan

Redaksi Prokal • 2026-03-09 13:31:32

Aktivitas penambangan rakyat di kawasan perbukitan Kapuas Hulu. Longsor di lokasi tambang ilegal Desa Bugang menewaskan tujuh warga yang sedang menambang pada Minggu (8/3/2026). (IST)
Aktivitas penambangan rakyat di kawasan perbukitan Kapuas Hulu. Longsor di lokasi tambang ilegal Desa Bugang menewaskan tujuh warga yang sedang menambang pada Minggu (8/3/2026). (IST)

KAPUAS HULU – Tragedi kemanusiaan kembali memukul Desa Bugang, Kecamatan Hulu Gurung. Aktivitas penambangan emas yang selama ini menjadi sandaran hidup warga setempat berubah menjadi petaka pada Minggu (8/3) siang. Tujuh orang penambang dilaporkan tewas setelah tertimbun material tanah dan batu di kawasan perbukitan Kampung Hilir sekitar pukul 13.00 WIB.

Lokasi kejadian yang cukup terpencil, sekitar lima hingga enam kilometer dari pusat ibu kota kecamatan, tidak menghalangi warga untuk segera melakukan upaya pertolongan. Begitu kabar longsor tersiar, masyarakat sekitar langsung bahu-membahu mengevakuasi para korban dari timbunan tanah.

Sekretaris Camat Hulu Gurung, Zulfauzi, mengonfirmasi kabar duka tersebut. Berdasarkan informasi yang ia himpun, seluruh korban merupakan warga Desa Bugang yang tengah bekerja saat tebing di lokasi tambang tiba-tiba runtuh.

"Informasi yang saya terima memang benar ada tujuh warga Desa Bugang yang meninggal dunia saat menambang dan tertimbun longsoran tanah," ujar Zulfauzi dengan nada prihatin.

Insiden maut ini kembali memicu diskusi panas mengenai praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah Kapuas Hulu. Wakil Ketua DPRD Kapuas Hulu, Topan Ali Akbar, yang telah menerima laporan mendalam terkait kejadian tersebut, menyatakan bahwa para korban terdiri dari pria dan wanita.

Topan menyampaikan duka cita mendalam, namun ia juga memberikan catatan keras kepada pemerintah. Menurutnya, berulangnya kejadian serupa menandakan adanya masalah sistemik yang belum tertangani dengan serius.

"Korbannya tujuh orang dan semuanya warga Desa Bugang. Kejadian ini memerlukan langkah serius. Dengan keterbatasan kewenangan pemerintah daerah, apakah kita harus terus membiarkan korban bertambah?" tegas Topan.

Pihak keluarga dan warga desa berencana memakamkan ketujuh jenazah pada sore hari di pemakaman desa setempat. Sementara itu, tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang risiko besar yang harus dihadapi masyarakat kecil demi menyambung hidup di tengah keterbatasan pilihan ekonomi.(*)

Editor : Indra Zakaria