Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Sungai Seberuang Keruh Pekat, Warga Ancam Kibarkan Bendera Setengah Tiang di HUT RI

Redaksi Prokal • 2026-03-09 14:20:00

Aliran Sungai Nanga Nyawa menjadi keruh dan berwarna cokelat diduga karena aktivitas PETI di hulu sungai. (ISTIMEWA)
Aliran Sungai Nanga Nyawa menjadi keruh dan berwarna cokelat diduga karena aktivitas PETI di hulu sungai. (ISTIMEWA)

PROKAL.CO- Kemarahan warga Desa Tanjung Keliling, Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, memuncak. Kondisi Sungai Seberuang yang berubah menjadi keruh pekat selama beberapa hari terakhir memicu reaksi keras dari masyarakat setempat yang menuding aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah hulu sebagai biang keladinya.

Kepala Dusun Tanjung Keliling, Putra, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pencemaran yang terus berulang ini. Menurutnya, kuat dugaan bahwa aktivitas PETI di Dusun Nanga Nyawa, Desa Nanga Lot, menjadi penyebab utama rusaknya kualitas air sungai yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan warga.

"Pasti ada pekerjaan PETI di hulu sungai Nanga Nyawa. Kalau tidak ada PETI, mana mungkin air sungai Seberuang keruh seperti ini," ujar Putra dengan nada kesal.

Kondisi air yang sudah tidak layak konsumsi ini membuat warga terpaksa berhenti menggunakan sungai untuk kebutuhan sehari-hari. Putra bahkan menyindir kualitas air tersebut dengan kalimat pedas, menyebutkan bahwa air yang tercemar itu bahkan tidak layak diberikan kepada binatang, apalagi manusia.

Ketidakhadiran solusi permanen dari Pemerintah Daerah maupun Aparat Penegak Hukum (APH) memicu ancaman serius dari warga. Sebagai bentuk protes atas apa yang mereka anggap sebagai pembiaran, masyarakat berencana melakukan aksi simbolis pada peringatan HUT RI 17 Agustus 2026 mendatang.

"Jangan salahkan kami ketika bendera merah putih dikibarkan setengah tiang nantinya," tegas Putra.

Ancaman pengibaran bendera setengah tiang ini merupakan simbol duka sekaligus kritik tajam terhadap keseriusan pihak berwenang dalam menuntaskan masalah tambang ilegal di wilayah tersebut. Warga menilai, jika ada komitmen nyata dalam penegakan hukum, pencemaran lingkungan yang merugikan hajat hidup orang banyak ini tidak akan terjadi berkali-kali.

Kini, bola panas berada di tangan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan APH. Masyarakat menuntut tindakan tegas secepatnya agar Sungai Seberuang kembali jernih sebelum kekecewaan mereka berujung pada aksi protes yang lebih luas di momen kemerdekaan nanti. (*)

Editor : Indra Zakaria