Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Melawan Lelah Demi Lebaran: Kisah Perantau Sawit Tempuh Jalur Darat-Laut Usai Tiket Pesawat Ludes

Redaksi Prokal • 2026-03-16 10:30:00

ANTRE MUDIK: Calon penumpang mengantre di loket Pelabuhan Pontianak sebelum naik kapal tujuan Semarang, Jumat (13/3). (MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST)
ANTRE MUDIK: Calon penumpang mengantre di loket Pelabuhan Pontianak sebelum naik kapal tujuan Semarang, Jumat (13/3). (MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST)

PONTIANAK- Sulitnya mendapatkan tiket pesawat menjelang Lebaran 1447 Hijriah memaksa para perantau memutar otak demi bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Pemandangan kontras terlihat di Pelabuhan Pontianak pada Jumat siang, di mana ratusan calon penumpang mulai memadati area terminal keberangkatan. Mereka memilih jalur laut sebagai alternatif terakhir setelah kehabisan akses transportasi udara yang kini kian sulit dicari.

Di tengah hiruk-pikuk antrean loket, tampak Alif dan Tukimin, dua pekerja asal Jawa Tengah yang baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari pedalaman Kalimantan Barat. Keduanya merupakan buruh di salah satu perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kapuas Hulu. Sebelum sampai di dermaga, mereka harus berjibaku dengan perjalanan darat selama puluhan jam melintasi jalur trans-Kalimantan hanya untuk mencapai Pontianak.

Bagi Alif dan Tukimin, mudik kali ini memberikan kesan mendalam sekaligus ujian kesabaran karena merupakan pengalaman pertama mereka pulang kampung sejak merantau ke Bumi Khatulistiwa. Meski raga sudah terasa letih akibat guncangan bus dari Kapuas Hulu, mereka masih harus menunggu jadwal keberangkatan kapal KM Dharma Kartika VII tujuan Semarang yang baru akan lepas sauh pada malam hari.

Tukimin mengaku sebenarnya sangat berharap bisa pulang menggunakan pesawat agar lebih praktis dan cepat sampai ke tujuan. Namun, perburuan tiket pesawat berakhir buntu karena seluruh kursi menuju Pulau Jawa telah ludes terjual jauh-jauh hari. Alhasil, menyeberangi Laut Jawa dengan kapal penumpang menjadi satu-satunya pilihan rasional agar tetap bisa merayakan hari kemenangan di rumah. (*)

 

Editor : Indra Zakaria