Dalam bulan Ramadan ini, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa setan itu dibelenggu. Ini sesuai hadits Nabi “Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari Muslim).
==============================
Oleh: Masroliyan Nor S.Pd.I, M.Pd
Guru Madya MAS Ainul Amin Balangan
==============================
Pada saat Ramadan setan itu diikat tubuhnya, dikurung dan dipenjara, sehingga dia tidak bisa lagi menggoda manusia. Kalau benar setan-setan itu diikat atau dipenjara tentunya tidak ada lagi kejahatan di muka bumi ini.
Buktinya, selama Ramadan masih ada kejahatan-kejahatan yang dilakukan manusia. Seperti pembunuhan, perkosaan, perzinahan, mabuk-mabukan, perkelahian (tawuran), perjudian dan lainnya.
Pada bulan Ramadan juga banyak yang suka menjelek-jelekkan orang lain, kata-katanya kasar dan penuh dengan hasutan dan adu domba.
Ada juga yang suka marah-marah dan membentak orang lain. Ada juga yang matanya jelalatan memandang lawan jenisnya dengan penuh birahi. Kebohongan juga ada dimana-mana. Korupsi masih merajalela. Ada yang menipu dengan mengatakan barang yang dijualnya baik ternyata buruk.
Mengurangi takaran atau timbangan. Mengatakan modal dagang dan keuntungannya tidak seberapa malah rugi dan seterusnya. Suka pamer dan sombong. Padahal mereka waktu itu sedang berpuasa. Kenapa mereka melakukan semua itu, padahal mereka berpuasa?
Apakah setan telah bebas dari penjara sehingga leluasa membisikkan kejahatan kepada mereka? Tentu tidak. Rasulullah Saw telah menyatakan bahwa setan dibelenggu. Tidak mungkin setan bisa melakukannya kepada manusia. Lantas siapa?
Begitulah kesalahkaprahan sebagian kita menafsirkan hadis itu. Sebagian kita menggambarkan bahwa setan adalah sosok (makhluk). Sehingga setan bisa diikat atau dipasung dan tidak bisa mengganggu manusia. Setan itu adalah karakter (sifat) saja, bukan sosok. Sifat-sifat jahat dan buruk yang dimiliki oleh bangsa jin dan manusia itulah yang disebut setan. Sifat-sifat buruk dan jahat itu akan menghalangi manusia untuk dekat dengan Allah Swt.
Sifat-sifat buruk itu akan memunculkan perbuatan jahat. Disitulah setan memainkan peranannya sebagai pemain tunggal agar manusia tersesat dari jalan Allah Swt. Korbannya adalah bangsa jin dan manusia. Sifat-sifat buruk yang dimiliki jin dan manusia itu sangat sulit untuk dihilangkan. Sebab, manusia memiliki sebagian sifat-sifat itu di dalam dirinya. Dalam diri manusia ada yang disebut Nafsu.
Ini bukan mengacu kepada nafsu dalam bahasa Indonesia yang artinya dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik. Nafsu disini dalam istilah Al qur’an adalah jiwa. Yang cenderung baik dan ada juga yang buruk. Allah Swt menciptakan jiwa (nafs) secara sempurna dan menganugerahkan kepada nafsu ini kemampuan ke arah yang baik dan buruk. Bagi mereka yang mampu mensucikan jiwanya, maka dia akan beruntung, sebaliknya, jika mereka mengotori jiwanya maka merugilah dia (Lihat Qs. 91: 7-10).
Pada bulan Ramadan, umat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh. Ketika berpuasa, setiap Muslim disuruh untuk senantiasa menahan dari segala yang membatalkan puasa, seperti makan, minum dan bersetubuh. Larangan itu hanya berlaku pada siang hari saja, pada waktu malam ketiga hal itu dibolehkan. Tidak itu saja, puasa yang baik itu tidak hanya mampu menahan makan, minum, dan bersetubuh.
Puasa dituntut untuk lebih dari itu. Yakni, mampu menahan diri dari segala sifat-sifat jelek dan buruk yang bisa mengurangi pahala puasa. Rasulullah Saw menyatakan bahwa puasa itu adalah benteng (pertahanan). Untuk itu, ketika seseorang berpuasa hendaklah dia jangan mengatakan perkataan yang buruk, kotor, jorok dan porno. Ketika berpuasa juga dilarang berkelahi atau bertengkar, berteriak-teriak sambil memarahi dan mengumpat, menghina, merendahkan, berbohong dan sebagainya. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi maka katakan saja bahwa dia sedang berpuasa.
Sebab, orang yang berpuasa tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Mulutnya terjaga dari perkataan kotor. Matanya terjaga dari pandangan yang yang mengandung birahi. Telinganya terjaga dari pendengaran yang jelek. Kakinya terjaga dari langkah menuju tempat maksiat. Tangannya juga terjaga dari sentuhan yang jelek. Bahkan hatinya pun juga terjaga dari sifat sombong, pamer, iri, dengki, dan sebagainya. Semua anggota tubuhnya terjaga dari perbuatan buruk. Hidupnya senantiasa terkontrol untuk tidak melakukan kejahatan. Puasa telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang baik. Pribadi yang berakhlakul karimah. Yang senantiasa taat terhadap perintah Allah Swt dan memiliki sifat-sifat yang baik.
Hadis Nabi Saw yang menyatakan setan dibelenggu merupakan metafora, yaitu pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.
Hal ini juga bisa dipahami dari awal hadis yang menyatakan bahwa pintu-pintu surga terbuka dan pintu-pintu neraka tertutup. Surga dan neraka disediakan oleh Allah Swt kelak di alam akhirat. Sebagai bentuk balasan bagi makhluknya yang berbuat baik dan jahat. Pintu surga dan neraka hanya akan dibuka oleh Allah Swt pada Hari Pembalasan. Ketika manusia dan jin diadili oleh Allah Swt atas perbuatan mereka selama di dunia. Bagi yang banyak kebaikannya maka akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, jika banyak kejahatannya maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka.
Untuk itu, hadis yang berkaitan dengan pintu surga, pintu neraka dan setan dibelenggu merupakan metafora. Kenapa bisa begitu? Sebab, selama Ramadan, Allah Swt memberikan ‘obral pahala’. Pada bulan Ramadan, Allah Swt memberikan pahala yang berlipat ganda terhadap hamba-Nya yang beribadah. Se kecil apapun ibadah yang dilakukan akan mendapat pahala yang besar. Sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya di luar Ramadan.
Rasulullah Saw menyatakan tidur pada saat berpuasa itu ibadah. Tapi jangan sampai tidurnya berlebihan sehingga lalai melaksanakan ibadah yang wajib. Bau mulut orang yang berpuasa harum bagai minyak kasturi, bahkan lebih harum dari itu disisi Allah Swt. Ibadah-ibadah sunnah banyak dilakukan selama Ramadan. Seperti salat tarawih, baca quran, iktikaf di masjid dan musala, sedekah, infaq, zakat, silaturahmi, tahajud, sahur, dan sebagainya.
Selama Ramadan orang-orang mampu menjaga matanya dari pandangan kotor, mulut terjaga dari perkataan jelek, telinga mendengar kalimat atau suara yang baik, kaki dilangkahkan menuju masjid dan musala untuk ibadah dan mendengar ceramah. Hati terjaga dari sifat sombong, iri, dengki, suka pamer, dan sebagainya. Pada bulan Ramadan orang berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Apalagi di sepuluh akhir Ramadan, banyak orang yang meningkatkan aktivitas ibadahnya.
Mereka melakukan itu untuk mengharapkan kedatangan malam seribu bulan, yakni Lailatur Qadar. Malam yang apabila didapatkan atau ditemuinya akan mendapat pahala sama dengan ibadah yang dikerjakan selama 1000 bulan. Persamaan usia manusia sekitar 80 tahun melakukan ibadah. Sungguh luar biasa. Ini melambangkan bahwa pintu surga terbuka.
Selain itu, kejahatan selama Ramadan juga berkurang. Bukannya tidak ada lagi. Pembunuhan, perkelahian, korupsi, tawuran mabuk-mabukan, judi, zina, riba, dan lain-lainnya cenderung menurun. Para pelaku kejahatan juga menghormati bulan Ramadan. Mereka untuk sementara ‘tiarap’ dulu berbuat jahat. Sifat-sifat buruk juga tertahan, seperti sombong, riya, iri, dengki, marah, mengolok-olok, meremehkan, menghina, fitnah, gibah, adu domba, dan sebagainya. Ini juga perlambang dari pintu-pintu neraka tertutup.
Di tambah lagi dengan setan dibelenggu. sehingga membuat kesyahduan dan kekhusyukan Ramadan sungguh sangat terasa dari awal sampai akhirnya. Dari sini kita bisa memahami bahwa pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup dan setan dibelenggu adalah metapora. Pada saat ramadan setan tidak bisa atau sangat sulit membisikkan kejahatan kepada manusia. Ini disebabkan, umat Islam berlomba-lomba melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. Senantiasa melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat dan buruk.
Selama Ramadan, semua anggota tubuhnya terjaga dari perbuatan jahat. Mata ditahannya memandang kepada yang mengandung birahi. Mulut dan lisannya terjaga mengeluarkan kata-kata kasar dan mengumpat. Kaki selalu dilangkahkan menuju masjid dan musala. Telinganya senantiasa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al qur’an dan selawat Nabi Saw. Semoga bisa melakukannya. (*)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin