Sebuah rumah dibangun di tengah tanah kosong di lahan rawa. Dikelilingi perumahan, tapi tak ada jalan lingkungan. Setiap hari, bila hendak menuju ke jalan, si pemilik rumah melintasi rawa dengan rakit yang compang-camping.
***
Rumah itu berada di Gang Taufik, RT 27. Masih satu kawasan di Jalan Simpang Limau, Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur. Pemilik rumah itu pasangan suami istri. Zainal Abidin dan Halimah.
Meski berada dalam gang, jangan dikira lokasi rumah itu berdampingan dengan rumah warga lainnya. Ada jarak yang terpaut dari rumah terakhir di gang itu. Sekitar 100 meter. Mulanya, penulis mengira dari rumah terakhir di gang itu untuk menuju rumah pasutri ini bisa dilalui dengan berjalan kaki. Lantaran ketika memasuki gang, kondisi jalannya lumayan baik. Namun, seorang warga di situ buru-buru memperingatkan penulis. “Tak bisa lewat situ. Tak ada jalan,” ujar warga.
Ditengok, benar. Memang tak ada jalan di situ. Yang ada hanya lumpur dan rawa. “Kecuali mau nekat. Lumpurnya dalam. Bisa sepaha orang dewasa,” tambah warga tadi.
Ah, sungguh tak elok rasanya berkunjung ke rumah orang dengan badan berlumpur. Warga yang memperingatkan penulis itu lantas bercerita semula memang ada akses jalan.
Bentuknya titian kayu. Namun, titian itu hancur digempur banjir awal tahun 2021 lalu. Alhasil, bangunan rumah itu kini seperti terisolir.
Lalu, apakah ada akses lain? Jawabannya, ada. Akses terdekat adalah melalui ujung Kompleks Bumi Melati Indah. Benar. Sungguh dekat. Jaraknya hanya terpaut sekitar 40 meter. Tapi, lagi-lagi tak mudah. Dari ujung kompleks, hanya ada air yang di atasnya mengapung gulma.
Inilah akses yang dilintasi Zainal Abidin dan Halimah setiap harinya. Menggunakan rakit yang terbuat dari jeriken plastik. Yang di atasnya disusun papan.
Malang, kondisi rakit itu juga jauh dari kata layak. Kayunya compang-camping. Baru dinaiki, sudah miring. Beruntung, rakit itu masih bisa dinaiki satu orang dewasa dan seorang anak-anak.
Tidak habis sampai di situ. Rakit dijalankan bukan dengan cara dikayuh. Tapi, berpegang dengan tali yang terbuat dari kabel bekas. Tali itu dibentangkan dari rumah Zainal ke sebuah batang di ujung kompleks. Panjangnya, 40 meter.
Dikunjungi di kediamannya kemarin (29/12), hanya ada Halimah dan empat anaknya. Anak pertama, Ahmad Rizki Noor. Duduk di bangku kelas I SMP. Ia yang kerap menjadi ‘juru kemudi’ rakit. Anak kedua, Lailatussafa masih sekolah dasar (SD). Sedangkan dua anak lainnya, masih kecil-kecil.
Halimah, hanyalah seorang ibu rumah tangga. Sedangkan suaminya, Zainal adalah seorang sopir. Dituturkan perempuan 33 tahun itu, dia sekeluarga sudah mendiami rumah tersebut selama lima tahun. Tepatnya, sekitar tahun 2017 lalu. Halimah merupakan warga pendatang asal Amuntai. “Kami membeli tanah di sini karena harganya murah. Makanya membangun rumah di sini,” ujarnya.
Namun, Halimah mengaku tidak tahu bila ternyata tak ada akses jalan di situ. Alhasil, bersama warga sekitar, sang suami dan dirinya membangun akses jalan sendiri berupa titian kayu. Tentu titian yang dibangun bukanlah titian berlantai kayu ulin, dicor, hingga berpagar. Titian yang dibangun alakadarnya saja. Asalkan bisa jadi akses menuju rumah. Namun, titian sudah hancur. “Bisa saja dilewati lagi. Tapi menunggu airnya surut. Itupun, lumpurnya bisa sampai sepaha,” tekannya.
Alhasil, rakit lah yang kini jadi tumpuan Halimah dan keluarganya. Terhitung dilakukan sejak banjir di tahun 2021 melanda. “Sudah dua tahun, kami sekeluarga memakai rakit itu,” ujarnya.
“Mau ke masjid, belajar mengaji, dan atau mau ke sekolah juga pakai rakit itu. Itu satu-satunya akses yang nyaman dilewati,” timpal sang anak, Ahmad Rizki Noor.
Halimah menambahkan, lantaran akses yang sulit itu, dirinya sangat jarang keluar rumah. Bahkan, untuk berbelanja kebutuhan rumah biasa menitipkan ke suaminya.
Sedangkan untuk alat transportasi, misalnya motor, dititipkan ke tetangganya di Gang Taufik. “Kami sekeluarga memang pernah merasa lelah karena terus memakai rakit. Kami juga pernah tercebur. Tapi mau bagaimana lagi. Banyak-banyak bersabar saja,” tutupnya.
Kondisi yang dialami Halimah dan keluarganya turut mendapat perhatian dari warga sekitarnya. Salah satunya Inu Karyana Saputra. Pihaknya mengaku prihatin, lantaran setiap hari melihat pemandangan itu. Pemandangan ketika anak-anak Halimah yang hendak berangkat sekolah, atau hendak pergi ke masjid, mesti menggunakan rakit untuk menyeberang.
Meski berbeda RT, warga Kompleks Bumi Melati Indah itu sempat menginisiasi warga lainnya melakukan penggalangan dana. Sayangnya, dana yang terkumpul terbatas untuk membuat akses jalan berupa titian. “Tapi dananya tetap kami serahkan. Namun, kami suruh gunakan untuk keperluan lain,” jelasnya, kemarin (29/12).
Inu juga membeberkan, selama dua tahun kondisi yang dirasakan Halimah dan keluarga, belum ada sama sekali perhatian dari lurah setempat. Padahal, pihaknya juga telah lama melaporkan kondisi tersebut. Namun, jawaban yang diterima justru kurang memuaskan. “Jawabannya, nanti akan dievaluasi. Tapi, sampai sekarang tak ada pergerakan apa-apa,” tandasnya.
Di kejauhan, rakit itu kembali meluncur pelan membelah gulma, menuju jalanan Kompleks Bumi Melati Indah. Di atas rakit, Halimah dan seorang anaknya tampak duduk. Siang itu, Halimah bertindak sebagai ‘juru kemudi’. Sementara sang anak, duduk diam melihat sang ibu yang pelan-pelan menarik tali.
Pemko Tak Jeli Melihat Kondisi Warga
Kondisi yang dialami Halimah dan keluarganya itu viral di media sosial. Seorang warga mengunggah video saat anak Halimah menggunakan rakit itu menuju rumahnya. Peristiwa ini menjadi perhatian anggota Komisi III DPRD Banjarmasin, Hendra. “Kok bisa, pemko sampai membiarkan ada warganya yang terisolir seperti ini,” ucapnya, (29/12). Ia pun lantas mendesak pemko khususnya Dinas PUPR dan Disperkim untuk segera turun ke lapangan. Supaya mengetahui penanganan seperti apa yang harus dilakukan.
Misalnya, untuk mengetahui, apakah di sana masuk jalur hijau, atau memang tidak ada akses jalan yang secara legal formal bisa dibangun akibat bukan hak milik pribadi dan ada dokumen penyerahan aset.
“Kalau memang akses jalan tersebut memang mendesak dan pernah ada, namun rusak karena banjir, maka harus secepatnya mencarikan solusi terbaik,” tegasnya.
Menurutnya, jika warga sekitar mengaku sudah lama mengadukan hal ini kepada lurah, maka kondisi ini jelas menunjukkan bahwa pemko memang tidak peka dengan kepentingan masyarakat. Menurut Hendra, pihaknya di Komisi III sudah sering kali menekankan agar pembangunan yang dijalankan harus berdasarkan program yang benar-benar diperlukan masyarakat. “Bukan malah berdasarkan besarnya nilai proyek,” tegasnya.
Bahkan, Hendra terang-terangan menuding pemko lebih mendahulukan atau memilih proyek yang besar dan lebih menguntungkan, ketimbang proyek yang sebenarnya lebih dibutuhkan masyarakat. “Seperti sekarang ini, viral dahulu, baru ribut mau memantau dan mengerjakan. Hal seperti ini sudah terlalu sering terjadi,” cecarnya.
Hendra meminta Pemko Banjarmasin, khususnya SKPD mitra kerja Komisi III harus jeli melihat proyek yang diajukan dalam level musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang). “RT, lurah dan camat, wajib peka melihat kondisi di lapangan. Ini lho, banyak proyek kecil yang memang sangat diperlukan masyarakat,” tekannya.
Apa yang diungkapkan Hendra itu bukan isapan jempol belaka. Saat dikonfirmasi, Camat Banjarmasin Timur, Rusdiana ternyata sama sekali tidak mengetahui bahwa ada warganya yang terisolir. “Tidak ada laporan dari lurah tentang itu,” ungkapnya, kemarin (29/12).
Kendati demikian, Rusdiana berjanji segera mengomunikasikan kondisi itu ke Lurah Sungai Lulut. Mengapa kondisi itu justru luput dari usulan Musrenbang. “Nanti kami update lagi. Rencananya besok (hari ini, red) pagi, kami akan ke sana melakukan pengecekan bersama lurah dan SKPD terkait,” janjinya.
Lurah Sungai Lulut, Suryani Syahril mengaku mengetahui kondisi yang dialami Halimah dan keluarganya. Ia juga tahu bahwa di ujung Gang Taufik itu memang ada titian yang dibangun warga. Namun belakangan, titian itu rusak akibat tergenang banjir besar di awal 2021 lalu. “Titian itu dibangun oleh warga, karena merasa kasihan dengan si penghuni rumah,” ungkapnya. “Titian itu hanya menuju ke rumahnya (Halimah dan keluarganya, red) saja. Sebelumnya memang tidak ada akses menuju ke sana,” tambahnya.
Lantas, kenapa titian itu tidak segera diperbaiki? Mengenai hal itu, Suryani menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa tidak bisa mengajukan hal itu dalam musrenbang di tingkat kelurahan, karena titian itu dinilai berada di atas tanah milik orang lain. “Kecuali si pemilik tanah mau menyerahkan sedikit ruang untuk membangun jalan, apakah itu dijual atau diserahkan ke pemko,” jelasnya.
Kendati demikian, Suryani juga menuturkan bahwa pihaknya akan kembali melakukan survei ke lokasi. Sekaligus mencarikan solusi terbaik.
Ketiadaan akses itu juga dikonfirmasi ke Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman (Disperkim) Kota Banjarmasin. Sang kepala dinas, Chandra Iriandi Wijaya mengaku tidak mengetahui kondisi tersebut. Namun, ia menjanjikan tim survei di dinasnya akan segera meninjau dan mengecek lokasi. “Bagaimana hasilnya, setelah pengecekan nanti akan kami diskusikan. Apakah masuk penanganan dinas kami, atau SKPD lain nantinya,” pungkasnya. (war/mr-158/dye)