Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarmasin memulai pendataan sekolah-sekolah yang minim siswa tahun ini. Rencananya, sekolah yang diketahui minim siswa itu bakal digabung saja dengan sekolah terdekat. Upaya itu dilakukan seiring rencana Disdik Banjarmasin hendak membenahi atau memperbaiki bangunan sekolah yang mengalami kerusakan. Khususnya, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Besaran dana yang digelontorkan untuk perbaikan gedung sekolah Rp5,3 miliar. Kepala Disdik Banjarmasin, Nuryadi menjelaskan pendataan ini juga agar pemenuhan sarana-prasarana bisa lebih dipertimbangkan. “Sekolah yang muridnya sedikit, itu digabung dengan sekolah terdekat,” ujarnya.
“Bila bangunan sekolah yang rusak diperbaiki, justru muridnya tidak ada, kan sayang,” tambahnya. Untuk contoh SD yang lokasinya berdekatan, Nuryadi menyebutkan SDN SDN Teluk Dalam 9 dan Teluk Dalam 10. Nuryadi menekankan pendataan sekolah yang sepi peminat tidak melulu berada di kawasan pinggiran saja. Tapi, juga menyasar ke pusat kota. Contoh, salah satu SD yang terletak di Kelurahan Melayu. Tanpa menyebutkan nama sekolahnya, Nuryadi menyebut bahwa sekolah itu diklaimnya kurang diminati. “Sejauh ini, faktor utamanya karena jumlah penduduknya juga sedikit. Jadi, tidak banyak anak-anak yang bersekolah,” jelasnya. Kondisi itu cukup kontras dengan sekolah yang berada di kawasan Kelurahan Sungai Andai. Menurutnya, terbilang cukup padat penduduk.
Selain faktor jumlah siswa, skala prioritas perbaikan juga karena faktor keterdesakan. Misalnya, gedung sekolah yang sudah tampak miring dan rusak berat. Nuryadi mencontohkan seperti yang terjadi SDN Antasan Besar 7, dan SDN Kelayan Barat 2. Bagaimana dengan SDN Basirih 10? Seperti diketahui, bangunan sekolah ini berada di kawasan terpencil di Kota Banjarmasin. Akses menuju sekolah ini hanya bisa melalui jalur sungai. Itu pun mesti menunggu pasang surut sungai. Perahu memang disediakan, tapi bukan bantuan dari pemko. Namun, bantuan dari instansi lain atau donatur. Kabar terbaru, perahu untuk membawa guru dan sebagian murid itu masih dalam tahap perbaikan. “Senin mendatang, baru bisa dipakai. Saat ini, proses belajar mengajar dilakukan di rumah ketua komite sekolah,” ujar Kepala SDN Basirih 10, Irnawati, (3/1).
Irna juga membeberkan kondisi gedung sekolah. Menurutnya, masih banyak yang perlu dibenahi. “Contoh ruang guru, kami memakai perpustakaan. Untuk toilet, kondisinya juga sudah miring,” ucapnya. Itu belum termasuk dengan kondisi halaman juga kerap terendam, alias kini berubah menjadi berlumpur. Alhasil baik siswa maupun guru tak bisa mengenakan alas kaki. “Jadi, kami memerlukan peninggian halaman,” bebernya. “Selama tiga tahun saya di situ, seingat saya sekolah kami belum tersentuh bantuan pembangunan,” tegasnya. Kepala Disdik Banjarmasin, Nuryadi membenarkan bahwa ada sejumlah persoalan yang dialami SDN Basirih 10. Salah satunya akses yang hanya bisa ditempuh dengan menggunakan transportasi air. Sekolah sebenarnya bisa dijangkau melalui jalur darat. Namun, terbentur dengan kawasan hijau dan lahan pertanian warga.
Kendati demikian, Nuryadi mengklaim bahwa untuk sarana prasarana dan pelayanan minimal yang ada di sekolah itu sudah dipenuhi oleh Disdik Banjarmasin. “Tinggal nanti soal konsep mobilisasi ke sekolah yang selama ini menjadi hambatan. Kami carikan solusinya,” janjinya. (jpc)
Editor : izak-Indra Zakaria