Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pernah Ada Kereta Api di Kalsel, Pada Masa Penjajahan

izak-Indra Zakaria • 2023-10-17 11:36:09
Jalur Kereta di Pertambangan Batu Besar, Pulau Laut Tahun 1920-an. | Foto: Koleksi KITLV
Jalur Kereta di Pertambangan Batu Besar, Pulau Laut Tahun 1920-an. | Foto: Koleksi KITLV

Meski sampai ini pembangunan rel kereta api di Kalsel belum ada tanda-tanda dimulai. Namun, asal tahu saja, kereta api di Kalsel memiliki catatan sejarah panjang. Bahkan sejak masa Hindia Belanda.

Dalam hal perkeretaapian, Belanda ternyata tidak pelit saat menjajah Indonesia. Jaringan kereta api terbangun dengan baik di masa penjajahan. Tujuannya untuk melancarkan eksploitasi sumber daya alam dari negara jajahannya.

Jaringan rel kereta api tak hanya dibangun di Pulau Jawa, juga di Kalsel. “Ini adalah sebuah keharusan, karena banyak hasil bumi yang harus diangkut ke kota-kota pelabuhan sesegera mungkin agar bisa terjual, dan uang pajaknya bisa segera masuk ke kas pemerintah,” kata Dosen FKIP ULM, Mansyur.

Dipaparkannya, mengenai keberadaan kereta api di Borneo, terdapat studi Mr Gerard de Graaf, seorang railfans (penggemar kereta api) Belanda yang juga seorang fotografer.

Dalam seminar Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, De Graaf banyak mengutip pernyataan tentang fenomena kereta api di nusantara dalam buku Onze Koloniale Minjnbouw De Steenkolonindustria karya Ir R.J Van Lier.

Dalam seminar tersebut, Gerard membahas tentang keberadaan kereta api di daerah tambang di Indonesia dalam kurun waktu antara tahun 1888-1956, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. Dalam buku Van Lier, ia mengakui keberadaan kereta api di Kalimantan benar adanya. Walaupun demikian, kereta api yang dimaksud adalah kereta tambang.

“Pengaruh tambang batu bara pada perkembangan teknologi begitu luar biasa. Saat itu batu bara digunakan sebagai sumber energi pada lokomotif kereta api dan kapal uap,” paparnya.

Di Kalsel, kereta paling awal ada di tambang batu bara Oranje-Nassau. Di sini terdapat salah satu pit horisontal menuju ke gunung. Sebuah kereta kecil yang berupa gerobak didorong dengan rel buatan antara tambang dan sungai Riam Kiwa, sebagai alat transportasi pengangkutan batu bara.

Mansyur menerangkan Balai Areologi Banjarmasin menemukan lori pengangkut batu bara pada tahun 2012 lalu. Lori adalah kereta menggunakan ban (roda) besi di atas sepasang rel yang ditarik tenaga manusia. Rel lori memang belum ditemukan sepanjang eskavasi Balai Arkeologi Banjarmasin di penambangan batu bara Oranje-Nassau.

Mansyur menerangkan kereta api untuk pertambangan diadakan di Borneo pada tahun 1988. Salah satunya di Pulau Laut, Kotabaru. Bahkan beberapa rolling-stock seperti lori dan jalan rel masih ada yang tersimpan di suatu gudang. Demikian juga dengan bekas-bekas jembatan, juga kerap dijumpai. 

Masa-masa jaya tambang di Kalimantan, khususnya di Kalsel berlangsung sekitar tahun 1888-1954. Adapun hasil tambang batu bara tersebut sebatas untuk keperluan energi, di antaranya kapal laut, lokomotif uap, dan pembangkit listrik.

“Perusahaan kereta tambang tersebut dikelola Borneo Maatschappij dengan lebar spoor 600 milimeter, serta sebagian berukuran 1.067 milimeter,” paparnya.

Untuk mendukung terlaksananya operasional pertambangan batu bara, Pemerintah Hindia Belanda telah menyiapkan hal-hal pendukung sejak tahun 1903, sehingga investor dapat bekerja dengan baik. Dengan bekerja sama dengan investor Perusahaan Tambang Pulau Laut (De Steenkolen-Maatschappij Poeloe Laoet), dibangun jalan angkut sepanjang 5 Km dari daerah Semblimbingan ke Pelabuhan Stagen.

“Saat itu, pihak investor juga menyediakan kereta tambang dan perancah konstruksi besar untuk mengangkut batu bara dan sebuah kapal pengangkut batu bara ke Eropa,” terang Ketua Lembaga Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan itu. 

Dari peta jalur rel kereta (spoorweg) Seblimbingan-Stagen menunjukkan bahwa rel kereta tambang melalui jalan perumahan penduduk yang berada di sekitar lokasi pertambangan.

“Dari wilayah pertambangan Seblimbingan rel kereta juga melalui satu jalur sungai dan tiga jalur jalan darat sampai ke Pelabuhan Stagen,” jelasnya.

Bukti keberadaan kereta api di Kalsel, sebutnya, didukung pula beberapa sumber berupa dokumentasi foto koleksi Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV). Foto tersebut di antaranya foto kereta tambang ke Pelabuhan Stagen tahun 1903-1930. 

Kemudian koleksi Ellerman, Series Vereeniging Koloniaal Instituut, Afdeeling Tropische Hygiene, Amsterdam tahun 1915. Selanjutnya koleksi Hydrographich Bericht, Zeemans gids, Vooe Den Oost-Indischen Archipel, Deel III, Aanvullingsblad no.2 tahun 1904.(mof/gr/dye)

Editor : izak-Indra Zakaria