Banjir selalu menjadi momok di musim hujan. Yang paling menyedihkan jika luapan air menggenangi sekolah. Seperti yang terjadi di sekolah-sekolah di Tapin ini.
RASIDI FADLI, Tapin
Naiknya air di beberapa wilayah Kecamatan Tapin Utara dan Kecamatan Bungur, membuat aktivitas warga terganggu. Bahkan ada sekolah-sekolah yang tidak melakukan proses belajar mengajar karena halaman maupun ruang kelas ikut terendam, Selasa (15/1).
Seperti yang terjadi di SDN Bungur pada pukul 08.00 Wita, tak ada aktivitas belajar-mengajar. Hanya ada anak-anak yang sedang asyik bermain air dan tidak terlihat siswa-siswi maupun dewan guru yang ke sekolah.
"Memang kalau banjir kita libur," ungkap Fatmawati siswa kelas 5 SDN Bungur yang kebetulan baru selesai main air bersama teman-temannya di halaman sekolah.
Hal serupa terjadi di SDN Kupang 1 Kecamatan Tapin Utara. Sekolah yang berdekatan dengan sungai Tapin ini tergenang air hingga ruang kelas.
"Untuk kelas 1,2 dan 3 karena berada di bawah, proses belajar tidak bisa dilaksanakan. Sedangkan kelas 4,5 dan 6 tetap seperti biasa," ucap Wakil Kepala Sekolah SDN Kupang 1 Yulian Adiritno.
Menurutnya, genangan air tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan genangan air tahun sebelumnya. "Biasanya ruang kelas hanya dua jari masuk air, tapi ini sudah sampai mata kaki," jelasnya.
Padahal, berkaca dari tahun sebelumnya pihak sekolah sudah mengantisipasi dengan membuat penyangga agar ketika genangan air naik ruang kelas tidak tergenang.
"Tapi penyangga yang kami buat ternyata tidak berfungsi," lanjutnya, yang berharap nantinya di sekeliling sekolah bisa dibuat Siring tinggi, agar air tidak bisa masuk lagi ke sekolah.
Tidak hanya sekolah-sekolah yang terdampak banjir, tapi kantor-kantor pemerintahan dan kantor tentara juga terkena, seperti yang terjadi di Koramil 1010-01 Bungur.
"Air sudah naik sekitar jam 1 dini hari, lalu jam 6 pagi sudah setinggi lutut orang dewasa," kata Danramil Bungur Kapten Zaenal Arifin kepada Radar Banjarmasin.
Diakui Danramil, kondisi seperti ini sudah sering terjadi. Oleh sebab itu, ia sering mengusul kepada pimpinannya agar pondasi bangunan Koramil Bungur bisa ditinggikan.
"Atau kalau perlu kita pindah saja ke daerah yang lebih tinggi, mengingat kalau seperti ini aktivitas kami terganggu," harapnya.
Lain lagi dengan warga Jalan Kusuma Giri Kelurahan Rangda Malingkung bernama Sahran (42), bahwa warga sekitarnya sudah mengantisipasi akan terjadinya banjir dengan cara mengangkat barang-barang berharga.
"Tadi malam kita sudah mendengar bahwa Tapin siaga bencana banjir, karena daerah pegunungan air sudah mulai naik, jadi banyak warga yang mengamankan barang berharga ke atas," ucapnya.
Beredar kabar bahwa ada korban tenggelam di Sungai Tapin. Setelah ditelusuri, ternyata memang benar ada korban meninggal yaitu seorang remaja bernama Syarif Hidayatullah alias Boboho (18) warga Rantau Bujur Kecamatan Bungur, yang ditemukan Senin (14/1) sekitar pukul 18.10 Wita.
Kepala Desa Rantau Bujur, Kecamatan Bungur, Ibnu Mulkan mengatakan bahwa kejadian ini bermula saat korban diminta oleh ibunya untuk mengambil pompa air di lanting yang ada di sungai.
"Setelah satu jam berselang, korban tidak kunjung balik. Lalu ibunya curiga dan minta bantuan kepada warga untuk mencari korban," katanya.
Salah satu warga berinisiatif untuk mencari korban dengan cara menyelam di bawah lanting.
"Ternyata memang benar korban ada di bawah lanting, tapi dalam keadaan meninggal dunia," jelasnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin Nordin mengungkapkan, yang terdampak banjir ada 6 Kelurahan dan desa di dua kecamatan.
"Kelurahan Rangda Malingkung, Kelurahan Rantau Kiwa, Kelurahan Kupang dan Desa Lumbu Raya di Kecamatan Tapin Utara. Sedangkan Kecamatan Bungur ada Desa Bungur dan Desa Rantau Bujur," ucapnya.
Adapun total keseluruhan rumah yang terendam di dua kecamatan itu sebanyak 710 kartu keluarga dengan 2.677 jiwa yang terdampak.
"Dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter sampai 50 sentimeter," paparnya.
Genangan air yang melanda dua Kecamatan itu disebabkan karena intensitas hujan cukup tinggi, terutama di daerah pegunungan. "Karena kalau daerah pegunungan airnya naik, otomatis akan turun di daerah yang lebih rendah," jelasnya.
Adapun salah satu penanganan yang dilakukan BPBD Tapin terhadap korban yang terkena dampak banjir yaitu dengan mendirikan dapur umum untuk memberikan bantuan makanan kepada warga.
"Kita imbau masyarakat agar tetap waspada, karena air diperkirakan akan kembali naik, mengingat hujan akan terjadi lagi," ucapnya. (dly/ay/ran)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin