BANJARMASIN – Gerakan pembagian bakul serentak di pasar-pasar tradisional berlangsung di lima kecamatan di Banjarmasin, Kamis (14/2) pagi.
Contohnya, Pemko Banjarmasin membagikan bakul purun gratis kepada pedagang dan pengunjung di pasar tradisional Teluk Dalam.
Ini dalam dalam rangka memperingati tiga tahun kepemimpinan Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina dan Wakil Wali Kota Banjarmasin Hermansyah.
"Kegiatan Aksi Sejuta Bakul dilakukan dalam rangka tiga tahun Baiman. Pembagian bakul sebanyak 5.000 buah di wilayah pasar tradisional ini dilakukan serentak di lima kecamatan di Banjarmasin," ucap Ibnu Sina.
Kenapa bakul purun? "Karena sebelum ada kantongan plastik, orang bahari memakai bakul purun kalau mau ke pasar. Juga ramah lingkungan, bisa dipakai berkali-kali untuk wadah berbelanja. Otomatis menghidupkan UKM-UKM di sektor pemberdayaan masyarakat, khususnya kerajinan bakul purun," jawabnya.
Di Banjarmasin mempunyai sentral purun di Mantuil. Namun berkat gerakan pembagian bakul ini, kabupaten kota di Kalsel juga diminta menyuplai logistik bakul purun ke Banjarmasin.
“Beberapa kampung lagi akan kami berdayakan sebagai sentral-sentral produksi bakul purun di Banjarmasin," tambah Ibnu Sina. Pasar-pasar yang dikunjungi di lima kecamatan di Banjarmasin antara lain Pasar Teluk Dalam, Pasar Pandu, Pasar Pekauman, Pasar Cemara, dan Pasar Banjar Raya.
Pembagian Bakul secara gratis ini mendapat tanggapan positif dari Marhimah. "Bagus sih, untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. Toh kami juga yang akan merasakan dampaknya kalau Banjarmasin bersih," tutur pengunjung pasar tradisional Teluk Dalam.
Berbeda dengan Iis (34), mendukung sekaligus bingung. Maklum, Iis pedagang kantongan plastik.
"Sisi positifnya bersih, sampah tidak berserakan dan lebih rapi. Sisi negatifnya saya sebagai penjual plastik bakalan tidak laku lagi, omzet berkurang," ucapnya, lantas terpikir ide untuk berjualan bakul kalau plastik ditiadakan.
Sebagai pedagang makanan, Enny mengaku lebih diuntungkan kalau pembeli membawa bakul sendiri. Selama ini Enny harus mengeluaran biaya tambahan Rp20 ribu untuk menyediakan 10 bungkus plastik berukuran besar.
"Tapi saya masih bingung, bagaimana membungkus makanan seperti sayuran dan ikan yang berkuah. Harus pakai apa saya membungkusnya. Kalau seperti ikan kering masih bisa pakai kertas," lanjutnya.
Ibnu Sina masih memikirkan solusi untuk pembungkus ikan basah. Kalaupun tidak bisa, gunakan plastik yang sudah direkomendasikan untuk membungkus makanan.
“Tidak menggunakan plastik hitam. Tapi, tetap dikurangi seminimal mungkin," tuntasnya.(mr-154/at/dye)
Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin