Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kamu Harus Tahu!! Sejarah Arak-arakan Naga di Ulu Benteng

aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin • 2019-02-22 10:12:45

Tak peduli tua-muda, kaya-miskin, tradisi baarak penganten di Ulu Benteng, Marabahan, masih menggunakan tradisi lama. Para penganten diarak keliling kampung menggunakan naga.

-----------------------------------------------

AHMAD MUBARAK, Marabahan

-----------------------------------------------

Bagi kalian yang ingin mempersunting warga Ulu Benteng, siap-siap diarak keliling kampung menggunakan naga. Naga?

Naga yang digunakan untuk baarak penganten di Ulu Benteng adalah rangkaian kayu dan bambu yang dihiasi berbagai kain untuk membentuk naga.

Untuk membuat naga, sangat mudah bagi warga setempat. Warga Ulu Benteng sangat ahli untuk membuat naga. Yang dibuat hanya badan naga. Sedangkan bagian kepala dipinjam kepada pemiliknya.

Arak-arakan menggunakan naga, biasanya diiringi dengan tabuhan hadrah. Naga yang diarak bersama penganten ditopang puluhan warga. Warga secara bersama-sama mengangkat naga sepanjang jalan.

Saat diarak warga inilah, penganten yang menaiki naga harus siap mental dan tenaga yang ekstra. Pasalnya warga yang mengikat naga, bisa kesurupan menggoyang-goyangkan naga secara brutal. Bahkan tidak jarang penganten hampir terjatuh dari tempat duduknya.

Ada lelucon yang umum di sana. Karena kerasnya menggoyang naga, tidak jarang malam pertama, penganten harus ke tukang urut, karena sakit pinggang.

"Saat diarak harus pegangan yang kuat, naga seperti odong-odong tetapi dengan gerakan yang brutal," ujar Randi, warga Ulu Benteng yang pernah diarak menggunakan naga.

Randi menambahkan tidak bisa menolak keinginan orang tuanya untuk bearak penganten menggunakan naga. Semua warga di Ulu Benteng juga sama.

"Namanya sudah menjadi tradisi, pasti sudah melekat di masyarakat," ujarnya.

Masih eksisnya baarak naga membuat penulis penasaran asal usul naga ini. Penulis mencoba menemui pemilik kepala naga di Ulu Benteng.

Kepala naga ini di miliki Mastoni (80),wanita tetua masyarakat Ulu Benteng RT10 Kelurahan Marabahan. Mastoni menceritakan asal usul tradisi baarak naga.

Menurut Mastoni, tradisi baarak penganten menggunakan naga sudah sekitar 100 tahun yang lalu. Bahkan sebelum dirinya lahir di dunia.

"Naga ini sudah digunakan untuk arak-arakan penganten sejak jaman ibu saya dulu sekitar 100 tahun yang lalu."

Mastoni mengungkapkan naga pertama kali di perkenalkan oleh mendiang mertuanya. Karena ibu mertuanya sering diganggu sesosok naga. Sehingga dibuat kepala naga yang dijadikan sebagai arak-arakan penganten.

"Mendiang ibu mertua sering saat mandi di jamban, merasa diselimuti naga, sepintas terlihat sepintas tidak," ceritanya yang mengatakan mertua lelakinya yang pertama membuat dengan maksud mengusir gangguan itu, sebelum kemudian tradisi membuat kepala naga diteruskan mendiang suaminya.

Berkaitan dengan kepala naga yang ada sekarang, Mastoni mengungkapkan naga yang ada sekarang merupakan generasi ketiga.

Pembuatan kepala naga diiringi ritual. Kayu yang dijadikan untuk kepala naga didapatkan mengapung di Ttitian jamban.

Bahkan menurut cerita Mastoni, saat mengukir kayu menjadi kepala naga, suaminya hanya asal-asalan. Bahkan tidak ada contoh kepala naga atau kebiasaan mengukir naga. Sosok seperti naga selalu ada di benak dan pikirannya.

Diakhir cerita, Mastoni menceritakan, almarhum suaminya berpesan agar kepala naga disimpan dan di rawat. Serta tidak meminta bayaran untuk peminjaman kepala naga.

"Mereka yang meminjam kepala naga untuk arak-arakan penganten tidak dipungut biaya, "ujarnya yang mengaku sebagian pemberian masyarakat yang menggunakan kepala naga diteruskan ke masjid.

Kepala naga yang dimiliki Mastoni sempat ingin dimiliki Museum Lambung Mangkurat.

"Sudah beberapa kali dinas terkait ingin memiliki naga ini, untuk diarsipkan," ujarnya yang terpaksa menolak karena kepala naga hanya ada satu dan masih di gunakan warga.(mr-152/by/ran)

Editor : aqsha-Aqsha Radar Banjarmasin
#Feature Sejarah