Haul Abah Guru Sekumpul membangkitkan semangat banyak orang untuk hadir, tidak hanya dengan kendaraan, tapi juga bersepeda hingga berjalan kaki dari tempat yang jauh.
Oleh: Budian Noor, Banjarbaru
Begitu banyak spirit kebaikan yang bisa ditemui di hari-hari pelaksanaan Haul Abah Guru Sekumpul ke-14 tahun ini.
Radar Banjarmasin mendapati salah satunya, bertemu Supriadi dan Muhammad Rahman Maulana. Sabtu (9/3) pukul 00.37 Wita, keduanya bersisian mengayuh sepeda melintasi Jln A Yani, Guntung Payung Banjarbaru.
“Sekumpul jauh lagi lah Mang?” mereka bertanya.
Ini memang perjalanan pertama dua siswa MTsN Tamban Kelas IX, Barito Kuala ini menuju haul.
Jika dilihat dari jarak yang sudah mereka tempuh dari Tamban sudah dekat. Apalagi keduanya memilih melewati Jembatan Barito dan Handil Bakti, sehingga jarak tempuh yang dicapai hingga ke Sekumpul mencapai 80 kilometer.
Supriadi tinggal di Tamban, Rahman warga Tinggiran, masih di Kecamatan Tamban, Kabupaten Barito Kuala. Rumah mereka terpisah sekitar 7 kilometer. Beberapa minggu lalu, kawan sekampung mereka punya ide untuk naik sepeda ke Haul Sekumpul.
Semangat Supriadi dan Rahman ikut terpantik. Dibuat grup WhatsApp, semangat itu menular diantara teman-temannya. Sampai puluhan yang ingin ikut serta.
Tapi semakin dekat hari keberangkatan, satu persatu berguguran. Ada yang diminta orang tuanya ikut rombongan, ada yang tak dibolehkan naik sepeda. Sampai akhirnya sang inisiator pun tak bisa. “Ayahnya sakit, jadi dia diminta naik motor saja, supaya tidak terlalu lama di perjalanan,” jelas Rahman.
Tinggallah dua sahabat ini membulatkan tekad. Setelah mendapat restu orang tua, Supriadi dengan BMX-nya, Rahman naik sepeda mini pretelan. Dengan bekal sangu Rp20 ribu.
Berangkat dari rumah Jumat (8/3) pukul 15.00 Wita. Belum terlalu jauh, ujian tiba. Sore jelang Magrib di Handil Bakti, ban belakang sepeda Rahman macet. Untung masih ada bengkel buka, minjam perkakas mereka perbaiki sendiri. Perbaikan ala kadarnya.
Empunya bengkel khawatir, masalah roda Rahman bisa kumat lagi. Dia pinjami kunci. Nanti boleh dikembalikan saat pulang.
Benar saja, usai salat Isya di Masjid Hasanudin Majedi, Jln Brigjend Hasan Basry, Kayu Tangi. Roda Rahman kembali menuntut perbaikan. Untung bisa diatasi dengan kunci pinjaman tadi.
Setelah itu perjalanan mereka relatif lancar. Sampai kami bertemu di dekat lampu merah Mako Brimob.
Mau menginap dimana? “Ada kawan, juga ada rumah keluarga. Tapi kalau tidak ketemu di masjid,” jelas Supriadi.
Beruntung, malam itu keduanya menginap di kos seorang teman. Setelah janjian bertemu di Lapangan Murdjani. Pukul 02.30 keduanya baru bisa beristirahat.
Sabtu pagi, keduanya memilih bergabung dengan jemaah di Masjid Agung Al Karomah Martapura. Setelah mengikuti kegiatan haul hingga puncaknya pada Ahad (10/3) malam, Rahman dan Supriadi langsung menempuh perjalanan pulang. Namun kali ini jalur yang dipilih lebih dekat, menyeberang dengan feri. Senin (11/3) pukul 08.00 Wita, keduanya tiba di rumah keluarga masing-masing.
Selain keduanya, ada juga tiga pelajar MTSN 1 Kapuas yang Hadiri Haul Guru Sekumpul naik sepeda, jarak yang mereka tempuh pun lebih jauh, sekitar 100 kilometer. Ahmad Khusairi, M Fariz Maulana dan Amir Muhammad mengayuh sepeda dari Kapuas Kalteng pada Jumat (7/3) dan tiba di Martapura pada Sabtu pukul 14.30 Wita. Ketiganya baru memulai perjalanan pulang pada Senin (11/3) kemarin siang. Para relawan menyebarkan informasinya, agar ada yang memerhatikan mereka di titik-titik perjalanan yang mereka lewati. (yn/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin