Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Siapkah Banjarmasin Dipimpin Perempuan? Pengamat: Perempuan Rentan Galau

miminradar-Radar Banjarmasin • Minggu, 7 Juli 2019 - 17:59 WIB

BANJARMASIN - Bursa kandidat calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin 2020 menjadi lebih berwarna. Berkat dua perempuan muda yang bertekad untuk mempercantik kota ini. Mereka adalah Ketua DPRD Banjarmasin, Ananda dan putri sulung mantan wali kota Muhidin, Karmila.

Ananda juga menjabat Ketua DPD Golkar Banjarmasin. Sementara Karmila merupakan kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang meraih kursi di DPRD Kalsel pada Pileg kemarin.

Kemunculan dua perempuan itu jelas membawa suasana baru. Karena kota ini belum punya pengalaman dipimpin wali kota perempuan. Sekalipun hanya untuk melihat perempuan maju pada Pilkada.

Pertanyaannya, apakah kota ini siap dipimpin perempuan? Pertanyaan itu disodorkan pada pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Ani Cahyadi.

"Memang harus ada survei yang mendalam. Tapi bila berkaca pada Pilkada di daerah lain, perempuan memang harus berjuang lebih keras. Apalagi jika dikaitkan dengan budaya orang Banjar," paparya.

Meski begitu, bukan berarti kota ini anti pemimpin perempuan. Hanya belum terbiasa. Lagipula, dalam demokrasi tak ada masalah, apakah laki-laki atau perempuan.

"Dalam konteks Banjarmasin, pada dasarnya perempuan bisa saja menjadi wali kota. Tapi harus menunjukkan karakter yang kuat dan tegas," katanya. Dia mengambil contoh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Tapi itu Surabaya. Jauh di Jawa Timur sana. Perpolitikan dan karakter pemilih Banjarmasin tentu berbeda. Setidaknya, Ani punya tiga gambaran kelebihan jika kota ini dipimpin perempuan. Diukur berdasarkan karakter kebanyakan kaum hawa.

Pertama, menurut Ani perhatian perempuan jauh lebih detail ketimbang laki-laki. "Dengan kompleksitas permasalahan kota, boleh jadi perempuan bisa menjadi solusi," jelasnya.

Kedua, secara psikologi, perempuan bisa menjadi penakluk. Bahkan visioner. "Bisa memimpin dengan semangat keibuan," tegasnya.

Ketiga, melihat sejarahnya, peluang perempuan untuk menjadi koruptor lebih kecil. Satu berbanding tiga. Setidaknya, lebih banyak laki-laki yang tersandung kasus korupsi. "Tapi bukan berarti tidak memungkinkan korupsi," tukasnya.

Lalu, apa kurangnya? Ani menyebut, besar kemungkinan para pemimpin perempuan lebih menonjolkan sisi feminimnya. Menjadi rentan alias mudah galau (sekalipun laki-laki juga bisa galau).

"Jika menunjukkan karakter yang tidak kuat, justru bisa menjadi penghambat. Bukan malah menjadi solusi. Saya pikir-pikir lagi, kalau masih ada calon lelaki, kenapa harus perempuan," pungkasnya. (nur/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Politik