Tidak semua kloter jemaah haji gelombang kedua mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Ada empat kloter yang tidak mendapatkan slot sehingga harus mendarat di bandara Prince Mohammed bin Abdul Aziz Madinah. Sampai saat ini, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus melobi otoritas Arab Saudi.
Keempat kloter itu adalah UPG 35 dan UPG 40 dari Embarkasi Makassar. Kedua kloter itu dijadwalkan terbang pada 2 dan 5 Agustus. Kemudian, kloter BDJ 17 dan BDJ 19 dari Embarkasi Banjarmasin. Dua kloter ini dijadwalkan terbang pada 3 dan 4 Agustus.
Kepala Seksi Kedatangan dan Keberangkatan Daker Bandara Madinah-Jeddah Cecep Nursyamsi menuturkan, empat kloter itu tidak bisa mendarat di Jeddah karena imbas dari adanya tambahan 10 ribu kuota haji. Dengan penambahan itu, maka kloter jemaah Indonesia juga bertambah.
Namun, dia mengatakan bahwa PPIH Arab Saudi terus melobi supaya empat kloter itu bisa mendarat di Jeddah seperti kloter gelombang dua lainnya.
"Pertimbangannya adalah kenyamanan dan kemudahan jemaah haji," jelaskan. Sebab, perjalanan dari Madinah ke Makkah sekitar enam jam. jemaah yang baru menempuh perjalanan udara selama sekitar sembilan jam bisa kepayahan. Cecep menjelaskan, saat ini usulan PPIH Arab Saudi masih dalam kajian otoritas setempat.
"Pejabat tinggi di sini mengatakan, mengusahakan mencari solusi terbaik. Bila dimungkinkan bisa mendapatkan slot pendaratan di Jeddah," tuturnya. Kalaupun nanti ternyata empat kloter itu tetap mendarat di Madinah, PPIH Arab Saudi menyiapkan fasilitas transportasi menuju ke Makkah.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag Sri Ilham Lubis kemarin meninjau hotel jemaah untuk mengecek layanan katering dan lainnya. Saat itu, beberapa jemaah menyampaikan masukan terkait katering.
"Kami berharap ada makanan yang berkuah," kata Farida binti Amir Mapuji. jemaah 57 tahun itu mengatakan, selama ini menu katering hanya nasi, lauk, dan sayuran yang umumnya ditumis. Selain itu dia juga menyampaikan supaya sajian telurnya diberi banyak bumbu supaya lebih enak.
Jemaah lainnya menyampaikan keluhan tentang layanan bus salawat. Dia menuturkan, pada awal-awal naik bus salawat terasa enak dan lega. Namun, belakangan bus salawat terasa padat dan seluruh kursi selalu terisi. Sri Ilham Lubis dengan ramah menerima saran-saran dari jemaah itu.
Dia menjelaskan, pemerintah sebenarnya ingin ada variasi makanan berkuah. Tapi terkendala pada penyiapan di dapur kateringnya. "Mau pakai plastik dan diikat, tapi terkendala waktu pengemasannya," jelasnya.
Dia mengatakan, variasi menu berkuah bisa disediakan jika makanan disajikan dengan sistem prasmanan. Tapi yang dipakai pemerintah saat ini adalah penyajian katering dengan kotakan atau boks.
Terkait dengan bus salawat yang mulai terisi padat, Sri menjelaskan karena semakin banyak jemaah masuk ke Makkah. Dia menuturkan ketentuan jumlah armada bus salawat sudah diatur oleh otoritas Saudi.
Sehingga tidak bisa menggunakan armada bus salawat sebanyak-banyaknya. Jika tidak diatur sedemikian rupa, jalanan di kota Makkah akan dipadati bus salawat. Baik itu untuk jemaah Indonesia maupun negara lainnya.
Sri juga mengingatkan supaya ketua rombongan atau KBIH bisa mengatur jemaahnya ketika berada di Masjidilharam. Misalnya selepas salat isya tidak semua rombongannya keluar dan menuju terminal Syib Amir. Tetapi dibagi ada yang keluar dahulu dan belakangan. Sehingga tidak terkena kepadatan jemaah di terminal. Selain itu juga tidak terlalu lama menunggu bus di terminal.
"Bus Sawalat melayani jemaah 24 jam," katanya. Jadi jemaah tidak perlu khawatir kehabisan bus lantas buru-buru keluar Masjidilharam setelah selesai salat isya.
Pantauan di terminal Syib Amir masih saja terjadi kepadatan jemaah Indonesia setelah bubaran salat isya. Bahkan ada jemaah yang nekat masuk ke bagian dalam terminal. Tujuannya mencegat bus yang baru masuk ke terminal. Kepadatan seperti ini rata-rata berlangsung sekitar satu jam. (ris/oni/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin