Di Kabupaten Banjar yang juga masuk daerah dengan kekeringan ekstrem, sumur-sumur di beberapa kompleks perumahan sudah surut. Untuk mandi, warga harus sabar menunggu terisi sampai dini hari.
“Harus menunggu sampai dini hari sumur terisi lagi. kami ganti menggunakan ledeng untuk cuci dan mandi sehari-hari,” kata Lia, penghuni kompleks CBR Sekumpul, kemarin.
Perumahan di wilayah itu mengalami kesulitan air di beberapa titik. Sementara itu, warga yang sumurnya masih berisi, mulai melakukan penghematan air. Ledeng PDAM menjadi solusi terakhir.
“Pandai-pandai menghemat air sumur. Jaga-jaga juga ledeng macet mendadak di musim kemarau,” tukas Lia lagi.
Kesulitan warga CBR tidak dialami sebagian besar warga yang menempati rumah di sepanjang aliran Irigasi Riam Kanan. Warga di sini tidak kesulitan air sumur. Sebagian yang tinggal di sepanjang irigasi tidak jadi pelanggan PDAM. Sumurnya selalu terisi kapan saja saat dibutuhkan.
“Cukup beralasan kami tinggal di Bincau dekat irigasi. Di sini sumur selalu penuh, kalau pun terpaksa, ya bisa mandi ke irigasi,” ungkap Fanie di Bincau, kemarin.
Yang dikeluhkan warga saat kemarau adalah terik matahari yang menyengat. Mudah lelah dan berdebu. Belum ada satu tetes pun air hujan turun sejak Juli lalu. Kualitas air sumur juga memburuk, aroma terasa dan cepat bikin hitam kulit serta tandon rutin dibersihkan lumut.
”Saya pribadi membuat saringan air manual mengurangi aroma air sumur yang berbau dan berlumut,” tambah Fanie lagi.
Suplai air bersih diakui Kabag Humas PDAM Intan Banjar M Azwar mulai terganggu. Ada perubahan pola konsumsi pelanggan PDAM Intan Banjar bila musim kemarau. Sumur alternatif yang selalu siaga justru berkurang kapasitasnya. Ini khusus pelanggan di ujung sambungan pipa PDAM.
“Intake milik kami di Sungai Tabuk terpengaruh bila musim kemarau. Pompa dimatikan setiap dini hari karena kedalaman air Sungai Martapura setiap dini hari atau subuh mendadak surut. Waktu off pompa bervariasi, antara 1 jam dan paling lama 4 jam,” kata Azwar lagi.
Pasang surut di intake sungai tabuk yang masuk cabang II itu tidak terjadi siang atau sore. Kejadian surut selalu dini hari, kejadian ini selalu terulang sejak awal Agustus lalu. Padahal, Intake Sungai Tabuk dikirim ke pusat pengolahan Syarkawi, dekat Sambang Lihum.
Cabang II, terang Azwar melayani sebagai besar pelanggan Sungai Tabuk, Kertak Hanyar, Gambut, sampai Aluh Aluh. Ia memastikan, pelanggan paling ujung sambungan terdampak dan sering kehabisan air. Selain pelanggan di Cabang II, PDAM masih menjamin kota Martapura dan Banjarbaru aman.
Daerah yang juga mengalami kekeringan ekstrem adalah Kabupaten Barito Kuala. Daerah yang terkenal dengan persawahan ini terancam gagal panen karena kemarau panjang. (mam/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin