Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Terkepung Api dan Dengar Suara Perempuan Tertawa

miminradar-Radar Banjarmasin • 2019-09-26 12:34:25

Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan dibuat kewalahan dengan banyaknya titik api yang muncul setiap harinya. Seperti dirasakan anggota BPBD Banjarbaru. Saking banyaknya kebakaran yang dihadapi, mereka punya pengalaman berkesan saat berjibaku memadamkan api.

-- Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru --

Radar Banjarmasin, Rabu kemarin berkunjung ke posko penanggulangan karhutla BPBD Banjarbaru di Jalan Trikora. Penulis bermaksud mendengarkan pengalaman berkesan para petugas yang ada di sana kala memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

Ketika penulis tiba, posko terlihat sepi. Hanya ada sekitar empat petugas yang terlihat duduk. Mereka mendengarkan informasi kondisi di lapangan melalui radio amatir yang ditaruh di dalam posko.

"Orang banyak yang ke lapangan, Mas. Ada kebakaran lahan di beberapa titik. Jadi posko sepi," kata salah seorang petugas bernama Edi Sumampao, saat ditanya tentang keadaan posko. Penulis pun menyampaikan ingin mendengarkan pengalaman berkesan para anggota BPBD Banjarbaru saat memadamkan karhutla selama musim kemarau tahun ini.

Dengan semangat Edi menuturkan, ada banyak pengalaman yang tak terlupakan yang sudah mereka alami. "Saking banyaknya, kami sampai lupa, Mas. Hanya ada beberapa yang kami ingat," tuturnya.

Dia pun meminta temannya, Fajar, untuk menceritakan pengalamannya terkepung api ketika memadamkan lahan terbakar di Sungai Tiung, Cempaka. "Ini Mas, dia baru-baru tadi terkurung api di Cempaka," kata Edi sambil menunjuk ke arah Fajar.

Fajar membenarkan hal itu. Dia mengungkapkan, kejadian tersebut terjadi pekan lalu. "Saya terkurung api bersama satu teman yang juga dari BPBD dan dua anggota TNI yang ikut memadamkan api," ungkapnya.

Dia menceritakan, kejadian itu bermula ketika mereka mencoba memadamkan api dengan cara dikepyok. Sedang sibuk-sibuknya mengepyok, ternyata arah angin berubah hingga membuat api mengelilingi mereka.

"Tiba-tiba saja api mengelilingi kami. Kami pun harus berpikir bagaimana caranya supaya bisa keluar dari api," ceritanya.

Kurang lebih setengah jam mereka berada di tengah-tengah kobaran api. Beruntung, api tidak sampai mendekati mereka. "Ketika arah angin berubah lagi, ternyata ada jalan untuk kami keluar. Kami pun langsung keluar," ujarnya.

Menurutnya, kebakaran yang terjadi di Sungai Tiung itu memang cukup luas. Sebab, Satgas Karhutla yang terdiri dari BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni dan masyarakat peduli api memerlukan waktu lama untuk memadamkannya. Mereka berjibaku sejak sore sampai pagi hari.

"Kami harus ganti shift untuk memadamkan api di sana. Kami lihat hamparan lahan di sana seperti lautan api," katanya. 

Dia menambahkan, dalam menangani karhutla, anggota BPBD bertugas sesuai dengan jadwal shift. Setiap harinya mereka mendapatkan jatah istirahat 12 jam. "Tapi, kalau teman-teman kewalahan, yang libur juga harus ikut membantu," ujarnya.  

Selain pengalaman terkurung api, anggota BPBD Banjarbaru juga memiliki pengalaman mistis. Peristiwanya terjadi ketika memadamkan karhutla di kawasan Tambak Buluh, Landasan Ulin, pada malam hari.

Cerita horor tersebut dikisahkan Edi. Dia mengungkapkan, peristiwa itu terjadi beberapa pekan yang lalu. "Mistisnya begini, saat tim sedang memadamkan api, tiba-tiba ada suara perempuan dan anak-anak tertawa. Padahal, di sana tidak ada perempuan apalagi anak-anak," ungkapnya.

Suara aneh itu didengarkan oleh semua anggota yang sedang berada di sana. "Semuanya mendengar. Kalau cuma satu atau dua orang mungkin kabar itu bisa bohong, tapi ini semua mendengar," ceritanya.

Dia menuturkan, menjadi anggota BPBD memang banyak pengalaman berkesan. Mulai dari pengalaman menghadapi bahaya, lucu hingga menakutkan. "Tapi, semua itu selalu kami lewati dengan hati ikhlas. Intinya, kita bawa senang-senang saja," tuturnya.

Pria berusia 40 tahun ini pun berharap musim hujan segera tiba, agar karhutla dapat berkurang. "Selama musim masih kemarau, karhutla sulit untuk ditangani. Setiap hari ada lima hingga tujuh titik api yang muncul di Banjarbaru," ucapnya.

Dia pun menyinggung tuntutan Aliansi Mahasiswa Kalsel yang meminta pemerintah daerah mengatasi karhutla dalam tempo dua pekan. Menurutnya, hal itu mustahil untuk direalisasikan.

"Cuma mimpi bisa mengatasi karhutla dengan waktu singkat. Buktinya, kami selama berbulan-bulan memadamkan api sampai sekarang karhutla masih ada," paparnya. Edi pun menyarankan agar mahasiswa melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan saat lahan diamuk api. "Jangan bicara kalau belum melihat kenyataan di lapangan," pungkasnya. (ris/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Feature Umum #kebakaran hutan