Kontestasi politik di Kota Banjarbaru makin menarik. Empat kandidat bakal paslon (bapaslon) menjadikan media sosial sebagai medan perang. Bersaing tagline dan tagar, sebagai representasi diri mereka di dunia maya.
----------------------------
Empat pasangan yang saat ini tengah berebut tiket maju di Pilwali Banjarbaru 2020 adalah inkumben Nadjmi Adhani-Darmawan Jaya, pasangan penantang Aditya Mufti Arifin-AR Iwansyah, Sofwat Hadi-Abdul Halim serta Edy Saifuddin-Astina Zuraida.
Dari empat pasangan, hanya petahana yang menaikkan dua tagar sekaligus, meski tidak berbeda nyata. #BanjarbaruLebihBaik dan #BanjarbaruSemakinBaik. Sedangkan #BanjarbaruJuara diusung Aditya-Iwansyah. Juara adalah akronim dari maju, agamais dan sejahtera.
Lalu Sofwat-Halim memasang #BanjarbaruBersahabat. Maksud Bersahabat adalah berkah, sehat dan hebat. Sedangkan Edy-Astina memilih #BanjarbaruBersinergi yang artinya bersih, integritas dan religius.
Nadjmi Adhani kepada Radar Banjarmasin mengaku, ia punya alasan tersendiri untuk mengusung dua hastag sekaligus.
“Keduanya saling berhubungan. Tagar ini selain branding diri, juga semangat kita. Maksudnya, kondisi Banjarbaru terus lebih baik dan bersama kita akan semakin baik. Baik dari aspek kotanya dan juga tentu masyarakatnya," ujar Nadjmi yang pada Pilwali 2016 lalu mengusung tagline 3M (Muda, Melayani, Merakyat).
Nadjmi juga mengakui, penggunaan tagar disertai tagline ini di media promosi baliho dan media sosial, cukup efektif. “Di media sosial juga bisa kita petakan, ketahuan siapa dan berapa pendukung kita," ujarnya.
Sementara itu, Aditya Mufti Arifin yang digadang menjadi rival berat petahana menyebut, tagar #BanjarbaruJuara semakin menyebar luas. Baik secara riil maupun di dunia maya.
"(Tagar ini) Jalan terus. Karena itu juga visi misi kami, itulah kata kunci kami. Sesuai akronimnya juga, ada semangat yang kita usung di tagar itu," kata Aditya.
Ia pun mengaku mengerti betul pentingnya tagar ini. Selain sebagai kata kunci yang erat dengan dirinya. Tagar juga dapat mendongkrak popularitasnya, termasuk bisa sampai berpeluang jadi trending topik di media sosial.
"Apalagi pemilih Banjarbaru sudah familiar dengan hastag atau tagar ini. Jadi tentu dengan tagar ini visi misi kita bisa tersampaikan," kata Ketua DPW PPP Kalsel ini.
Sedangkan dokter Abdul Halim, yakin #BanjarbaruBersahabat sesuai dengan visi misi pasangannya, membawa Kota Banjarbaru menjadi kota yang berkah, sehat dan hebat.
"Itulah kata kuncinya, kita telah menyepakati itu. Tiga kata itu inti dari visi misi, program dan keinginan kita untuk Kota Banjarbaru secara komprehensif," ungkapnya.
Lalu, mengambil kata Bersahabat terang Halim juga lebih umum. Yang mana dapat diartikan bahwa ia berdua mampu merangkul dan bersahabat dengan semuanya.
"Kita ketahui bahwa Banjarbaru ini plural dan heterogen. Jadi kebersamaan dan toleransi itu harus kita jaga untuk ketentraman dan keamanan tentunya. Itulah makna bersahabat juga," tambahnya.
Terakhir, Edi Saifuddin optimistis bahwa tagline dan #BanjarbaruBersinergi, selain akronim dari bersih, integritas dan religi, kata sinergi dalam arti sebenarnya juga sesuai dengan semangat Banjarbaru.
"Jadi yang bekerja nanti bukan hanya dari kalangan eksekutif dan legislatif saja. Tapi semangat bersinergi itu adalah mengutamakan musyawarah bersama para tokoh, ormas serta media juga. Agar segala bentuk pemikiran bersama bisa diwujudkan dalam pembangunan," jelasnya.
Menariknya, Edi mengaku belum fokus bermain di medsos dalam menaikkan taglinenya.
"Saat ini kita belum maksimal mem-blow up lewat medsos. Tetapi lebih bergerilya langsung ke kalangan tokoh, LSM, aktivis dan akademisi," pungkasnya.
Tagar adalah Senjata Pelengkap
Penyematan tagar atau hastag dalam pelengkap pencalonan memang makin ramai. Namun, bagi sebagian penilaian pengamat politik, tagar bukan jadi garansi utama.
Dr Ani Cahyadi Masri, Pengamat Sosial Politik UIN Antasari mengatakan bahwa memang tagar telah jadi tren anyar. Namun, daya cakupannya sebutnya tak begitu masif. Bahkan sifatnya segmented.
"Trennya pada media sosial saja. Hanya berpengaruh pada wilayah perkotaan dan anak milenial. Misalnya seperti Banjarbaru atau Banjarmasin. Artinya hanya untuk kelas menengah ke atas dan posisinya di perkotaan yang melek teknologi," bebernya.
Dari kaca matanya, dalam konteks daerah, hastag ini sebutnya memang sudah kerap terlihat. Baik di promosi daring atau konvensional semacam reklame.
"Akan tetapi kalau dilihat dari Pileg atau Pilpres 2019 lalu, banyak calon yang baliho di mana-mana malah tidak terpilih, tapi calon yang konsentrasi konsolidasi di masyarakat bawah malah terpilih," ujarnya.
Maka dari itu, Ani sendiri menyimpulkan bahwa hastag atau tagar tak bisa serta merta sebagai senjata utama. Namun hanya sebatas senjata pelengkap dalam instrumen strategi politik calon.
"Kalau daerah perkotaan hastag memang signifikan, tapi jangan dijadikan senjata utama, hanya pelengkap. Jadi harus disokong strategi-strategi lainnya," tegasnya.
Bahkan menurut Ani, melihat dari hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) tahun 2019. Bahwa pengguna aktif medsos hanya 10% dan pengaruhnya pada masyarakat di angka 6%.
"Nah jadi artinya tidak begitu signifikan kalau hanya semata-mata menggunakan tagar atau hastag di medsos. Yang terpenting adalah penguatan kapasitas individu dan sosial di masyarakat," tandasnya.
Terakhir, hastag memang diakui Ani jadi salah satu item strategi politik dalam menggaet suara dukungan. Bahkan katanya cenderung modal politik yang hemat.
"Tetapi kembali lagi, harus ditunjang oleh strategi lainnya. Tidak bisa bertumpu di tagar semata," pungkasnya.
Konten Menarik Syarat Milenial Melirik
PENGGUNAAN tagar tentu dimaksudkan untuk menjaring calon pendukung. Baik di dunia nyata atau di kanal media sosial. Media sosial sendiri cenderung lebih aktif dikulik bagi kaum muda atau milenial.
Lantas bagaimana pendapat para anak muda di Banjarbaru terkait mulai maraknya tagar-tagar dari bakal calon.
Gina Aulia Fauzia, mahasiswi asal Loktabat Utara ini mengaku cukup "dipaksa" melirik dari tagar-tagar yang mulai bertebaran. Namun menurut Aulia, ia awalnya bukan mengetahui dari media sosial.
"Saya sering melihat di spanduk atau baliho. Akhirnya terngiang terus. Lalu penasaran buka tagarnya di media sosial. Nah rupanya ada yang banyak penggunanya juga, ternyata ramai juga," katanya.
Tagar sendiri bagi Aulia yang notabene kaum milenial cukup memengaruhinya atas pandangannya soal bapaslon. "Tapi tergantung kontennya, kalau biasa-biasa saja, kesannya tidak menarik. Malah agak dipaksakan saya lihat," jujurnya.
Lain halnya dengan M Faruq, mahasiswa perguruan tinggi swasta ini mengaku tidak begitu tertarik dengan tagar-tagar bermuatan politik dari bapaslon.
"Saya malah tahunya dari pertanyaan mas wartawan. Memang sering melihat sih di baliho-baliho. Tapi kalau sampai ngulik ke media sosial, belum ada kepikiran," kata warga Landasan Ulin ini.
Namun, meski begitu, branding atau citra diri di media sosial menurutnya penting bagi seorang tokoh. Tapi ia menggarisbawahi bahwa manajemen pengelolaan akunnya juga harus menarik dan tidak membosankan.
"Kalau sekadar foto kegiatan atau foto promosi jujur saya kurang tertarik. Tetapi jika kontennya dikemas menarik bahkan keren, seperti milik Pak Sandiaga Uno, nah itu saya pikir menarik," tanggapnya. (rvn/al/bin/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin