Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kandidat Senang Masa Kampanye Singkat, Optimis Bisa Kejar Target Pemilih

miminradar-Radar Banjarmasin • 2019-12-05 09:48:15

BANJARMASIN - Masa kampanye pada Pilkada 2020 mendatang dipersingkat KPU RI. Jika pada Pemilu 2019 tadi lebih dari 100 hari, Pilkada 2020 mendatang, hanya selama 71 hari. Yakni dari 11 Juli 2020 sampai 19 September 2020. 

Meski dipersingkat, KPU Kalsel tetap optimis masih bisa mencapai target partisipasi pemilih. Untuk diketahui, pada pemilihan gubernur Kalsel 2020 mendatang, KPU Kalsel diberi target oleh KPU RI angka tingkat partisipasi pemilih sebesar 77,5 persen.

Target ini sama dengan target pada Pemilu 2019 tadi. Kala itu KPU Kalsel berhasil melampaui dari target yang ditetapkan. Tingkat partisipasi pemilih di Kalsel mencapai 81 persen.

Komisioner KPU Kalsel Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat, Edy Ariansyah mengatakan pemangkasan tahapan kampanye bisa sangat bersinggungan dengan partisipasi pemilih. 

Ketika masa kampanye tak maksimal dilakukan pasangan calon, ditambah singkatnya waktu, masyarakat pun akan tak mengenal kandidat. Ujung-ujungnya pemilih enggan menggunakan hak pilihnya.

Soal ini Edy menegaskan, partisipasi pemilih tak hanya berkaitan dengan kampanye tapi turut berperannya pendidikan politik yang dilakukan oleh partai politik. Termasuk upaya yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu. “Tahapan pendidikan politik untuk menyerukan agar masyarakat menggunakan hak pilih sudah dilakukan oleh KPU sejak dini. Di luar masa kampanye,” ujar Edy kemarin.

Masa kampanye sendiri sebutnya, hanya penekanan visi misi dan program bakal calon kepala daerah. Soal sosok, beberapa kandidat pun sudah sejak dini memperkenalkan diri kepada masyarakat. “Jadi saya rasa tak akan mempengaruhi partisipasi pemilih, kami optimis target seperti Pemilu lalu tercapai,” yakinnya.

Dia menilai, waktu 71 hari masa kampanye ini tak singkat. Hanya saja tak selama seperti Pemilu lalu. Edy punya pendapat sendiri soal waktu kampanye ini. Menurutnya, tahapan kampanye pada Pilkada 2020 mendatang dinilai singkat, lantaran kandidat atau calon yang berlaga tak sebanyak seperti Pemilu lalu.

Di Pemilu lalu sebutnya, yang berkampanye tak hanya partai politik, pasangan calon presiden dan wakil presiden, namun juga para calon anggota legislatif yang terdiri dari DPRD hingga DPD. “Wajar saja waktunya panjang. Kalau Pilkada peserta yang berlaga di tiap daerah jumlahnya sedikit. Beda pada Pemilu lalu,” sebut Edy.

Mantan staf ahli Bawaslu RI ini berharap, kandidat yang bertarung ada Pilgub Kalsel 2020 mendatang jumlahnya lebih dari satu pasang. Sehingga yang bersosialisasi pun lebih banyak. “Mulai dari sekarang kami sudah melakukan sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat. Kami optimis, karena ruang sosialisasi tak hanya saat kampanye saja,” tandasnya.

Waktu kampanye Pilkada 2020 yang dipersingkat hanya 71 hari dinilai sedikit menyulitkan bagi pasangan calon yang memiliki modal minim. Terlebih kandidat yang ketokohannya masih kurang dikenal oleh masyarakat.

Meski demikian, Ananda yang digadang maju di Pilwali Banjarmasin mengatakan, masa waktu kampanye yang sudah ditetapkan oleh KPU RI mau tak mau harus diikuti. “Artinya mesti dimaksimalkan. Saya manut saja,” ucap Ketua DPD Golkar Banjarmasin itu.

Lalu apakah akan berpengaruh dengan sosialisasi kepada masyarakat. Nanda mengatakan, waktu memang sedikit terbatas. Namun, statusnya sebagai wakil rakyat sedikit banyak membantu dirinya bersosialisasi di lapangan dan ke masyarakat.

Terlebih, Nanda sudah jauh hari sudah melakukan start lebih awal. Khususnya bersosialisasi di media sosial. “Bagi saya waktu lebih singkat disbanding Pileg lalu tak masalah. Bisa saja diefektifkan,” sebutnya.

Terpisah, Habib Abdurrahman Bahasyim sangat setuju masa kampanye dipersingkat. Menurutnya, dengan masa kampanye yang panjang memberikan pendidikan politik yang kurang berkualitas sebagaimana yang diharapkan. “Masa waktu kampanye yang panjang bisa menyebabkan munculnya masalah. Lebih baik masa kampanye dipersingkat,” cetusnya.

Senator asal Kalsel ini juga menilai, selain terjebak dengan kemungkinan terjadinya gesekan, juga masa waktu kampanye yang panjang dapat menelan biaya politik yang sangat mahal. “Jika waktu kampanye dipersingkat, otomatis biaya politik juga dapat ditekan. Ini juga menguntungkan bagi calon,” tandasnya. (mof/ran/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Banua Politik