MARTAPURA – Setelah dua pekan sebelumnya sepi, karena salat Jumat digelar secara tertutup. Kemarin (10/4) Masjid Agung Al Karomah Martapura didatangi banyak jemaah yang ingin mengikuti salat Jumat.
Meski pagar masjid ditutup dan dijaga puluhan petugas dari Satpol PP Kabupaten Banjar, ratusan jemaah yang sudah berkumpul di luar pintu gerbang, akhirnya berusaha masuk dengan mendorong pintu pagar, hingga akhirnya satu terbuka.
Petugas pun akhirnya membuka pintu pagar di sisi Jalan Demang Lehman dan Jalan Sasaran Pasar Martapura. Ratusan jemaah segera memasuki halaman masjid.
Berikutnya, pintu-pintu masjid yang semula tertutup, langsung dibuka oleh pengelola hingga mereka bisa mengikuti rangkaian salat Jumat yang digelar singkat.
“Kami belum tahu nasib pekan depan. Mungkin jumlah jemaah tambah dan kami tidak mungkin sanggup mencegah mereka,” kata salah satu anggota Satpol Banjar yang namanya enggan di publikasikan, mengomentari peristiwa yang mereka hadapi kemarin.
Sementara itu, di Masjid Riyadh, Antasan Senor, Martapura. Salat Jumat juga digelar dengan singkat. Meski jemaah berkurang dari biasanya.
Adapun Masjid Syiarul Islam Desa Pekauman Dalam, membatasi jemaah hanya jiran masjid terdekat. Jalan masuk desa ditutup warga menggunakan bangku panjang. Pengurus masjid juga membuat imbauan di karton putih, meminta jemaah tidak salat Jumat, terutama dari luar kampung.
Seperti diketahui, permintaan untuk meniadakan salat Jumat telah memasuki pekan ketiga di masa tanggap darurat bencana non alam Covid-19 di Kabupaten Banjar.
Sairi, warga Pekauman Dalam mengakui, meniadakan salat Jumat sangat berat. Sangat banyak warga yang menentang keputusan pengurus masjid dalam mengikuti imbauan pemerintah. Sesama warga bersitegang. Yang disesalkan, tidak ada aparat keamanan di Pekauman Dalam menjaga masjid.
“Pengurus masjid ingin mengikuti imbauan pemerintah. Sekaligus menjaga desa tidak ada penyebaran corona. Lalu diputuskan tidak digelar salat Jumat untuk umum. Hanya kalangan terbatas jiran masjid,” ujarnya kemarin.
Sedangkan Syarif, jemaah di Masjid Riyadh memilih salat keluar kampung. Karena tahu masjid dekat rumahnya, yaitu Masjid Agung Al Karomah meniadakan salat Jumat sementara waktu. “Saya memilih Jumatan di kampung sebelah, karena Al Karomah katanya ditutup,” terang Syarif.
Dua hari sebelumnya, Sekda Banjar HM Hilman mengumumkan keputusan para ulama dan pemuka agama yang tergabung dalam berbagai organisasi, justru memperkuat imbauan MUI. Apalagi, ada kasus positif corona dari Kabupaten Banjar. sehingga diimbau tidak mengumpulkan orang. Memperhatikan social distancing dan physical distancing . Semua keputusan bentuk antisipasi penularan corona.
Balangan Tetap Jumatan
Sementara itu, meskipun baru-baru tadi ada satu warga Balangan yang terkonfirmasi positif terpapar Covid-19, namun Kabupaten Balangan masih menyatakan berstatus zona hijau. Sehingga kegiatan salat Jumat di daerah ini masih bisa dilaksanakan seperti biasa.
Seperti di Masjid YAMP Baitul Ihsan, Kecamatan Paringin, Jumat (10/4). Ratusan jemaah memadati masjid, tidak ada ubahnya seperti Jumatan biasa.
Kendati demikian, pengurus masjid tampak lebih siaga, dengan menyediakan sabun di tempat wudu untuk jemaah cuci tangan. Sajadah pun dianjurkan untuk membawa masing-masing. Tetapi tidak terlihat jemaah yang mengenakan masker sebagaimana anjuran pemerintah.
Salah seorang jemaah, Walid mengungkapkan, ia masih memilih untuk salat Jumat berjamaah, karena sejauh yang ia tahu Kabupaten Balangan masih berstatus zona hijau.
“Satu orang yang positif itu kan dari Kecamatan Tebing Tinggi, cukup jauh juga dengan Paringin. Tapi kalau ada warga sekitar sini yang juga positif, mungkin saya juga pikir-pikir dulu untuk salat berjamaah,” ujarnya. (why/mam/by/bin)
Editor : berry-Beri Mardiansyah