BANJARBARU –Pemprov Kalsel kembali menerima bantuan ribuan alat pelindung diri (APD) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Bantuan tersebut diterbangkan menggunakan pesawat Boeing 737/AI-7308 milik TNI AU dan tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Sabtu (25/4) tadi.
Kedatangan APD disambut langsung oleh Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb M Taufiq Arasj. Setelah itu, diturunkan dari pesawat oleh para personel TNI AU.
Usai diturunkan, bantuan APD berupa pakaian Hazmat dan masker itu diserahterimakan secara simbolis dari Kemenkes RI yang diwakili Danrem 101/Antasari Kolonel Inf Firmansyah kepada Dinas Kesehatan Kalsel diwakili Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Akhmad Yanie.
Usai penyerahan, Danlanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb M Taufiq Arasj mengatakan bahwa bantuan APD yang tiba dari pemerintah pusat merupakan kali kelima yang diterima Pemerintah Provinsi Kalsel.
"APD ini berfungsi untuk mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh untuk melindungi diri dari bahaya dan risiko tugas bagi petugas kesehatan, terutama dalam penanganan kasus Covid-19," katanya.
Dia mengungkapkan, bantuan APD yang tiba pada tahap kelima ini tak kurang dari 88 koli atau sekitar 4.400 pcs. “Jika dijumlahkan bantuan APD dari tahap pertama hingga kelima, maka Kalsel telah menerima APD sebanyak 448 koli, masker 10 koli dan 40 liter hand sanitizer,” ungkapnya.
Rencananya, bantuan APD dari Kemenkes RI ini akan didistribusikan oleh Tim Gugus Tugas Pencegahan Pengendalian dan Penanganan (P3) Covid-19 Kalsel kepada rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 dan rumah sakit transit di Banua.
Sementara itu, persediaan rapid test kit yang ada di gugus tugas Covid-19 Kalsel rupanya masih banyak. Sampai kemarin, jumlahnya sekitar 2.000 pcs.
Juru bicara gugus tugas Covid-19 Kalsel Muslim menerangkan, dari sebanyak 7.200 rapid test kit yang diterima dari pemerintah pusat, sebanyak 5.200 pcs sudah didistribusikan ke kabupaten dan kota se Kalsel.
Alat pengujian cepat ini didistribuskan melalui dinas kesehatan kabupaten dan kota masing-masing. Rapid test kit juga disalurkan kepada semua rumah sakit rujukan di Kalsel. Dari jumlah yang disalurkan tersebut, pihaknya baru mendapat laporan sebanyak 2.630 dengan hasil reaktif 330 orang.
“Per 23 April tadi, laporan yang kami terima dari kabupaten dan kota, baru separuhnya. Dari tersalurkan 5.200, kami terima laporannya hanya 2.630, hasilnya 330 yang reaktif,” terang Muslim kemarin.
Dia membeberkan, rapid test yang disebar per kabupaten dan kota jumlahnya tak sama. Sesuai kebutuhan masing-masing daerah. “Apabila daerah pemanfaatannya cukup banyak, akan diberikan lebih,” katanya tanpa mau merinci berapa tiap daerah mendapat jatah.
Muslim juga mengharapkan pemerintah kabupaten kota agar segera melaporkan hasil rapid test mereka demi percepatan penanggulangan penularan Covid-19 di Kalsel. “Rapid test tak hanya dipakai kepada hasil tracking, namun juga untuk petugas medis,” imbuhnya.
Muslim mengaku tak masalah jika ada kabupaten dan kota yang secara mandiri melakukan pengadaan untuk membeli tes anti bodi itu. Pasalnya, pemerintah kabupaten dan kota memiliki kebijakan masing-masing untuk perluasan tracking warganya. “Tak masalah, ini demi percepatan juga,” imbuhnya.
Seperti diketahui, beberapa daerah demi percepatan tracking kasus Covid-19, melakuka pembelian mandiri rapid tes kit. Contohnya Kota Banjarmasin, mereka memesan rapid test sebanyak dua ribu unit.
Tak hanya Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) juga sudah memesan rapid tes kit ini demi memutus mata rantai penularan. Ketua Harian Tim Gugus Tugas, Percepatan, Pencegahan dan Penanganan Covid-19 HSS, M Noor menerangkan, rapid test dilakukan untuk mengindetifikasi dan melakukan pencegahan lebih awal terhadap warga jika ada yang terindikasi positif.(ris/mof/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin