BANJARMASIN - Fenomena pandemi berdampak positif kepada lingkungan, juga terjadi Banjarmasin. Sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan, produksi sampah menurun.
Seperti yang disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banjarmasin, Mukhyar. Penurunan intensitas aktivitas warga turut berdampak pada sampah perkotaan.
Padahal, lazimnya selama bulan Ramadan, terjadi peningkatan produksi sampah. "Biasanya kan meningkat sampai 10 persen," ujarnya.
Dalam sehari, rata-rata Banjarmasin memproduksi antara 500 sampai 600 ton sampah. Itu angka pada hari biasa. Tapi pada bulan puasa, jumlahnya selalu melonjak. “Kali ini angkanya tetap. Tidak ada kenaikan,” tambahnya.
Menurut Mukhyar, dalam situasi normal tak mudah menekan jumlah sampah. Maklum, ibu kota provinsi ini kecil dan padat penduduk. Ekonominya bertumpu pada sektor perdagangan dan jasa.
Sumbangan sampah yang berkurang berasal dari industri dan restoran. Termasuk juga dari pusat-pusat keramaian.
Penurunan memang tak signifikan. Lantaran sumbangan sampah domestik juga bertambah banyak. “Karena aturan PSBB, warga lebih banyak di rumah,” jelasnya.
Selama PSBB, setidaknya seribu petugas kebersihan yang dikerahkan. Mengangkut limbah dari tempat pembuangan sementara (TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA) Basirih.
Tapi selama pandemi, DLH memberikan tambahan peralatan perlindungan. Seperti sarung tangan, sepatu bot, masker, dan hand sanitizer. “Mereka juga dikasih vitamin,” ucapnya.
Bagaimanapun, petugas kebersihan punya risiko tingga tertular virus corona.
Perhatian pemko lainnya kepada "pasukan kuning", adanya gaji tambahan. Mukhyar enggan menyebutkan nominalnya, tapi dia menjamin pasti dibagikan. "Pencairan gaji tambahan akan dibagi dalam dua tahap," pungkasnya. (nur/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin