Dalam keheningan malam, pria 37 tahun itu berjalan tertatih-tatih. Sesekali langkahnya terhenti untuk menyeka peluh yang mengucur.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
SUDAH lebih sebulan, Jayadi Rahman bekerja sebagai badut jalanan. Mengenakan kostum seberat tiga kilogram, dia menghibur siapa saja yang melintas. Bergoyang ke kiri dan ke kanan, sambil melambaikan tangan.
Bila sepi dan bosan, dia pun kembali berjalan, menyusuri jalanan. Berhenti di suatu tempat. Mencari siapa saja untuk dihibur.
Begitu seterusnya. Sejak jam dua siang sampai jam 12 malam.
"Saya biasa berpindah-pindah. Tidak menetap di satu tempat," ucapnya ketika disapa Radar Banjarmasin di Jalan S Parman, Senin (4/5) dini hari.
Yadi harus gigih, karena kostum itu saja disewa. Rp75 ribu per hari. Kalau cuma mangkal di satu tempat, khawatir tak bisa dibayar.
Dia biasanya baru pulang ke rumah pada jam 1 malam. Mengembalikan kostum ke tempat penyewaan, baru menuju rumah kontrakannya di Jalan Pembangunan I Gang Menyapa. Semua dengan berjalan kaki.
Anak tertua Yadi sekarang duduk di bangku kelas IX SMP. Sementara anak keduanya masih kelas IV SD.
Dari jerih payah sebagai badut jalanan, kedua buah hatinya bisa dinafkahi.
Menjadi badut juga bukan keinginan. Dia kehilangan pekerjaan setelah pandemi menghantam perekonomian. Sebelum wabah, Yadi mencari uang dengan menjadi buruh panggul di pasar.
Tanpa mengenal hari libur, Yadi bisa membawa pulang Rp150 ribu per hari. Separuhnya sudah pasti dipotong untuk sewa kostum.
Peruntungannya baru berubah jika hujan turun. Yadi terpaksa berteduh menunggu hujan reda. Agar kostumnya tak basah kuyup.
"Kostum mulai terhitung disewa apabila sudah dikenakan di jalanan," tambahnya.
Mengapa tak membeli kostum sendiri? Harganya cukup mahal, Rp2 juta. Dia belum mampu membeli sendiri.
Selain mengenakan kostum badut, ada aksesori tambahan. Di leher tergantung celengan uang dan pengeras suara. Hasil rakitan sendiri, berdaya baterai. Disambungkan ke telepon genggam. Dari situ, bunyi-bunyian terdengar. Umumnya, lagu-lagu yang sedang ngehits.
"Modal awal untuk aksesori ini sekitar Rp200 ribu," ungkapnya.
Menjadi badut jalanan gampang-gampang susah. Suka dukanya banyak. Paling menyenangkan, apabila yang yang dihiburnya tertawa.
"Terkadang, ada yang menghampiri. Kemudian meminta berfoto. Tapi, ada pula yang menjemput saya untuk dibawa ke rumah. Setelah selesai, saya minta diantar lagi ke jalanan. Tarifnya, seikhlasnya saja," ucapnya.
Pengalaman pahit juga ada. Suatu ketika, Yadi sedang asyik bergoyang dan melambai-lambaikan tangan. Lalu seorang oknum pengamen menghampiri.
Tanpa rasa curiga, Yadi membiarkannya mendekat. Ternyata, dia hanya tertarik dengan celengan Yadi.
"Dia (oknum pengamen), berlagak hendak memberikan uang. Tahu-tahunya malah mengambil uang di dalam celengan, kemudian melarikan diri," tuturnya.
Pernah pula Yadi berseteru dengan pencopet yang coba mengambil celengannya. Beruntung, ada penarik becak yang melihat kejadian itu, kemudian membantu Yadi.
Berbekal pengalaman itu, apabila malam tiba, Yadi pun harus ekstra waspada. Salah satunya dengan berpindah-pindah tempat.
"Kalau tidak ke tempat yang lalu lintasnya ramai, ya di sebuah tempat yang terang benderang," bebernya.
Lagi-lagi, Yadi tampak menyeka peluh yang mengucur di wajahnya. Maklum, di dalam kostum badut, menurutnya sangat panas.
"Kostum yang saya kenakan terdiri dari tiga lapisan. Saya hanya mampu bertahan selama satu jam di dalam sini," ungkapnya, kemudian terkekeh.
Yadi, seorang lelaki yang murah senyum. Tak ada keluh kesah yang keluar dari mulutnya. Justru sebaliknya, hanya ada kalimat optimis.
Menurutnya, rezeki akan menghampiri selama seseorang mau berusaha. "Yang penting jangan diam atau sekadar menunggu," pesannya. (fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin