BANJARMASIN - Disisihkan dari bursa pencalonan, membuat Rosehan Noor Bahri jengkel. Kader PDI Perjuangan ini ingin partainya bisa mengusung kader sendiri di Pilgub 2020.
Alasan Rosehan memang kuat. PDI Perjuangan yang menjadi partai politik pemenang di Pemilu lalu dan menjadi partai politik kedua terbanyak mendapat jatah kursi di DPRD Kalsel, harusnya tidak jadi penonton.
Rosehan sendiri telah mencoba melamar banyak partai pada tahapan seleksi lalu. Dia datang ke Partai Golkar, Gerindra, NasDem, Demokrat, termasuk dengan partainya sendiri, PDI Perjuangan. Dia tidak bermimpi muluk, hanya mendaftar sebagai wakil gubernur. “Saya petarung dan siap maju jika DPP memerintahkan,” ujarnya kemarin.
Keseriusan Rosehan maju di Pilgub dibuktikannya merayu partai politik lain untuk berkoalisi demi mencukupi syarat kursi DPRD.Rosehan mengaku tengah melakukan komunikasi politik dengan PPP. Berkoalisi dengan partai berlambang Kakbah yang memiliki tiga kursi di DPRD Kalsel, tentu sudah memenuhi 20 persen kursi DPRD Kalsel. “Kita tunggu komando dari DPP. Politik itu dinamis sebelum ditetapkan oleh KPU,” sebutnya.
Konstelasi politik Pilkada Kalsel sendiri masih seperti api dalam sekam. Klaim dukungan dan usungan masif digaungkan kandidat, namun tetap saja belum ada kepastian sebelum turunnya SK dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan penetapan dari KPU.
Di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalsel, sang petahana Sahbirin Noor yang sudah diusulkan DPD Partai Golkar Kalsel juga tahu diri. Dia tak banyak berkomentar sebelum adanya SK dari DPP. Namun di beberapa kesempatan saat ditanya wartawan, dia menyatakan kalau rakyat memintanya, Sahbirin akan maju kembali.
Memiliki cukup kursi di DPRD Kalsel, bagi Golkar mengusung petahana tinggal mendapat restu dari DPP. Apalagi digadang-gadang, petahana akan disandingkan dengan rivalnya pada Pilgub 2015 lalu, Muhidin, membawa gerbong Parpol Golkar, PAN, PDI Perjuangan, PKS dan NasDem.
Pasangan ini dinilai bukan hanya kuat secara elektabilitas, juga memiliki modal segalanya, baik sokongan dana hingga basis massa yang ditopang melalui partai politik koalisi.
Calon rival petahana di Pilgub kali ini baru mencuat nama Denny Indrayana. Mantan Menteri Hukum dan HAM ini mengklaim sudah mendapat restu dari Partai Demokrat dan Gerindra. Di luar nama dia, hampir tak ada kandidat yang berambisi melawan petahana.
Pengamat politik UIN Antasari Ani Cahyadi mengatakan masih sangat mungkin adanya kuda hitam di Pilgub kali ini. Sebab sampai serkarang PDI Perjuangan belum menentukan pilihan, sementara masa penetapan calon masih panjang sampai 23 September mendatang. “Dua pasangan bakal calon yang sekarang digadang pun, Denny-Difri belum mendapat dukungan resmi melalui SK DPP," ucapnya. (mof/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin