BANJARBARU - Perayaan HUT Kemerdekaan RI di Aston Banua Hotel kemarin terlihat berbeda. Bendera merah putih setinggi 100 meter dibentangkan dengan cara diturunkan dari puncak gedung tertinggi di Kalimantan Selatan itu.
Berkibarnya bendera dengan berat ratusan kilogram itu menyita perhatian warga sekitar. Tak sedikit yang mengabadikan momen unik ini dengan gawainya. Namun mereka hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan. Panitia tak membolehkan mendekat karena acara dibuat terbatas karena pandemi.
Karena dianggap bersejarah dan diklaim pertama di Indonesia, acara ini turut langsung dihadiri oleh Gubernur Kalsel Sahbirin Noor. Selain itu ada Komandan Korem 101/Antasari Brigjen TNI Firmansyah serta tamu undangan lainnya. Termasuk jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Banjar.
Dihelat dari pukul 10.00 Wita, prosesi pengibaran berlangsung sakral. Bendera diulur oleh personel TNI dari Rindam VI/Mulawarman dengan cara menuruni dinding gedung. Acara terlebih dahulu ditandai dengan peledakan bom oleh personel Denzipur 8/GM Banjarbaru yang kemudian diikuti suara sirine..
Ketika bendera mulai tampak dari ketinggian gedung dengan total 26 lantai ini. Decak kagum dari tamu undangan mulai tampak. Beruntung saat itu cuaca cukup cerah, sehingga pengibaran bendera terpanjang di Kalsel ini berjalan lancar.
General Manager Aston Banua Hotel, Andri Kurniawan menceritakan pengibaran bendera ini untuk menyemangati semua elemen bangsa yang sedang kesusahan karena corona. "Soal rencana ini, saya banyak berdiskusi dengan bapak Dandim 1006 MTP, saya biasa panggil beliau Abang Siwo. Beliau antusias sekali, dan akhirnya saya yakinkan ini digelar dengan persiapan kurang lebih satu pekan," ceritanya.
Bendera raksasa ini kata Andri dijahit oleh penjahit lokal di Kabupaten Banjar. Untuk teknis pengibaran, ia mengaku sangat berterima kasih kepada anggota TNI yang membantu dari awal hingga akhir.
"Saya bisa klaim pengibdaran bendera pada gedung tertinggi di Indonesia, khususnya di masa pandemi. Mengibarkan bendera tertinggi melambangkan tingginya keinginan kita untuk melawan Covid-19," ucapnya seraya mengatakan bendera akan dikibarkan hingga akhir bulan Agustus 2020 ini.
Gubernur Kalsel Sahbirin Noor menganggap bahwa pengibaran bendera di Aston merupakan sejarah baru di Kalsel. Terlebih katanya semangat yang diusung adalah untuk bangkit dari Covid-19.
"Hari ini kita menyakiskan pengibaran bendera merah putih terpanjang dan berkibar di Kalsel. Ini sejarah di Kalsel dan baru pertama digelar. Jadi kita patut mengapresiasinya," ungkap Sahbirin.
Komandan Korem 101/Antasari Brigjen TNI Firmansyah mengatakan hari bersejarah ini hendaknya diresapi dengan penuh perjuangan oleh masyarakat. Termasuk mengekspresikan semangat untuk bisa bangkit dari kondisi sekarang.
"Kita bisa mengisi kemerdekaan ini dengan hal yang berguna. Tentu pengibatan ini jadi tonggak sejarah untuk peringatan kemerdekaan," pungkasnya.
Sementara itu, Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Tabalong juga mengibarkan bendera setinggi 30 meter di tebing bebatuan di Tebing Batu Ampik, Desa Gragata, Kecamatan Jaro.
Prosesi pengibaran bendera dimulai sejak pukul 09.00 pagi. Sebelum mengibarkan bendera di tebing, para pemuda ini mempersiapkan bendera 12 meter. Empat pemuda kemudian mulai memanjat ke tebing hingga 30 meter untuk menarik tali.
Saat lagu Indonesia Raya mulai dilantunkan, bendera dikerek ke atas. Waktu yang dibutuhkan untuk pengibaran bendera secara ekstrem ini hingga satu jam lamanya. Sekitar pukul 10.00 Wita, bendera telah terbentang.
Sempat terjadi insiden yang menegangkan. Kibaran bendera sebesar 12 meter kali 6 meter itu tiba-tiba diterpa angin kencang. Para pemanjat pun kewalahan bertahan. Untungnya, pemanjat tidak menempel pada tebing, hanya bergelantung. Sehingga, tubuh mereka tidak terbentur dinding tebing.
Muhammad Jamani, seorang pemanjat tebing, mengatakan aksi ini terbilang sulit. Padahal, sebelumnya para pemanjat sudah melakukan bersih-bersih bagian tebing yang menjadi target pengibaran. "Tebingnya tidak licin, dan medannya hanya vertikal. Tapi batunya tajam sebagian, tangan jadi lecet-lecet sedikit," kisahnya.
Saat naik, Jamani baru menyadari jika bendera ternyata cukup berat ketika dibentang dan tertiup angin. Saat simulasi bendera itu memang tidak digunakan,. "Benderanya baru datang malamnya, waktu mau pemasangan," terangnya.
Meski begitu, rasa lega terpancar dari wajah mereka ketika cita-cita ingin mengangkat merah putih di atas tebing tercapai. Seolah perjuangan terbayarkan. "Kami ingin melihatkan semangat 17 Agustus. Harapannya, bagi anak muda berhati membara dan penuh perjuangan," ucapnya.
Secara keseluruhan, walaupun diselenggarakan dengan gaya pecinta alam, namun penerapan protokol kesehatan Covid-19 tetap dipatuhi.
Penasehat FPTI Tabalong, Husin Nafarin mengatakan kegiatan hari ini merupakan sejarah bagi FPTI Kabupaten Tabalong karena mempunyai momen langka. "Bisa memperingati Agustusan di tebing alam," ucapnya.
Warga sekitar sangat antusias mendukung dan menghadiri peringatan Hari Kemerdekaan RI di Tebing Batu Ampik. Dibutuhkan dua hari dua malam persiapan dengan pembersihan tebing tersebut. (rvn/ibn/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin