"Harmoko!" bentaknya ketika lampu mati. Dengan kesal, Erik menunggu listrik kembali menyala agar bisa kembali meneruskan sketsanya.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
RUSDIANA tak pernah mengerti, mengapa kakeknya selalu meneriakkan nama Menteri Penerangan zaman Orde Baru itu ketika PLN berulah.
"Entah apa maknanya," ujarnya saat ditemui penulis di rumahnya di Banua Anyar, Banjarmasin Timur, Jumat (18/9).
Rusdiana adalah cucu kesayangan Erik Petersen. Semasa kecil, ia kerap menemani Erik bekerja. "Saya sering dijadikan model sketsa," kenangnya.
Ketika diminta menuturkan perjalanan hidup sang kakek, perempuan 30 tahun itu amat bersemangat. Diceritakannya, sebelum pindah ke Banjarmasin, Erik tinggal di Mandomai, Kapuas Barat, Kalimantan Tengah.
Di sana ia bertemu Maspun Kasran. Seorang hajjah yang ditinggal suami wafat dengan lima anak. Sementara Erik telah bercerai dari istrinya. Pernikahan pertama dikaruniai tiga anak.
"Kata nenek, kakek pernah bernazar. Bila selamat dari bahaya, ia akan menikahi penduduk asli," ujarnya.
Konon, kapal yang ditumpangi Erik hampir karam. Dalam situasi genting, ia mengucapkan nazar. "Tapi nenek punya satu syarat, kakek harus masuk Islam dulu," tambahnya.
Mengingat keluarga neneknya terbilang taat beragama. Setelah mengucap syahadat, Erik menyandang nama muslim Arif Faturahman.
Setelah menikah, keluarga diboyong ke Banua Anyar, perkampungan di tepi Sungai Martapura. Sempat bermukim di RT 16, tapi tak betah karena perumahannya terlalu padat. Erik kemudian membangun rumah di RT 07.
Di situ, ia kerasan karena udaranya sejuk. "Kakek tidak terbiasa kepanasan. Dan harus dekat sungai," ujarnya.
Erik lahir tahun 1930. Kedatangannya ke Banjarmasin diperkirakan tahun 1992. Bertepatan dengan tibanya masa pensiun sebagai arsitek perencana.
Datang ke Banjarmasin karena terkesan oleh industri pembuatan perahu tradisional Kalimantan alias jukung. Mengisi hari-hari pensiun, Erik habis-habisan meneliti jukung.
Di Banua Anyar, Erik memiliki banyak julukan. Dari Kai Asing (kakek bule), Kai Jukung dan Profesor Jukung. Tapi julukan pertama yang paling melekat di benak masyarakat.
Contoh, ketika penulis mencari kediaman keluarga Erik, cukup sekali bertanya dengan mengucap nama Kai Asing, warga langsung tahu harus menunjuk ke mana.
Rumah kayu berkelir putih itu masih berdiri kokoh. Di dalam, banyak dipajang foto-foto kenangan keluarga. Termasuk sejumlah piagam penghargaan. Di rumah itulah Erik menghabiskan sisa umurnya.
Maspun kini berusia 93 tahun. Kondisi kesehatannya tak memungkinkan lagi untuk diwawancara.
Rusdiana ingat, kakeknya suka berkeliling kota dengan mengayuh sepeda. "Kalau di rumah lebih santai. Biasanya bertelanjang dada saja karena gerah," kisahnya.
Kesibukan lainnya adalah menganyam rotan. Dijadikan kursi kerja, kursi makan dan kursi buaya. Disebut kursi buaya karena panjang, cocok untuk rebahan sambil berjemur.
Hasil kerajinan tangan terbilang lumayan untuk menambah pendapatan keluarga. Karena Erik melayani pesanan dari kampung halamannya di Denmark.
"Entah bagaimana cara kakek mengirim kursinya keluar negeri. Tapi kata nenek, uang hasil penjualan selalu tiba setiap bulan," ujarnya. Keterampilan menganyam itu rupanya Erik pelajari dari Maspun selama tinggal di Kapuas.
Rusdiana juga ingat, Erik tak bisa jauh-jauh dari kameranya. Fotografi adalah hobinya yang lain. Sayang sekali, kamera itu sudah lama raib. "Yang tersisa hanya foto-foto hasil cetak," ujarnya.
Lalu, bagaimana kesan masyarakat Banua Anyar terhadap Erik? Anak-anak menjulukinya Profesor Jukung. Karena Erik gemar mengunjungi sekolah-sekolah untuk bercerita tentang jukung. Salah satunya di SDN Banua Anyar 4.
Erik memahami Bahasa Indonesia, sekalipun tak lancar dalam percakapan. Tapi keterbatasan bahasa tak menghalanginya untuk menyapa warga sekitar.
"Saya sering melihat beliau bersepeda. Suka bercanda sama anak-anak. Ramah sama orang-orang tua," kata Rusmini, 60 tahun, warga Banua Anyar.
Kesempatan dari Museum Viking
Empat tahun setelah menetap di Banjarmasin, kesempatan itu datang. Pada 1996, The Viking Ship Museum Roskidle dari Denmark, menggagas proyek penelitian pembuatan perahu sungai dari berbagai belahan dunia.
Jika Kalimantan dilirik, bukan sebuah kebetulan. Karena pada 1991, museum yang fokus pada pelayaran dan pembuatan kapal dari periode prasejarah sampai abad pertengahan itu sudah menerbitkan buku tentang perahu suku lokal di Borneo Utara.
Judulnya 'Building a Longboat: An Essay on the Culture and History of a Bornean People' karya Ida Nicolaisen dan Tinna Damgard Sorensen.
Erik juga punya modal. "Erik sudah berkelana di tiga benua. Dari Denmark, Afrika Timur sampai Indonesia," kata dosen sejarah dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur.
"Erik Petersen kemudian terpilih menjadi peneliti dari proyek tersebut," tambahnya. Begitu data terkumpul, Erik memulai penulisan bukunya pada Desember 1998.
Buku 'Jukung Boats From The Barito Basin, Borneo' menggambarkan jenis jukung, bahan dasar, dan cara pembuatannya secara mendetail.
Lokasi risetnya meliputi Sungai Mangkutup, Muroi, Manusop dan Sungai Dusun di Kalteng. Sementara di Kalsel, mencakup Sungai Alalak dan Negara di Hulu Sungai Selatan.
"Erik juga mengunjungi Candi Borobudur di Jawa Tengah. Meriset relief perahu yang terpahat di dinding candi," jelasnya.
Hasil penelitian diterbitkan tahun 2000. Ditulis dalam Bahasa Inggris dengan tebal 157 halaman. Sang direktur museum, Tinna Damgird Sorensen memberikan kata pengantar.
Buku itu menjadi rujukan akademisi Eropa dan Asia. Dipakai untuk kajian sejarah maritim, arkeologi laut, hingga arkeologi eksperimental.
"Jukung ia teliti dengan sangat mendalam," ujarnya. "Pada tahun yang sama, jukung hadir dalam pameran kelas dunia di Denmark," tutupnya.
Pesan Terakhir Erik
BANJARMASIN - Dari tongkang bekas, Dewan Koperasi Banjarmasin membangun restoran terapung di Sungai Martapura, tepi Siring RE Martadinata. Restoran senilai Rp1,2 miliar itu diresmikan wali kota dalam rangkaian peringatan hari jadi kota ke-494 kemarin.
Ide restoran terapung ternyata pernah dicetuskan Erik Petersen. Tapi menurut Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat, Profesor MP Lambut, selera sahabatnya lebih mewah. "Restoran bertaraf internasional," ujarnya.
Dan lebih canggih karena bisa menyusuri sungai, bukan ditambat diam. "Jadi sambil makan bisa bertamasya sungai," tambahnya.
Lambut mengingatkan, Erik tak meneliti jukung untuk berkubang di masa lalu. Dia ingin prinsip jukung bisa dipraktikkan dalam kehidupan. "Erik ingin masyarakat Banjarmasin mengenali jati diri dan budayanya melalui jukung dan sungai," tegasnya.
Selain restoran, Erik juga memimpikan ada sebuah museum jukung di Banjarmasin. Dia bahkan rela bolak-balik mengurusi ide-ide tersebut.
"Berulang-ulang kami sodorkan proposal ke pemerintah, tapi selalu ditolak. Padahal Erik sudah mencari dan mengukur lokasi yang layak untuk museum dan restoran itu," kisahnya.
Hingga Erik meninggal dunia pada usia 75 tahun pada tahun 2005. Setelah dirawat di rumah sakit karena penyakit ginjal.
Satu dua impian mungkin tak tercapai. Tapi setidaknya Erik telah menyumbangkan hasil penelitian yang amat berharga.
Pada tembok rumahnya di Banua Anyar, terpajang sebuah pigura. Di sana ada sketsa dan tulisan tangan Erik. Itulah pesan terakhir yang ditulis dalam dua bahasa, Denmark dan Indonesia.
"Halo semua. Kekuatan saya surut pada perawatan medis, obat-obatan dan gadis penuh kasih. Aku menyesal mati, dialog ini tidak cukup. Saya memiliki kehidupan menyenangkan yang saya banggakan. Terima kasih kepada semua. Tanpa bantuan Anda, saya tidak akan memiliki kehidupan yang baik seperti itu. Damai di bumi dan damai dengan kalian semua," tulisanya.
KENANG-KENANGAN: Prof MP Lambut menunjukkan miniatur kapal layar buatan Erik Petersen di rumahnya di Jalan Cendrawasih. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin
Punahnya Tambangan dan Saudara Sungai
Profesor Melkianus Paul Lambut adalah sahabat baik Erik. Lambut, 88 tahun, adalah guru besar di Universitas Lambung Mangkurat.
Ditemui di rumahnya di Jalan Cendrawasih, Senin (21/9), Lambut sudah menganggap Erik seperti saudara kandung.
Diceritakannya, julukan Kai Jukung sebenarnya bukan pujian, melainkan hinaan. Karena Erik betah berjam-jam duduk mengamati pembuatan jukung. Pertanyaan yang ia lontarkan juga dianggap mengganggu oleh para perajin jukung. "Tapi pendirian Erik kukuh. Semangat menelitinya luar biasa," ujarnya.
Pada tahun 2001, keduanya berkolaborasi. Lambut menerjemahkan buku 'Jukung Boats From The Barito Basin, Borneo' ke dalam Bahasa Indonesia.
Dari situ, Lambut berani mengatakan, hanya Erik yang mencintai jukung. Sementara kita, mendekati saja tidak.
Kemarahan ini berasal dari punahnya jukung tambangan. Punah karena tak pernah lagi diproduksi. "Semuanya terbuat dari kayu ulin. Anehnya tak pernah terdengar ada kasus jukung ini karam," ujarnya.
Hilangnya tambangan dari sungai-sungai di Banjarmasin merupakan sebuah bencana budaya. Alhasil, dalam buku itu, Erik tak memasukkan tambangan dalam bab mana pun.
"Karena tambangan keburu menghilang sebelum kedatangan Erik. Sayang sekali ia belum pernah melihatnya," jelas penulis buku 'Manusia Sungai' itu.
Bagi Lambut, ini memang aneh. Malah orang asing yang tergila-gila dengan jukung. "Sekarang, Erik sudah tiada. Bayangkan, Erik tak bisa berbahasa Banjar, tapi ia bisa meneliti jukung di Alalak sana," kecamnya.
Erik juga punya teori. Bahwa jukung lah yang membawa orang Banjar merantau sampai Afrika. Menjadi nenek moyang Madagaskar. Teori yang kemudian memukau banyak ahli arkeologi dan biologi.
Dalam kenangan yang lebih pribadi, jika otak sudah mumet, keduanya pergi menginap di rumah lanting.
Erik tampak tenang ketika berada di sungai. "Mendengar kecipak air, Erik bilang, semua pikiran kalut pun hilang," kenangnya.
Selain jukung dan sungai, Erik juga amat mencintai kota ini. Menurutnya, sungai-sungai yang membelah Banjarmasin tak ada duanya.
Maka Erik terkesan ketika mendengar pamali orang Banjar. Pantangan membuang sampah ke sungai. "Karena di sungai ada saudara kita, Erik sangat paham," tegasnya.
Pada hari-hari terakhir, Lambut membesuk Erik di rumah sakit. Terbaring lemah di ranjang, Erik menghadiahkan miniatur kapal layar kepada sahabatnya. Hasil kerajinan tangannya sendiri. Miniatur itu masih disimpan Lambut. "Dia meminta saya meneruskan pekerjaaannya," tutupnya. (war/at/fud)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin