Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Idamkan Hp Baru, M Noor Jual Es Mambo; Dilema Belajar Daring di Kota Banjarmasin

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-10-06 14:14:53
SIAP BERDAGANG: Mengayuh sepeda, M Noor berkeliling ke sejumlah kawasan. Uang hasil jualan es mambo ditabung untuk membeli gawai. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
SIAP BERDAGANG: Mengayuh sepeda, M Noor berkeliling ke sejumlah kawasan. Uang hasil jualan es mambo ditabung untuk membeli gawai. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Tidak semua anak memiliki fasilitas penunjang belajar daring. M Noor salah satunya. Bocah sembilan tahun ini berjuang mengumpulkan rupiah dengan berjualan es mambo. Tujuannya hanya satu: membeli gawai agar nyaman belajar.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

M Noor tampak ceria disambangi di kediamannya di Gang Belasung, Jalan Pangeran Samudera Banjarmasin Tengah, kemarin (5/10) siang. Namun di balik keceriaannya, ia menyimpan rasa dongkol di hati. Jadwalnya berjualan es mambo terpaksa ditunda ke sore hari. Padahal biasanya berjualan pada waktu siang.

Gara-garanya seusai menyantap makan siang, M Noor merasa di tenggorokannya menempel sisa tulang ikan gabus. "Sudah lumayan dibandingkan tadi. Masih ada sedikit sisa sakit," ucapnya, kemudian terkekeh.

M Noor anak kedua dari tiga bersaudara. Tinggal serumah bersama ibu dan ayahnya. Sang ibu yang biasa menyiapkan jualan M Noor.

Berjualan es mambo sejak akhir April lalu, ada tiga lokasi yang biasa disambangi M Noor. Di kawasan Teluk Dalam, Pasar Lima, dan Lapangan Kamboja. Dalam sehari, ia mampu menjual hingga 200 biji es mambo.

Dijual Rp1.000 perbiji. Rasa esnya bervariatif. Ada rasa kacang hijau, mangga, dan buah-buahan lainnya. Selain manis, esnya juga renyah di mulut.

M Noor berjualan tak lain karena keinginannya memiliki gawai sendiri. Maklum, dalam melakukan proses pembelajaran daring sebelumnya, ia hanya memakai gawai sang ibu.

Dengan catatan, gawai tidak 'dikuasai' sang adik. Apabila sudah demikian, proses belajarnya pun terhambat. Bahkan jadwal belajarnya bisa malah berlangsung malam hari. "Kami bersyukur, guru di sekolahnya bisa memaklumi," jelas sang ibu, Sari.

Saat ini, M Noor duduk di bangku kelas IVb. Di SDN Antasan Besar 1. Perempuan berumur 30 tahun itu cukup kesulitan untuk membelikan gawai untuk M Noor. Pasalnya, dia juga harus mementingkan keperluan rumah.

Di sisi lain, dia juga berkeinginan membantu sang suami yang berprofesi sebagai ojek online. Dengan membuat kios kecil yang menjual berbagai barang dagangan. Lokasinya, berdampingan dengan kediamannya.

Melihat sang ibu berdagang kecil-kecilan, muncul keinginan M Noor berdagang. Sang ibu pun membuatkan es mambo untuk dijual.

Mulanya, M Noor berjualan es mambo hanya berjalan kaki. Mengarak termos es ke beberapa kawasan. Tak jauh dari kediamannya. Namun lambat laun, ternyata M Noor memilih berjualan ke tempat yang lebih jauh. "Kalau berjualan di sekitar sini, katanya tidak laku," tambah Sari.

Benar saja ketika berjualan di tempat yang cukup jauh dari kediamannya, es mambo yang dibawa M Noor lekas laku.

Saking lakunya, selain bisa menyisihkan uang hasil jualan untuk membeli gawai, M Noor juga dapat menyisihkan penghasilannya untuk membeli sebuah sepeda bekas. "Baru dua pekan dipakai, remnya belakangnya meledak," tutur M Noor. Maksudnya, rem belakangnya putus.

M Noor sendiri mempunyai batasan-batasan ketika berjualan. Ia hanya diizinkan sang ibu berjualan dari siang hingga sore. Ketika berjualan sore hari, waktunya berjualan hanya beberapa jam saja. "Saya khawatir kalau dia berjualan setiap hari atau sampai malam. Kalau pun saya izinkan berjualan malam hari, hanya Sabtu malam dan Minggu malam saja," tegasnya.

Lantas, seperti apa gawai yang diidam-idamkan M Noor? Ia membeberkan salah satu merek gawai terkenal. Berikut spesifikasinya. "Yang RAM 8 giga, dan yang kameranya dua," ucapnya, kemudian tertawa.

MANIS RASANYA: M Noor di kediamannya memperlihatkan sejumlah es mambo yang berwarna-warni dengan berbagai varian rasa. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

 

Penjual Es Mambo Tangguh

Semangat juang M Noor layak diacungi jempol. Ketika berjualan memiliki prinsip pantang pulang apabila es mambo yang dibawanya belum habis terjual.

Sari (30) ibu dari M Noor menceritakan pernah suatu ketika, anaknya yang lahir pada 8 September 2011 lalu itu tak kunjung pulang ke rumah. Padahal hari sudah beranjak malam. Tak ayal, penghuni rumah ribut mencari keberadaan M Noor. "Ternyata ada di Lapangan Kamboja. Saat itu, dia tersenyum lebar melihat kami. Padahal kami sangat khawatir," tuturnya.

Ditanya mengapa malam hari belum pulang, dengan polosnya saat itu M Noor mengatakan bahwa es mambo yang dibawanya belum habis. Beruntung, di waktu bersamaan, ada seseorang yang bersedia memborong es mambonya. "Kalau tidak, entah bagaimana membujuknya agar mau pulang ke rumah," bebernya.

Sejak saat itu, Sari mengaku perlu membatasi jumlah es mambo yang dibawa M Noor. Dengan catatan, apabila habis terjual sebelum waktu pulang, M Noor dapat mengambil kembali stok es mambo dan kembali berjualan. "Saya tidak ingin kejadian serupa terulang kembali. M Noor anak yang patuh dengan orang tua. Ketika dinasihati, dia lekas mengerti," bebernya.

Semangat berjualan M Noor juga diakui kawan seumurannya. M Sahib, bocah sembilan tahun ini juga berjualan es mambo. "Kami bersaing om. Saya berjualan di lain kawasan. Kalau tempatnya sama dengan M Noor, nanti penghasilan kami jadi kurang banyak," celoteh Sahib yang masih terpaut keluarga dengan M Noor.

Sari tidak pernah memanjakan anak-anaknya. Sedari dini selalu menekankan anak-anaknya untuk rajin menabung apabila ingin membeli sesuatu. Caranya, menyisihkan uang jajan yang diberikan. "Alhamdulillah, anak-anak saya semuanya rajin menabung. Sampai sekarang, bila ingin beli sesuatu, mereka memakai uang hasil tabungannya sendiri," tuntasnya.(war/dye/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Feature Inspirasi #Banua Pendidikan