Membaca diri melalui kartu tarot tak ubahnya seperti sesi curhat. Jauh dari kesan mistis apalagi meramal masa depan. Pegiatnya hanya membantu membaca jalan keluar dari masalah.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
SEBANYAK 78 kartu berjejer rapi di atas kain bulu berkelir merah. Satu per satu dibuka, sampai ada 11 buka terbuka di atas meja.
Ketika kartu pertama dibuka, tarot reader (pembaca kartu tarot) menanyakan tentang siapa sang klien. Klien pun menyebutkan nama dan hal personal lainnya.
Kartu kedua dibuka, tarot reader kembali bertanya. Kali ini tentang kondisi terkini klien. Perbincangan panjang pun mengalir antara tarot reader dan klien.
Menit demi menit berlalu. Sesekali serius, sesekali terdengar tawa. Terasa seperti bertemu seorang kawan lama.
Perbincangan ditutup ketika kartu terakhir dibuka. Kali ini, tarot reader menyampaikan sebuah kesimpulan. Menggambarkan sejumlah solusi. Pada titik ini, solusi diambil atau tidak, tentu hak klien.
"Masing-masing solusi juga dijabarkan sisi positif maupun negatifnya. Pilihan akhir tetap pada klien," ungkap Gusti Ayuneda, sang tarot reader.
Perempuan 27 tahun itu sudah lima tahun terakhir menjadi tarot reader.
Jumat (20/11) malam, di sebuah kafe di Jalan Hasan Basry, Ayu bertemu dengan seorang klien. Perempuan muda, berambut hitam sebahu. Priscilla namanya. Dialah yang dibaca oleh Ayu.
Malam itu, Priscilla mengaku penasaran seperti apa tarot itu. Menurut perempuan 22 tahun itu, tarot tak seperti yang kerap diperbincangkan orang-orang. Yakni meramal.
"Lebih seperti curhat. Kita seperti bertemu teman yang membuat nyaman. Pendengar dan penanggap yang baik. Bedanya, kalau biasa curhat ditemani kudapan atau minuman, kali ini curhatnya sambil melihat kartu," bebernya.
Sisi lain, Priscilla tidak memungkiri, bahwa penjelasan yang disampaikan oleh tarot reader juga ada yang mengena di kehidupannya.
"Seru! Sampai pada kesimpulan, kita sendiri yang menentukan sikap ke depan," bebernya.
Tarot jelas berbeda dari kartu remi. Utamanya, dari segi jumlah dan gambar. Dalam tarot, gambarnya variatif. Secara sederhana, gambar yang ditampilkan layaknya gambaran umum perjalanan hidup seorang manusia.
Ada banyak versi tentang tarot. Namun, versi yang paling umum berasal adalah Tarocchini. Berasal dari Bahasa Italia, sebuah permainan kartu yang menjadi medium untuk membaca situasi seseorang.
Menurut Ayu, tarot hanya membaca kisah yang disampaikan si klien. Sangat berbeda dengan meramal.
"Saya tidak meramal si klien bakal dapat ini atau itu, tidak. Saya membaca apa yang saya lihat dari diri si klien, bukan membaca yang seperti apa yang klien inginkan," jelasnya.
Ayu juga memambahkan, meski sudah dijelaskan berulang-ulang bahwa profesi tarot reader bukan seperti yang kerap orang-orang sangkakan, ia mengaku selalu saja profesinya diidentikkan dengan segala hal yang berbau mistis.
"Bahkan, saya pernah disangka dukun. Karena kebetukan, solusi yang ditawarkan selalu berhasil. Padahal, kalau dirunut dari awal, solusi yang ditawarkan pun sebenarnya berdasarkan dari cerita klien," ungkapnya.
Lantas, mengapa bisa sampai dianggap seperti itu? Menurut Ayu, lantaran banyak yang belum memahami. Akibat ketidaktahuan.
Di Banjarmasih, jumlah tarot reader masih bisa dihitung dengan jari. Dia ingin mengubah ini.
"Tak ada hal mistis di sini. Saya ingin menghapus stigma itu. Karena tarot reader hanya membaca kisah yang dituturkan klien," tutupnya.
Minta Bertemu Justin Bieber
Berbagai pengalaman unik dirasakan Gusti Ayuneda selama menjadi seorang tarot reader. Suatu ketika, kliennya pernah meminta ditemukan dengan Justin Bieber.
Ya, bintang pop asal Kanada itu. Sungguh menggelikan. "Setelah dijelaskan saya cuma seorang pembaca tarot, baru dia paham," ujarnya.
Kalau dihitung-hitung, selama lima tahun terakhir, sudah 100 klien yang ia baca. Mayoritas adalah perempuan.
Beberapa kliennya mengaku sebagai "perempuan nomor dua". "Biasanya, mereka minta dibaca bagaimana menyikapi hubungannya," ungkapnya.
Lantas, apakah berhasil? Sejauh ini, rata-rata sukses. "Tapi yang memutuskan dan menjalani tetap si klien," tambahnya.
Apakah ada klien yang sulit dibaca? Bungsu dari empat bersaudara itu mengaku sedikit kesulitan menghadapi klien laki-laki.
Sebab, mereka lebih pemalu. Sungkan atau bingung ketika hendak menceritakan masalahnya.
"Kalau sudah bertemu klien seperti itu, biasanya saya pancing dulu dengan membuka kartu-kartu. Cerita-cerita tentang kehidupan. Nanti si klien juga bakal bercerita dengan sendirinya," jelasnya.
Membaca klien melalui tarot ibarat membaca sebuah buku berhalaman tebal. Perlu tenaga. Setelah selesai membaca, ia juga perlu rehat.
Disinggung soal tarif, Ayu menekankan hanya ingin menolong orang lain. "Membantu itu kan baik. Dan saya senang membantu," tutupnya dengan senyuman. (war/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin