BANJARMASIN - Suara pemilih di Kabupaten Banjar menjadi penyelamat Sahbirin-Muhidin. Mereka akhirnya secara resmi dinyatakan menjadi pasangan yang memperoleh suara terbanyak pada Pemilihan Gubernur Kalsel 2020.
Sebelum dibacakan hasil rekapitulasi suara Kabupaten Banjar, jumlah suara 12 kabupaten masih mengunggulkan pasangan Denny Indrayana-Difriadi Darjat dengan selisih yang cukup signifikan. Masuknya suara Kabupaten Banjar merubah drastis perolehan suara dua pasangan calon.
Di Kabupetan Banjar, Sahbirin-Muhidin mendapat sebanyak 171.838 suara sah. Sedangkan Denny-Difri hanya memperoleh sebanyak 104.465 suara sah. Selisih sebanyak 68.374 suara.
Dengan masuknya tambahan suara di Kabupaten Banjar tersebut, pasangan Sahbirin-Muhidin dinyatakan sebagai pasangan calon dengan perolehan suara terbanyak, yakni memperoleh sebanyak 851.822 suara sah. Sedangkan Denny-Difri memperolah sebanyak 843.695 suara sah. Selisihnya hanya 8.127 suara sah.
Dengan hasil ini, sengketa hasil di Mahkamah Konstitusi tak terhindarkan. Tim Denny-Difri yang hadir di hari pertama pleno rekapitulasi hasil, di pleno terakhir kemarin tak lagi datang. Mereka juga menolak menandatangani berita acara hasil pleno rekapitulasi.
“Mereka (kandidat) yang belum puas atau tak menerima atas hasil pleno hari ini bisa menyengketakannya ke MK. Ada hak kandidat jika merasa tak puas,” ujar Ketua KPU Kalsel, Sarmuji.
Dia menegaskan, pleno kemarin hanya menetapkan perolehan suara terbanyak. Belum ditetapkan sebagai pemenang di Pilgub Kalsel. Dia menjelaskan, ruang sengketa terbuka 3X24 jam hari kerja pasca penetapan perolehan suara kemarin.
Jika dalam 3X24 jam hari kerja tersebut, tak ada sengketa yang terigesterasi di MK, maka KPU Kalsel sebutnya akan langsung menetapkan pemenang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel 2020. “Kami tunggu saja. Pokok gugatannya juga belum tahu. Yang pasti kami bersiap,” katanya.
Sementara itu, Denny Indrayana – Difriadi membuat satu gerakan yang tak biasa. Mereka menghimpun sumbangan dana dari masyarakat bertajuk "Gerakan Rp5 ribu Selamatkan Banua Kita".
Denny mengatakan, gerakan Rp5.000 merupakan penggalangan sukarela dan tidak ada paksaan. Serta, bukan sekadar donasi yang mereka perlukan ke MK.
"Tapi ini juga untuk pendidikan politik. Supaya kita paham bahwa politik juga butuh biaya. Tapi caranya harus dilakukan dengan model yang tepat, amanah dan bertanggungjawab," katanya, kemarin.
Dia menegaskan, dana rakyat yang mereka kumpulkan bakal dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya juga dijamin transparansinya. "Dan Insya Allah bukan hanya transparan, tapi pian (kalian) bisa lihat secara terbuka jelas pertanggungjawabannya bahwa ini adalah perjuangan kita beimbaian (bersama)," jelasnya.
Diungkapkannya, dana yang terkumpul dalam gerakan Rp5000 paslon bertagline Hijrah Gasan Banua itu kemarin sudah mencapai Rp59 juta lebih. Bahkan Denny mengaku harus mengganti buku tabungan, karena sudah penuh. "Belum 24 jam sudah harus ganti buku tabungan, karena antusiasme penyumbang," ungkapnya.
Denny mengaku sengaja memilih melakukan gerakan Rp5.000 sekarang, karena pada waktu kampanye menurutnya waktunya belum pas. "Kami juga ingin mengukur tingkat kepercayaan masyarakat kepada H2D (Haji Denny-Difri). Setelah mendapatkan suara 800 ribu lebih, saya memandang ini lah waktu yang tepat," paparnya.
Selain untuk keperluan pendanaan ke MK, serta pendidikan politik, dia mengungkapkan gerakan penggalangan dana juga dimaksudkan untuk membangun kebersamaan mereka bersama pendukung. "Bahwa kebutuhan pemimpin baru di Kalsel merupakan kebutuhan bersama. Jadi ini bukan hanya masalah Haji Denny-Difri," ungkapnya.
Karena itu, dalam penggalangan dana menurutnya prosesnya harus benar. Itu sebabnya, pihaknya tidak menggunakan rekening pribadi.
"Kami menggunakan rekening bersama atas nama saya dan Pak Difri. Jadi yang bertanggung jawab membuka dan melihat aliran dana bukan hanya saya, tapi juga Pak Difri," ujar Denny. (mof/ris/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin