Entah karena ditinggalkan pengunjung, kehabisan modal ataupun perencanaan yang salah, banyak bangunan-bangunan di Banjarmasin yang telantar.
---
Hotel Harum Manis merupakan bangunan yang sudah tidak terurus di Jalan Kertak Baru Ilir, Banjarmasin Tengah. Hotel di dekat pasar ini mengalami kemajuan dan tutup pada tahun 2015.
Menurut masyarakat sekitar, sepinya pengunjung Hotel Harum Manis disebabkan karena letak hotel yang kurang strategis yaitu berada ditengah-tengah pasar yang sangat padat.
"Dulunya lokasi tersebut adalah diskotik atau tempat hiburan sekitar tahun 1990an, namun karena adanya larang pemerintah tempat hiburan tersebut berhenti beroperasi, lalu didirikan lah Hotel Harum Manis," ujar Syamsudin (50).
Berdiri sejak tahun 2005 dengan 3 tingkat dan 22 kamar yang dioperasikan, Hotel Harum Manis ternyata tidak bertahan lama. Salah satu yang membuat pengunjung hilang adalah pernah terjadi pembunuhan di hotel tersebut.
Kini kondisi bangunannya sangat rapuh dan kumuh. Meski demikian banyak gelandangan yang menjadikan bangunan terbengkalai tersebut menjadi tempat mereka.
Rahmad, penjaga Hotel Harum Manis dari awal berdiri menuturkan Hotel Harum Manis ini adalah milik warga negara asing yang juga pemilik hotel Chandra. "Tidak tahu mengapa hotel itu dibiarkan telantar begitu saja," katanya.
Hebatnya, ada pengunjung yang tetap berani menginap di hotel tersebut untuk beristirahat dengan kondisi hotel yang sangat tidak nyaman. Pintu Hotel Harum Manis memang dibiarkan terbuka. Para pedagang yang berjualan di pasar menjadikan hotel ini sebagai tempat buang air karena fasilitas MCK yang bisa digunakan.
Lantai-lantai hotelnya pun terlhat sudah dikapling oleh para gelandangan.Beralaskan kardus bekas dan disekat dengan sarung, mereka menjadikan bangunan ini sebagai oase dan tempat berlindung dari panas terik matahari dan dingin angin malam.
Di Banjarmasin, tempat yang juga menyerah karena sepinya pengunjung adalah wahana permainan di Plaza Ramayana. Kini tinggal bangunan gudang di tepi Sungai Martapura.
Wahana itu tutup tahun 2015 setelah pengunjung yang datang mulai berkurang. Ditengarai wahana itu kalah bersaing dengan tempat bermain di Duta Mall.
Para gelandangan menghuni lantai hotel
Selain milik swasta, bangunan milik pemerintah juga banyak yang telantar. Salah satunya adalah bangunan yang bakal dijadikan rumah dinas Walikota yang ada di Jl. Zafri Zam Zam, Banjarmasin Tengah. Sudah beberapa tahun ini bangunan itu terlihat terbengkalai.
Bangunan yang lumayan besar dengan kerangka beton ini awalnya dibangun untuk rumah dinas Walikota Banjarmasin pada masa kepemimpinan Muhiddin pada periode 2010 sampai dengan 2015. Namun proyek tersebut gagal dilanjutkan.
Di sekitar tempat tersebut juga terlihat masih banyak bahan-bahan material yang tidak terpakai karena gagalnya proyek. Secara umum, semuanya terkesan kusam dan tidak terawat.
Sempat ada rencana pada tahun 2016 lalu pemerintah Provinsi Kalsel dan Kota Banjarmasin akan bekerjasama membangun pusat informasi wisata dan kerajinan Kalimantan Selatan di situ. Tetapi hal tersebut belum terealisasi.
Desmon, penjaga kawasan proyek tersebut mengatakan tahun ini rencananya bangunan tersebut akan dibenahi. "Proyek rumah dinas Walikota tersebut akan dilanjutkan oleh Bapak Anang dari bagian pemerintahan," katanya, kemarin.
Selain meninggalkan kesan suram, bangunan-bangunan telantar di kota Banjarmasin juga menimbulkan banyak cerita mistis. Seperti sebuah bangunan di tepi jalan penghubung antara Komplek Meranti dan Komplek Simpang Gusti.
Dilihat dari luar bangunan ini hanya tampak seperti kontrakan dengan lantai dua yang kusam dan tidak terawat. Satu-satunya akses masuk adalah jalan setapak yang berada di depan kontrakan. Rumputnya tebal dan tegak. Pertanda lokasi itu jarang dijamah manusia. Cat di dinding kontrakan yang sudah mulai terkikis menambah suram.
Muhammad, salah satu tetangga dari bangunan kosong tersebut, mengatakan lampu jalan di depan kontrakan sering mati dan hidup sendiri. "Juga sering terdengar suara aneh saat tengah malam," katanya.
Kejadian ini sering terjadi pada malam hari sekitar jam sebelas hingga dua belas malam. "Biasanya saya pulang lewat sana pada jam itu,” Ucap Muhammad.(mg-ips/ran/ema)