Bertengger di pagar Jembatan 9 November, Pasar lama, segerombolan bocah bertelanjang dada terjun ke Sungai Martapura.
-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --
KEMARIN (20/6) siang, arus sungai tampak deras. Tapi anak-anak itu malah berenang ke sana kemari sambil cekikikan.
Sesekali mereka mengadang kelotok yang melintas. Kemudian bergelantungan di buritan atau sisi kiri dan kanan perahu.
Mereka baru melepaskan pegangan tangan apabila motoris sudah menegur atau memaki.
Selanjutnya, dengan susah payah mereka kembali berenang menuju kolong jembatan. Lalu memanjati tiang-tiang jembatan untuk persiapan penerjunan berikutnya.
Ketika disapa, tatapan mata mereka tampak nyalang. Rupanya penulis disangka aparat yang hendak menegur. "Abang polisi ya," tanya seorang bocah.
Namanya Dipa. Lengannya bersedekap, tampak sedang menahan dingin. Karena kelamaan berendam di air, jari-jemarinya tampak pucat dan mengkerut.
Setelah menjelaskan maksud wawancara, Dipa pun menjadi santai. Sebelum bercebur, ia sempat meminta dipotret.
Meski terlihat mengasyikkan, anak-anak ini sedang memainkan permainan berbahaya.
Pertama, melihat tingginya jembatan, apabila mendarat di atas permukaan sungai dengan posisi yang keliru, tubuh bisa mendapat cedera.
Paling fatal, tenggelam dan hanyut terbawa derasnya arus sungai.
Kedua, di buritan kelotok ada baling-baling mesin yang bisa mengoyak tubuh mereka.
Anak-anak ini mengetahui betul kedua risiko tersebut. Tapi mereka tak lantas berhenti.
Ada lima bocah yang bermain di sana. Kelimanya tinggal di Kelurahan Pasar Lama Kecamatan Banjarmasin Tengah. Mereka adalah Dipa, Sahrul, Fadhil, Ardi dan Iki.
Nama bocah yang disebut terakhir adalah yang termuda. Usianya sembilan tahun. Tapi soal nyali, bocah yang satu ini tak bisa dianggap remeh. Ia terjun ke sungai dengan gaya salto.
Salah seorang bocah lainnya, Sahrul mengungkapkan ada sensasi mengasyikkan ketika mereka menceburkan diri ke sungai dari tempat yang cukup tinggi.
"Sensasinya seperti melayang. Asyik dan bikin ketagihan," ungkap Sahrul.
Diceritakannya, mereka sudah biasa mandi di sungai. Biasanya dimulai dari jam 12 siang sampai mendekati magrib.
Selain Pasar Lama, tempat favorit lainnya adalah Jembatan Dewi di Jalan Ahmad Yani kilometer 1.
Paling ramai pada akhir pekan. Anak-anak dari kampung lain biasanya bergabung.
"Kawan-kawan saya di Sungai miai, Sungai Mesa, Masjid Jami dan Kampung Gedang juga ikut," sebutnya.
Ditanya apakah ia tak khawatir celaka, Sahrul tersenyum. "Kalau mati kan dikubur," ujarnya tergelak. Entah mengapa ia tertawa, karena jelas itu tidak lucu.
Sedangkan Fadhil, dengan bangga memperlihatkan sejumlah kulit jarinya yang koyak. Akibat nekat mengadang dan bergelantungan di badan kelotok.
"Ini luka yang sudah kering. Kalau ini bekas yang sehari sebelumnya," jelasnya.
Masih dengan pertanyaan yang sama, jawaban Fadhil lebih rasional. "Agar aman, kalau capek harus istirahat. Jangan memaksa berenang. Jangan nekat," jelasnya.
"Anak-anak di sini rata-rata pandai berenang. Jadi aman," jaminnya.
Atraksi anak-anak ini kerap ditonton warga sekitar. Salah satunya Rahman.
Ia mengaku pernah melihat perenang yang terserempet kelotok, atau terbentur sampah sungai ketika bercebur. "Yang berbahaya sampah kayu atau bambu yang mengapung di sungai," beber warga Kampung Sasirangan itu.
Rahman mengaku pernah mewanti-wanti anak-anak itu agar berenang sewajarnya saja.
"Tapi, namanya juga anak-anak... Nanti kalau sudah bosan juga berhenti sendiri," tutupnya.
Sudah Empat Kasus Tenggelam
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin mencatat, sejak Januari hingga pertengahan Juni ini, sedikitnya ada empat kasus tenggelam di Sungai Martapura.
Belum termasuk temuan-temuan jenazah yang mengapung di sungai.
"Empat kasus itu hanya laporan kecelakaan di sungai," kata anggota tim evakuasi BPBD, M Hanafi, kemarin (20/6).
Selama bekerja di BPBD, seingatnya, kebanyakan korban tenggelam adalah anak kecil. Maka ia meminta para orang tua untuk lebih tegas dalam mengawasi anaknya ketika bermain di sungai.
Diingatkannya, ketika sedang pasang, arus Sungai Martapura tak bisa diremehkan.
"Di sungai besar ada semacam pusaran air. Biasanya ini yang berbahaya. Perenang bisa tersedot," jelasnya.
Bukan hanya anak kecil, Hanafi juga meminta pekerja di sungai, contoh motoris kelotok untuk selalu mengenakan life jacket.
"Berjaga-jaga dari insiden yang tak diinginkan," pesannya. (war/fud/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin