MARTAPURA – KH Khalilurrahman atau Guru Khalil bin KH Salim Ma’ruf wafat Minggu (25/7) sekitar pukul 09.46 WITA pagi kemarin. Mantan bupati Banjar itu menghembuskan nafas terakhir di rumah pribadinya, Jalan Perwira, Desa Tanjung Rema, Kecamatan Martapura.
Kesehatan bapak 9 anak kelahiran Martapura 10 Desember 1945 tersebut memang telah menurun drastis sejak 22 Juli lalu. Dikabarkan dia sempat pingsan sejak subuh Kamis dan tidak bisa beranjak dari kasur. Kendati diberikan pertolongan oleh tim medis, kesehatan Guru Khalil tak kunjung membaik. Hingga akhirnya dia meninggal kemarin pagi.
Kesehatan Guru Khalil turun naik sejak menjabat sebagai Bupati Banjar. Dia pernah dirawat intensif cukup lama ke Surabaya tahun 2020 dan berhasil pulih. Guru Khalil beberapa kali mengalami batuk berat karena kebiasaannya merokok. Namun, selama hidup, Guru Khalil sangat pandai menyembunyikan rasa sakit. Dia dikenal pribadi yang punya semangat tinggi sehingga menolak dibilang sedang sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Banjar dr Diauddin menjelaskan, ulama yang kerap dipanggil Guru Khalil sempat tidak bangun dari tidur sejak Kamis (23/7). Sedangkan Rabu (22/7) malam masih sadar hingga tidur pada malam itu.”Mendadak subuh Kamis langsung drop dan tidak sadar. Guru tidak bisa bangun dari tempat tidur,” tutur Diauddin kepada sejumlah media di rumah duka.
Keluarga langsung memanggil dokter dan meminta diperiksa kesehatan Guru Khalil. Saat itu, Guru Khalil dibujuk supaya masuk rumah sakit, tapi ditolak. Guru Khalil lebih memilih perawatan di rumah dan dekat dengan keluarga.”Saat pingsan dan tidak sadarkan diri, kita sudah berikan rangsangan dan ada respons, namun kondisinya semakin lemah sampai akhirnya tutup usia,” tukasnya.
Sementara itu, keponakan paling disayangi oleh Guru Khalil, Haris Rifani yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjar mengaku sangat kehilangan. Ia menuturkan, hampir tiap hari selalu ada interaksi dengan Guru Khalil baik langsung atau tidak. Pertemuan lama saat Idul Adha.
“Hari raya kurban tadi, abah (panggilan khas kepada Guru Khalil, red) sangat sehat dan bugar. Kita makan bersama dan banyak bercerita,’ tutur Haris.
Namun kata Haris, Guru Khalil mulai kangen dengan orang tuanya. Menurut Haris, saat itu Guru Khalil bercerita tentang orang tua serta beberapa keluarga yang sudah mendahului. Haris yang mengaku sering mendapat cerita serupa tidak menganggap hal aneh. Ternyata, itu tanda Guru Khalil akan meninggalkan dirinya untuk selama-lama.
“Beliau sudah saya anggap orang tua sendiri, merawat saya sejak kecil. Pertemuan terakhir lalu, Abah pesan sama saya supaya banyak-banyak bersyukur,” pungkasnya.
KH Khalilurrahman adalah Bupati Banjar ke-17. Dia menjabat pada periode 2016 – 2021. Namun saat akan mencalonkan diri pada periode kedua, Guru Khalil minim dukungan partai. Karena usia, keluarga besar Guru Khalil akhirnya melarang keras dia terjun ke kancah politik. Keluarga lebih menginginkan Guru Khalil kembali ke khittahnya, sebagai guru agama dan aktif dalam kegiatan dakwah dan sosial keagamaan. Sehingga, pasca menjabat bupati, selalu hadir tiap Jumat dan kadang memimpin salat jenazah di Masjid Al Karomah Martapura.
Semenjak kabar kematian Guru Khalil menyebar, para tuan guru dan ribuan santri silih berganti datang ke rumah duka. Berulang-ulang salat jenazah dilaksanakan di rumah duka. Bupati Banjar H Saidi Mansyur ikut mensholatkan jenazah di Masjid Al Karomah Martapura. Guru Khalil langsung dikebumikan di hari yang sama, setelah Salat Asar di dekat ayahnya, Kubah KH Salim Ma’ruf, Pekauman Dalam, Kecamatan Martapura Timur.
Menggabungkan Dua Status Sekaligus, Ulama - Umara
KH Khalilurrahman adalah sosok yang sangat disegani. Namanya begitu moncer di jaringan Keluarga besar Nahdliyin. Dia aktif sejak belia ke berbagai organisasi sosial, agama, dan politik. Kariernya komplit, dari pondok, masjid sampai dipercaya sebagai legislator dan bupati Banjar.
Sejak tidak aktif di pemerintahan, Guru Khalil lebih banyak berdiam di rumahnya Jalan Perwira Martapura, rutin ke Masjid Al Karomah Martapura, sesekali mengajar ke pondok pesantren.
Sebelum menyandang status umara dengan jabatan Bupati Banjar periode 2016-2021, Guru Khalil adalah NU tulen yang sudah terkenal sebagai ulama dan pemimpin ke-9 Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Banjar selama 2 periode dari tahun 1982—1992 dan anggota DPR RI Fraksi kebangkitan Bangsa tahun 1999—2004.
Sampai hari ini, namanya masih tercatat sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) PBNU yang punya suara memilih Raim Aam PBNU. Artinya, Guru Khalil anggota 9 ulama khas PBNU yang bersama KH Maruf Amin (Jakarta), KH Nawawi Abdul Jalil (Pasuruan), Tuanku Guru Tirmudzi (NTB), KH Dimyati Rois (Jawa Tengah), KH Ali Akbar Marboen (Sumatera Utara), KH Maktum Hanan (Jawa Barat), KH Maemun Zubair (Jawa Tengah), dan KH Mas Subadar (Pasuruan).
Guru Khalil juga Darussalam tulen, karena sejak ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah diselesaikan di Darussalam dari 1962 – 1968. Karier PNS-nya dimulai sebagai guru agama Kemenag dan pengajar PP Darussalam. Selain jadi guru, ia juga terjun ke organisasi mulai menjabat sebagai Rais Syuriah NU Banjar, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Banjar, Ketua MUI Banjar.
Jejak Guru Khalil seperti mengikuti langkah ayahnya, KH Salim Ma’ruf. Jika ayahnya adalah pimpinan Darussalam ke-6, Guru Khalil juga pimpinan Darussalam ke-9 pada 2008 mengganti KH Abdussyukur yang berpulang ke rahmatullah. Khalilurrahman juga menjadi guru sejak muda seperti ayahnya sudah diberikan izin menjadi pengajar dalam usia 20 tahun.
Guru Khalil juga berdagang seperti orang tuanya. Kalau orangnya dipercaya pergi ke Pontianak dan ulama bagi keluarga Sultan Pontianak Sayyid Abdurrahman Al-Qodry. Guru Khalil cukup jauh melampaui ayahnya. Guru Khalil malang melintang ke beberapa bidang pengabdian, Mulai dakwah sampai dipercaya menjadi anggota DPRD Banjar, DPR RI, sampai jadi bupati. Karier yang begitu bersinar karena Guru Khalil didampingi oleh Hj Raudhatul Wardiyah Yang tak lain putri tuan guru besar yang bergelar Al Muhaddist yakni KH Anang Sya'rani Kampung Melayu.
Guru Khalil pernah menyatakan kepada Radar Banjarmasin, kalau sifatnya sangat mirip dengan ayahnya. “Abahku dulu itu sangat keras dan tegas. Aku merasa sangat mirip dengan abahku,” ucap Guru Khalil suatu ketika. (mam/ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin