Resah dengan mayoritas remaja di pulau tempatnya lahir buta huruf, Harmawati mendirikan sekolah pulau 25 tahun yang lalu. Kini ia menikmati masa tuanya dengan banyak penghargaan, beberapa berskala dunia.
-- Oleh: ZALYAN SHODIQIN ABDI, Batulicin
Pulau itu dekat dengan Tanah Bumbu. Namanya Pulau Burung. Kecil ukurannya. Jaraknya sekitar 20 menit pakai perahu mesin dari dermaga pusat kota. Pulau itu bisa dikelilingi jalan kaki tiga jam.
Mayoritas warganya nelayan. Tanaman buah banyak tumbuh di sana. Saat ini sedang panen durian. Tahun 90, jumlah rumah di pulau masih bisa dihitung jari. Harmawati tinggal bersama suaminya, Cunding. Tepat di tengah-tengah pulau.
Cunding kerja di perusahaan kayu, PT Kodeco. Keluarga kecil ini hidup sederhana. Layaknya warga yang tinggal di pulau kecil. Semua hal berjalan harmonis. Kecuali satu: pendidikan.
Kala itu, orang pulau yang mengenyam sekolah bisa dihitung jari. Salah satunya Harmawati, tamatan Sekolah Rakyat."Jadi dulu anak muda di sini kalau kawin pakai cap jempol. Rata-rata buta huruf, tidak bisa menulis," ceritanya kepada penulis, Selasa (21/9) petang.
Awalnya tidak terbersit keinginan membangun sekolah. Baru ketika anak keduanya masuk usia tujuh tahun, Harmawati mulai mengutarakan niatnya."Anak saya pertama sekolahnya terbengkalai. Sekolah jauh lokasinya. Dan dia sering ikut pamannya bekerja."
Anak-anak lain juga begitu. Sedikit bisa sekolah ke kota. Kalau pun sekolah biasanya putus. Ekonomi warga pulau terbatas. Pria usia sekolah dasar sudah kerja melaut bersama orang tua.
Punya cukup pengetahuan bekas di SR, Harmawati pun mengusulkan ke orang-orang. Di pulau harus ada sekolah. Biar dia yang mengajar, jadi anak-anak bisa tetap ke laut. Dirinya tidak perlu dibayar.
Ayah Harmawati termasuk yang paling awal setuju. Jika ada sekolah, cucunya tidak perlu ke seberang pulau. "Beliau yang bikin sekolah sama orang pulau," beber perempuan yang lahir 19 September 1956 ini.
Harmawati masih ingat. Tahun 1996 sekolah itu berdiri. Ukurannya tiga kali enam. Berlantai tanah, berdinding papan setengah bangunan. Atapnya hanya daun nipah. Dibangun dekat rumahnya. Namanya Sekolah Rakyat Tunas Nelayan. Diambil dari filosofi bahwa yang belajar di sana adalah anak para nelayan.
"Hampir semua anak-anak sekolah. Ada empat puluh murid pertama. Jangan bayangkan usianya tujuh tahun semua. Ada yang sudah 12 tahun," kenangnya.
Tiap hari ibu muda itu mengajar. Jika hujan mereka terpaksa berlindung. Kapur habis, suami yang belikan di kota pakai uang sendiri.
Tahun berganti. Murid-murid tambah banyak. Dibangun lagi satu sekolah. Sampai tahun ke tiga, lengkap tiga ruangan."Di sini saya kepayahan. Masuk kelas satunya, yang kelas lainnya ribut. Jadi pindah-pindah kelas. Sendiri masih soalnya."
Tapi Harmawati menikmati. Selain karena salah satu muridnya adalah anak kandung sendiri. Juga gembira, remaja sekarang sudah tidak perlu lagi cap jempol kalau mau kawin. Anak-anak sudah bisa baca tulis.
Nikah di zaman itu memang cepat. Belasan tahun sudah biasa remaja bersanding di pelaminan. Kondisi ekonomi membuat anak pria cepat jadi dewasa. Mereka kebanyakan menikah dengan keluarga sendiri. Jarang orang pulau berjodoh dengan orang luar.
Tahun ke empat, kelulusan pertama digelar. Kerja keras Harmawati mendapat pujian. Tahun 2000 an, SR itu berubah jadi SD. Guru tambahan datang ke pulau. Harmawati pun mengambil Paket B.
Sepuluh tahun mengabdi, baru kemudian Harmawati merasakan makan gaji. "Gaji pertama itu tujuh ribu lima ratus," kekehnya.
Sudah dapat gaji, ia mengembangkan kualitas mengajar. Ke kota cari-cari buku di instansi pemerintah. "Kadang dapat bantuan banyak buku. Tapi cuma sedikit yang bagus kertasnya," katanya.
Di era Bupati Zairullah Azhar, saat Tanah Bumbu mekar dari Kotabaru, pendidikan digenjot maksimal. Nama Harmawati pun mulai dikenal di pemerintah. Kiprahnya dituturkan dari mulut ke mulut. Hingga salah satu koran nasional memasukkannya dalam artikel setengah halaman.
Puncaknya di tahun 2005, Harmawati dipanggil Presiden SBY. Dia mendapat penghargaan Woman of The Year. "Itu pertama kalinya saya naik pesawat," gelaknya. Dia lantas memperlihatkan foto bersama SBY. Masih muda, parasnya ayu.
Tak lama dia kembali dapat penghargaan di tahun 2005. Satu dari seribu wanita berpengaruh di dunia versi 1000peacewomen.org, situs yang berfokus pada pemberdayaan perempuan yang menominasikan 1000 orang perempuan untuk hadiah nobel perdamaian. "Ada bukunya. Cuma dipinjam Danlanal. Belum dikembalikan."
Dari semua penghargaan itu, Harmawati dapat mengumpulkan uang Rp40 juta. Dia pun naik haji. "Kalau ditanya apa cita-cita belum sampai, ada satu. Cuma kayaknya gak mungkin ya. Mau menaikkan semua keluarga saya umrah," lirihnya.
Kini Harmawati tinggal di rumah sendiri. Suaminya meninggal 2016 silam. Dia pun sudah memilih pensiun dua tahun lalu. Kadang anaknya gantian menemaninya di rumah.
Mengisi waktu luang, Harmawati menjahit kain sasirangan. Jika siang jendela dan pintu rumahnya selalu terbuka lebar. Orang pulau biasa mendengar suara mesin jahit dan alunan musik dari radio tua dari rumahnya. Sebelum pandemi, suara radio itu lapat-lapat tenggelam oleh gelak tawa pelajar SD di halaman sekolah.(ran/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin