Dinding dan ventilasi jebol. Plafon dan lantai sama memprihatinkannya. Menjelang PTM dimulai, enam ruangan di SDN Banua Anyar 4 itu tak lagi bisa digunakan.
****
BANJARMASIN – Dari luar, kerusakan yang diderita sekolah di Jalan Benua Anyar Gang Pahlawan Perintis, Banjarmasin Timur itu memang tak tampak.
Tapi berbeda jika sudah dimasuki. Kemarin (29/9) siang, Radar Banjarmasin menyaksikan kerusakan di kelas, ruang inklusi dan ruang dewan guru.
Seolah-olah, gedung sekolah itu baru saja dilanda banjir bandang. Karena perabot seperti kursi, meja dan lemari juga rusak berserakan.
Pelaksana harian (Plh) Kepala SDN Inklusi Banua Anyar 4, Muliani menceritakan, sejak dibangun tahun 1977, bangunan sekolah itu pernah mendapat bantuan. Tapi bantuan perbaikan hanya menyentuh bagian atap.
Tahun demi tahun, kerusakan pun semakin menjadi-jadi. Puncaknya pada awal tahun tadi. Saat banjir melanda Banjarmasin, sekolah ini turut terendam.
“Sekarang, beberapa ruangan yang rusak dijadikan gudang. Sisa ruangan lain pun dikunci,” jelasnya. “Karena rusak berat, ruangan guru juga terpaksa dialihkan ke musala sekolah,” tambahnya.
SD ini memiliki 12 ruangan. Artinya, separuh gedung sekolah sudah tak bisa dipakai.
“Jadi belajar dan mengajar memaksimalkan ruangan yang tersisa. Di sini ada 105 murid,” sebut perempuan 52 tahun itu.
Mengingat pandemi dan anak-anak lama belajar daring di rumah, kerusakan sekolah ini menjadi tak terlalu diperhatikan.
Muliani sendiri melihat, menjelang PTM (Pembelajaran Tatap Muka), kerusakan itu terlalu mengganggu kegiatan pendidikan. Yang membuatnya khawatir adalah keselamatan guru dan siswanya.
“Kalau anak kelas IV atau kelas VI, mereka paham bila dilarang berlarian atau bermain di bagian ruang kelas yang rusak. Tapi, berbeda dengan anak kelas I sampai III, perlu pengawasan ekstra,” timpal guru lainnya, Norhayati.
Sekolah tentu sudah mengajukan permohonan perbaikan. Dinas Pendidikan Banjarmasin menjawab, tunggu tahun 2022.
“Semoga di tahun depan benar-benar ada perbaikan. Kalau bisa sekaligus, sampai ke toilet dan halaman sekolah,” harap guru kelas II itu.
Disdik Berharap Transfer DAK
SDN Inklusi Banua Anyar 4 tak sendirian. Kerusakan yang memprihatinkan juga tampak di bangunan SDN Sungai Bilu 3 dan SDN Kelayan 1.
Kedua sekolah itu juga sudah berulang-ulang kali mengajukan perbaikan ke pemko.
“Belum. Kami juga sudah berulang-ulang mengusulkan perbaikan,” kata Plt Kepala SDN Sungai Bilu 3, Eka Yuliwati, kemarin (29/9).
Berada di Jalan Veteran, Banjarmasin Timur, kerusakan menimpa lima ruangan. Kelas-kelas itu menderita kerusakan di bagian lantai, tembok dan plafon.
“Informasi yang diberikan Disdik, perbaikan direncanakan tahun depan. Sedangkan untuk halamannya dijanjikan pada tahun berikutnya,” tambah Eka.
Agar tetap bisa dipakai untuk belajar, sementara kerusakan itu ditambal sulam dengan menggunakan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Senada dengan Kepala SDN Kelayan Selatan 1, Said Wajidi. Sekolahnya dijanjikan akan diperbaiki pada tahun 2022. “Semoga saja bisa direalisasikan,” ujarnya.
Gedung sekolah yang beralamat di Jalan Tembus Mantuil, Banjarmasin Selatan itu menderita kerusakan di bagian plafon.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Bidang Bina SD Disdik Banjarmasin, Nuryadi membenarkan semua perbaikan gedung-gedung sekolah dasar di kota ini harus menunggu tahun depan.
“Beberapa waktu lalu (SDN Inklusi Banua Anyar 4) dikunjungi DPRD. Saat itu, ditekankan harus ada rehab total pada tahun anggaran 2022 nanti,” jelasnya kemarin.
“Dibangun ulang, tak lagi berbahan kayu. Tapi dibuat permanen dengan beton,” tambahnya.
Ditanya soal nasib SD-SD lainnya, Nuryadi menjawab, usulan sangat tergantung pada isian dapodik (data pokok pendidikan).
Dari situ akan dipilah. Renovasi total akan diakomodir DAK (Dana Alokasi Khusus, transfer dari pemerintah pusat). Sedangkan perbaikan yang sudah mendesak, cukup memakai APBD saja.
“Contoh ada sekolah yang siswanya banyak tapi kelasnya kurang,” tukasnya.
“Keadaannya begini, karena APBD terbatas, kami juga berharap pada DAK. Alhamdulillah ada sedikit. Sekitar Rp13 miliar pada tahun depan,” tutup Nuryadi. (war/fud/ema)