Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Masa Jaya Pendulangan Cempaka, Pernah Temukan Intan Bernilai 10 Triliun

izak-Indra Zakaria • 2022-07-13 12:25:49
TEMPO DOELOE: Potret masa lalu dari pendulangan intan Cempaka di Banjarbaru.
TEMPO DOELOE: Potret masa lalu dari pendulangan intan Cempaka di Banjarbaru.

SEBELUM dikenal sebagai pusat pemerintahan provinsi, Kota Banjarbaru lebih dikenal karena tambang tradisionalnya. Karena di sana ada pendulangan intan Cempaka.

Cempaka pernah menggegerkan masyarakat Indonesia pada tahun 1965 silam. Gegara penemuan intan, yang diklaim sebagai intan terbesar pada zamannya. Oleh Presiden Soekarno, ia diberi nama Intan Trisakti. Bayangkan, intan ini memiliki berat 166,75 karat! 

Menurut sejumlah cerita, Intan Trisakti ditemukan oleh sekelompok pendulang asli Cempaka. Kelompok ini diketuai Haji Masdalam, ia mengomando sekitar 40 pendulang lokal.

Berkat temuan itu, para pendulang dan keluarganya bisa berangkat haji. Berapa nilai pastinya, tak diketahui. Bahkan ada yang menaksir hingga Rp10 triliun. Sebenarnya, ada temuan lain yang lebih besar dari Intan Trisakti. Namanya Intan Putri Malu. Tapi bukan ditemukan di Cempaka, melainkan di daerah tetangga.

Ditemukan tahun 2008 di Pengaron, Kabupaten Banjar. Beratnya ditaksir mencapai 200 karat. Tapi cerita Intan Putri Malu ternyata tak bisa mengalahkan kehebohan Intan Trisakti. 

Terlepas dari cerita-cerita itu, kawasan yang paling populer di pendulangan intan Cempaka berada di Sungai Tiung.

Tepatnya di Pumpung dan Ujung Murung. Kedua daerah ini belakangan didapuk sebagai kawasan wisata.

Pada masa intan masih melimpah, nyaris semua warga Cempaka menjadi pendulang. Meski risikonya tinggi, penghasilan dari mendulang dianggap menjanjikan. Menemukan intan bak memenangkan lotere.

Dewasa ini, jumlah pendulang terus berkurang. Lantaran intan yang semakin sulit ditemukan.

Apalagi beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden menelan korban jiwa. Banyak pendulang yang tewas tertimbun longsor. Membuat penduduk berpikir dua kali untuk mendulang.

Salah seorang mantan pendulang di Pumpung adalah Mawardi. Sudah empat tahun dia tak mendulang. Alasannya sederhana, intan tak lagi bisa menjamin penghidupan keluarganya. “Sudah ampih (berhenti). Terakhir mendulang tahun 2017. Sulit sekali dapat intan, kalaupun ada, ukurannya kecil. Masih harus dibagi-bagi dengan yang lain. Jadi tak cukup memenuhi nafkah,” ujarnya yang kini beralih menjadi seorang tukang bangunan. 

Semakin tua, Mawardi juga tersadar. Mendulang sejak era 90-an, dia menilai, risikonya tak sepadan dengan keuntungannya, “Seorang rekan saya sudah tertimbun dan meninggal dunia.”

Saat pertama kali dibuka untuk umum, Cempaka pernah kebanjiran pelancong. Bahkan turis asing juga berdatangan.
Pengunjung senang karena bisa bercengkerama dengan para pendulang. Mereka bahkan terkadang diajak turun ke sungai untuk mendulang.

Dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan yang datang kemari terus berkurang. Paling banter yang datang adalah tamu pemerintahan. Atau fotografer yang sedang berburu foto.

Memang belum ada catatan resmi yang mengungkap kapan pendulangan intan di Cempaka dimulai. Tapi tak sedikit yang meyakini, pendulangan sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.

Seperti Mawardi, ia mewarisi pekerjaan mendulang dari ayahnya. Sudah turun temurun.

Cempaka mungkin telah melewati masa kejayaannya. Tapi orang-orang seperti Mawardi akan terus mengenangnya. (rvn/gr/fud)

 
 
 

 

 
Editor : izak-Indra Zakaria