Sosok KH Idham Chalid, Pahlawan Kalsel yang Muncul dalam Uang Kertas Baru
izak-Indra Zakaria• 2022-08-23 12:19:59
UANG BARU: Pecahan lima ribu rupiah yang menampilkan potret Kiai Idham Chalid semasa muda. FOTO: MUHAMMAD SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN
Menyambut 77 tahun kemerdekaan Indonesia, Bank Indonesia meluncurkan uang kertas baru. Orang Banjar boleh berbangga. Sebab, ada wajah pahlawan nasional Kalimantan Selatan di sana: KH Idham Chalid. Idham diangkat menjadi pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 113 tanggal 7 November 2011.
Tapi, tahulah pian wan sidin? Idham adalah wakil perdana menteri di era Orde Lama.
Namun, lebih dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama. Pada Muktamar NU ke-21, Idham terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU. Padahal usianya baru 34 tahun.
Idham pula Ketua Tanfidziyah NU terlama dalam sejarah. Nyaris tiga dekade, sejak tahun 1956 sampai 1984.
Kiai ini lahir di Kabupaten Tanah Bumbu pada 27 Agustus 1921. Tetapi lebih dekat dengan masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara. Mengingat Idham adalah alumni Pondok Pesantren Rakha Amuntai.
Apalagi, salah seorang anaknya, Aunul Hadi pernah menjabat Bupati HSU untuk periode 2008-2012. Radar Banjarmasin kemudian mewawancarai Ustaz Nur Hidayatullah, penulis biografi Idham yang berjudul ‘Dimensi Spiritual Negarawan Agamis’. “Beliau juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP),” kata Nur yang kini mengajar di UIN Walisongo, Semarang.
“Idham menempuh sekolah rakyat (SR) di Rakha. Semacam sekolah Arab di zaman penjajahan Belanda,” tuturnya.
“Saking cerdasnya, beliau langsung masuk kelas dua. Bahasa kerennya dapat akselerasi,” tambahnya.
Bakat berorasi dan berceramahnya sudah terlihat. “Tak heran, penceramah sohor seperti Zainuddin MZ dan Syukron Makmun pun pernah berguru kepada Kiai Idham,” ungkap Nur. Penguasaan bahasanya juga mengesankan. Idham fasih berbicara bahasa Jepang.
Tamat di Rakha, Idham melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Modern Gontor di Ponorogo (1938-1943).
Dua tahun sebelum proklamasi, Idham mulai mengajar di Gontor. Kemudian pulang kampung ke Kalimantan.
Di sini, dia mulai berpolitik. Menjadi Sekretaris Panitia Kemerdekaan Indonesia Amuntai dan Ketua Masyumi Amuntai.
Pada masa revolusi, Idham bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK) yang dipimpin Jenderal Hasan Basry dari ALRI Divisi IV.
Akibatnya, Idham ditangkap dan ditahan NICA pada 27 Maret 1949. Tuduhannya, menjadi anggota gerilyawan.
Begitu bebas, Idham memutuskan hijrah ke Jakarta. Keputusan yang sangat tepat. “Ketokohan beliau tidak di lokal, tapi nasional. Sampai berkali-kali menjadi wakil perdana menteri,” tegasnya.
Pertama dalam kabinet Ali Sastroamidjojo (24 Maret 1956-9 April 1957), kedua kabinet Djuanda (9 April 1957-9 Juli 1959), dan terakhir dalam kabinet Dwikora (22 Februari 1966-25 Juli 1966).
Beralih ke era Orde Baru, Idham masih mendapat tempat. Pada era Presiden Soeharto, dia sempat menjabat Ketua DPR, MPR dan DPA.
Saat menulis biografi tersebut, Nur meminta kutipan dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
“Kalla menyebut Idham sebagai sosok kiai moderat. Bisa diterima semua golongan. Dan hanya orang santun yang bisa begitu,” tutup pengajar di Ponpes Fadhlul Fadhlan ini. Idham meninggal dunia pada 11 Juli 2010 di Jakarta. Dimakamkan di Cisarua, Bogor.
Sementara itu, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) HSU, Almien Ashar Safari mengaku bangga dengan diabadikannya wajah Idham dalam rupiah.
“Mudah-mudahan bisa menginspirasi, khususnya bagi pemuda HSU dan umumnya bagi pemuda Kalsel untuk meniru jejak beliau,” kata Almien yang juga Ketua DPRD HSU ini. (mar/gr/fud)