Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dampak Kenaikan BBM, Dulu Sering Order Ojol, Kini Mending Beli Sendiri

izak-Indra Zakaria • Kamis, 29 September 2022 - 17:41 WIB
KURIR: Pngantar (memang tanpa huruf E), jasa kurir rintisan lokal di Kalsel turut merasakan dampak dari kenaikan harga BBM. FOTO: M RIFANI/RADAR BANJARMASIN
KURIR: Pngantar (memang tanpa huruf E), jasa kurir rintisan lokal di Kalsel turut merasakan dampak dari kenaikan harga BBM. FOTO: M RIFANI/RADAR BANJARMASIN

 Pencabutan subsidi BBM mencambuk pejuang nafkah di jalan. Pasukan ojek online merasakan betul dampaknya. Bukan hanya ojol yang bermitra dengan perusahaan raksasa. Jasa kurir dari rintisan lokal pun juga terdampak.

Salah seorang ojol Gojek di Kota Banjarbaru, Badri mengatakan, kenaikan tarif ojol kemarin tak banyak mengubah keadaan. “Sama saja pembagiannya seperti biasa. Jadi beban bensin makin besar, sedangkan pemasukan segitu-segitu saja. Bahkan orderan cenderung sepi,” kata warga Sungai Besar ini. 

Menjadi ojol sejak dua tahun terakhir, ayah dua anak ini mengakui, dibanding awal pagebluk covid, kondisi kemarin memang lebih kelam.

“Pemesan juga agak berkurang. Mungkin orang juga masing-masing berhemat. Apalagi penjual (makanan) juga ada yang menaikkan harganya,” bebernya.

Beralih ke merek sebelah, mitra Grab, Kurniadi juga menyampaikan keluhan serupa. “Pembagian keuntungannya (dengan aplikasi) masih sama saja,” katanya.

Untuk tren orderan, memang ada penurunan, “Dulu normalnya sehari bisa sampai 20 orderan makanan, nah sekarang di bawah itu, paling belasan.”

Rizki Aripani, owner Pngantar yang merupakan jasa kurir lokal asli Banua, juga terbebani. Sebab pihaknya memberi uang bensin dan makan untuk kurirnya.

“Awalnya ada anggaran Rp10 ribu per hari untuk subsidi uang transportasi kurir. Setelah kenaikan harga BBM, kami naikkan jadi Rp15 ribu. Itu belum terhitung uang makan harian,” ceritanya.

Rizki merasa tak tega untuk menyunat anggaran transportasi mitra kurirnya. Kalau dihitung, kenaikan BBM menambah beban usahanya hingga 35 persen.

Terlebih, mitra tenant juga mengeluhkan sepinya penjualan. “Ada beberapa penjual yang cerita kalau orderan agak berkurang. Mereka juga terpaksa menaikkan harga untuk menutupi dampak kenaikan BBM,” jelasnya.

Dari sisi pemilik usaha kuliner yang bermitra dengan ojol, mereka menyoroti tentang ketiadaan kebijakan dari aplikasi untuk menyikapi kondisi ekonomi ini. 

“Tetap saja ada biaya aplikasi seperti biasa, kalau semisal kami jual harga normal Rp10 ribu, di aplikasi kan jadi Rp13 ribu. Itu tidak berubah. Sedangkan harga bahan baku melambung,” kata Nina, salah seorang pengusaha kuliner di Banjarbaru.

Contoh harga beras. “Saya kan jualan ayam geprek, nah berasnya yang naik. Kalau kami menaikkan harga menu, takutnya pelanggan kabur,” curhatnya.

Tak jauh berbeda dengan Nina, pengusaha gorengan. Dia merasa pembeli mulai agak berhemat.

“Saya ada beberapa pelanggan, biasanya hampir tiap hari order. Sekarang agak berkurang, paling sepekan dua kali. Ya mereka bilang lagi berhemat juga karena masalah bensin,” katanya.

Sedangkan pembeli, banyak yang mengaku tengah berhemat menggunakan jasa ojol atau kurir makanan. Terkhusus konsumen dari kelas menengah.

“Sekarang berpikir untuk lebih hemat. Kalau dulu sewaktu bensin belum naik, masih bisa malas-malasan minta kurir mengantar. Kalau sekarang mending beli sendiri,” kata Andre, mahasiswa di Banjarbaru.

Menurut Andre, kurir hanya dipanggil ketika sudah kepepet. “Semisal hujan deras, lagi sakit atau tengah malam,” sebutnya.

Lalu Ainah, ibu rumah tangga asal Cempaka ini juga mulai menahan nafsu belanjanya. Padahal ketika BBM belum naik, ia mengaku begitu candu dengan jasa kurir makanan.

“Paling sering tengah malam, kadang pengin nyemil ini itu. Nah kan order biasanya lewat kurir. Kalau sekarang jujur agak harus berhemat,” tambahnya.

Kondisi ini makin diperparah dengan pengeluaran usaha suaminya yang membengkak. Lantaran suaminya bekerja sebagai sopir travel.

“Usaha suami saya terdampak sekali. Makanya saya di rumah harus berhemat. Ini belum lagi bahan baku dapur serba naik,” gerutunya.

Di tengah ramai dan panasnya unjuk rasa ojol di Jawa, ojol di Banjarmasin memilih menahan diri.

Perwakilan perkumpulan ojol di Banjarmasin, Muslim mengaku tahu diri. “Aspirasi kami sudah diwakilkan di sana (di pusat),” ujarnya kemarin (27/9).

Walaupun jumlah mitra ojol di Kalsel sebenarnya mencapai ribuan. “Sementara belum (ada demo). Menunggu di Jakarta saja,” tambahnya.

Tak berdemo, bukan berarti mereka menerima keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi BBM dengan legawa.

Diceritakan Muslim, wara-wiri dalam sehari ia memerlukan bensin 20 sampai 25 liter. “Sekarang biaya operasional sehari setara dengan pengeluaran 30-35 liter,” bebernya.

Masalahnya, jumlah pelanggan tak seramai sebelum kenaikan harga BBM. “Biasanya sampai sore dapat saja delapan orderan go ride. Sekarang paling banyak dapat empat saja,” keluhnya.

Dia meyakini, sepinya orderan akibat masyarakat tengah beririt. Biaya hidup meningkat, sedangkan daya beli melemah.

“Kenaikan harga sudah menyasar kebutuhan pokok masyarakat. Akhirnya orderan menurun,” sebut Muslim.

Pada 11 September lalu, Kementerian Perhubungan mengumumkan kenaikan tarif batas atas dan bawah ojol. Ini demi mengimbangi kenaikan harga Pertalite dan Pertamax. Namun banyak ojol yang mengkritik, kenaikan tarif itu sebenarnya hanya dinikmati aplikasi.

Beralih pada Yusuf, ojol yang kerap mangkal di sebuah rumah makan di kawasan Banjarmasin Utara ini mengungkap, orderan kini hanya ramai pada akhir pekan. “Sampai siang ini saya baru dapat dua,” sebutnya.

Yusuf membandingkan dengan kondisi sebelum harga BBM dinaikkan, sampai siang ia bisa menerima lima orderan. Tak kenal hari kerja atau akhir pekan.

“Belum lagi membeli Pertalite semakin susah, ngantre panjang. Mau beli di pinggiran jalan (pengecer), harganya mahal, sampai Rp12 ribu per liter,” tuturnya. (rvn/mof/gr/fud)

 
 
Editor : izak-Indra Zakaria