Nasib Taksi Speed Boat Marabahan-Kuripan Kini Semakin Sepi Penumpang
izak-Indra Zakaria• 2022-10-07 09:09:48
MENUNGGU PENUMPANG: Dermaga taksi speed boat di Pasar Marabahan, Kabupaten Barito Kuala. Sekarang, dalam sehari hanya ada satu kapal yang berangkat dari sini. FOTO: MUBARAK/RADAR BANJARMASIN
Hidup segan mati tak mau. Begitulah kondisi taksi speed boat rute Marabahan-Kuripan di Kabupaten Barito Kuala.
Tarifnya terus naik, semakin mahal. Sementara jumlah trayeknya sudah berkurang. Otomatis, penumpangnya pun berkurang.
Selain jalan darat yang kian mulus, kenaikan harga BBM juga menjadi salah satu sebab.
Perihal kenaikan tarif, dari Dermaga Pasar Marabahan menuju Kecamatan Kuripan, rata-rata sudah naik Rp20 ribu.
Berlaku sejak tanggal 5 September lalu. Hanya beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan pencabutan subsidi BBM.
Rinciannya, tarif dari Marabahan menuju Jambu Baru sebesar Rp80 ribu. Sebelumnya Rp60 ribu per lembar tiket.
Sekarang paling murah adalah menuju Palingkau, tarifnya Rp60 ribu. Lalu menuju Desa Balukung, Rp70 ribu per lembar tiket.
Paling menguras kantong adalah menuju Desa Tambatan Baru, tiketnya Rp100 ribu. Sedangkan ke Tambatan Murung Rp110 ribu dan ke Desa Sungai Sawang Rp90 ribu.
Penumpang yang mengeluh kemahalan, akhirnya lebih memilih naik sepeda motor.
Yang bertahan menggunakan jasa perahu motor ini hanya kaum ibu. Banyak dari mereka yang masih menggendong anak. Mengutamakan kenyamanan walaupun harga tiketnya mahal.
Kondisi ini diakui Haji Mawan. Dia motoris taksi speed boat yang kesulitan mencari penumpang.
Apalagi dirinya mendapat jatah trayek keberangkatan kedua. Menunggu speed boat pertama berangkat, baru gilirannya.
Tak jarang ia berangkat tanpa penumpang. Hanya membawa beberapa barang titipan warga. “Pelanggan semakin sepi, sementara tarifnya sudah naik,” ujarnya kemarin (5/10). Keresahan ini sedikit berkurang sepekan terakhir. Motoris yang biasa berangkat pagi, bersedia berbagi penumpang dengan motoris siang.
Artinya, trayeknya berkurang. Dalam sehari, tidak lagi dua kapal yang berangkat. Hanya satu. “Jadi sekarang dalam sehari hanya ada satu speed boat yang berangkat. Alhamdulillah penumpang bisa full,” ungkapnya.
Berangkat bergantian dengan penumpang penuh dirasa lebih realistis. “Karena cuma satu kapal yang berangkat, jadi penumpang malah takut ketinggalan. Malam-malam sudah ada yang booking,” tambahnya.
Mawan juga tak menampik dampak dari inflasi dan melemahnya daya beli masyarakat. Sebagai gambaran, mendekati pertengahan dan akhir bulan, jumlah penumpang akan menurun drastis.
Warga Marabahan berpikir ulang kalau hendak bepergian menuju Kuripan. Kalau dirasa kurang penting, mending dibatalkan.
Ditanya mengapa ia masih bertahan dengan usaha ini, sebab penumpangnya masih ada. Walau tak seramai dulu. “Namanya juga usaha. Ada untung ada rugi. Rugi kalau tak menutup ongkos BBM yang sekali berangkat perlu Rp2,5 juta,” sebutnya.
Salah seorang warga Kuripan, Udin mengakui, speed boat kini menjadi pilihan kedua. Sepeda motor kini menjadi pilihan pertama. “Bedanya cuma lebih lelah. Tidak bisa duduk santai seperti di speed boat,” ujarnya.
Berbeda dengan Alisa, warga Rimbun Tulang ini tetap setia dengan speed boat.
“Sebab tidak setiap hari saya harus pulang ke Kuripan. Jadi tidak terlalu membebani,” ujarnya. Dia juga bisa memaklumi mengapa harga karcis speed boat itu dinaikkan. (bar/by/fud)